D E L A P A N B E L AS

546 63 39
                                        

Heyyo gais!
Alangkah baiknya sebelum membaca kita klik dulu si bintang mungil di pojok sana. Dan yang lebih baik lagi kalian tulis komentar kalian di kolom komentar ya. Itu salah satu cara kita untuk menghargai karya orang lain loh..
Hal kecil yang kalian lakuin ini sangat memotivasi orang lain termasuk aku😍

Happy Reading!!

***

James dan antek-anteknya sedang berkumpul di basecamp mereka. Karena James yang di skors, para antek-anteknya pun ikut membolos. Sangat setia kawan bukan?

Meski telah mendapatkan hukuman, tidak membuat James jera. Dendam yang ada di hatinya justru kian membara. Tekad untuk menghancurkan Alrich dan Keynara pun semakin kuat.

"Tugas yang gue kasih ke lo udah lo lakuin dengan baik, Bram?" tanya James.

"Udah bos, tenang aja kalo ada gue semuanya beres," jawab Bram sambil terkekeh.

James tersenyum puas, "Lo emang selalu bisa diandelin."

Kalau dengan menyerang Alrich tidak bisa membuat cowok itu goyah, lalu bagaimana jika sekarang targetnya adalah Keynara? James tersenyum licik, begitu ia tahu tentang hubungan Alrich dan Keynara ia segera mengubah tak-tiknya. Dengan menghancurkan Keynara berarti akan membuat Alrich juga hancur dengan sendirinya bukan? Satu tepuk, dua nyamuk mati sekaligus.

"Lo yakin bos bakal tetep ngelakuin itu ke Nara?" tanya Raka. Pasalnya sebenarnya ia sendiri tidak tega melakukan itu pada gadis seperti Keynara.

James melirik Raka tajam. Ia tidak suka jika ada orang yang meragukannya. "Kenapa? Kalo lo ga mau tinggal keluar dari sini, simple kan?"

"Bu-bukan gitu bos, gue cuma ga tega aja."

"Udah ikutin aja maunya bos, lo mau tulang-tulang lo di patahin?" bisik Vano pada Raka.

"Gue tadi cuma nanya bangke!" dengus Raka.

James mengabaikan Raka dan Vano, ia terlampau bersemangat untuk melakukan misi barunya. Kali ini ia harus berhasil.

"Selamat menikmati tikus manis."

***

"Anjir! Si item imposnya Kev. Lo tuh gimana sih malah ninggalin gue, di kill kan gue jadinya," sungut Kenzo menggebu-gebu saat bermain game fitnah-memfitnah yang sedang marak dimainkan saat ini.

Alrich berulang kali menghela nafasnya kasar melihat si kembar bobrok yang sedari tadi terus mengoceh tak jelas. Ia sangat butuh ketenangan saat ini, namun kedua sahabatnya yang sangat useless itu justru terus membuatnya selalu mengumpat kasar dalam hatinya.

"Berisik banget sih lo bedua. Main game kentank gitu doang udah kek apa aja," dengus Alrich yang melihat Kenzo dan Kevin yang masih saja memperdebatkan tentang game itu.

"Ya, apa sih, Al? Lo tuh dari pada ngomel-ngomel mulu mending ikutan main, dan rasakan sensasinya," Kenzo melirik Alrich sekilas lalu kembali terfokus pada ponselnya. "Seperti anda menjadi ironman."

"Idih bego lu!" umpat Kevin pada kembarannya itu.

Ingin sekali Alrich melayangkan kepalannya ke mulut Kenzo yang tidak tahu diri itu. Untung saja akal sehatnya masih bekerja dengan sangat baik, tidak seperti Kenzo.

"Lo berdua bisa ga sih serius dulu? Gue ajak lo berdua kesini buat bantu cari jalan keluar masalah Nara, bukan buat ngelakuin hal yang gak guna kek gitu," Alrich menggeram kesal lalu meninggalkan si kembar yang masih terdiam di Kantin.

HILANG [Segera Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang