Happy Reading!!
***
Hari ini menjadi hari yang paling menegangkan bagi Nara. Ia akan menghadapi olimpiade tingkat internasional. Bersanding dengan lawan-lawannya yang sudah pasti memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi membuat Nara kembali di landa rasa gelisah.
"Gausah panik juga kali," kekeh James.
Nara melirik tajam cowok di sampingnya itu. Ia menyesal telah meminta James untuk menemaninya di ruang tunggu. Tadi ia pikir jika ada James maka akan mengurangi rasa nervousnya karena ada teman mengobrol. Tapi apa? Sekarang cowok menyebalkan itu justru meledeknya.
"Dasar cowok gaada akhlak!"
"Gausah panik, lo harus percaya diri. Lo harus fokus, inget aja orang-orang yang selalu ngesupport lo dan menaruh harapan besar sama lo. Itu bakal nambah energi positif buat lo. Kalau lo terus-terusan mikirin lawan lo yang ada lo pesimis dan jadi ga fokus. Lo makin nervous," ucap James berusaha menyemangati Nara.
Nara tertegun dengan ucapan James. Tapi kalau di pikir-pikir apa yang di ucapkan James memang benar. Mungkin itu bisa mengurangi rasa gugupnya.
"Tumben bijak," kekeh Nara.
"Tampang gue terlalu brengsek ya?"
Nara meninju bahu James pelan. "Iya, brengsek banget."
"Tapi boong!" Nara terbahak, seolah lawakannya sangat lucu. James hanya menatap datar gadis kaku yang sekarang menjadi sangat receh.
"Ha.. Ha.. Ha.. Lucu banget!" James tertawa tanpa ekspresi a.k.a garing.
"Mending lo gausah ketawa sekalian deh," dengus Nara.
"Panggilan kepada seluruh peserta olimpiade harap memasuki ruangan ujian. karena lomba akan segera di mulai."
"Tuh masuk sana lo kelamaan hahahihi gila ntar," usir James sambil mendong bahu Nara.
"Ye selo dong!"
Ting!
Alyang💜
Semangat ya Ya lombanya. Do your the best! We so proud of you:*
*Send a pict*
Nara tersenyum mendapat pesan dari Alrich. Ia juga sangat senang sekaligus jadi rindu begitu melihat foto yang Alrich kirimkan. Sahabat-sahabatnya terlihat bahagia dengan pose memberi semangat untuk dirinya. Semangatnya bertambah dua kali lipat sekarang. Rasa kesalnya pada cowok itu seakan telah luntur. Baru hendak membalas pesan itu, James lebih dulu merebut ponselnya.
"Udah mau mulai, fokus dulu sama lomba lo!" ucap James.
"Ponsel gue?"
"Gue sita dulu sementara," jawab James enteng.
Nara menghentakkan kakinya lalu segera memasuki ruangan ujian. James terkekeh, lalu tiba-tiba memiliki ide briliant.
Jarinya menari-nari diatas ponsel Nara. Lalu tersenyum puas ketika selesai dengan aktivitasnya.
***
Kenzo, Kevin, Bianca dan Zia refleks menghentikan tawanya begitu mendengar Alrich tiba-tiba mengumpat.
"Ngagetin aja lo semprul!" dengus Kenzo.
"Kenapa sih Al?" tanya Kevin.
"Si brengsek itu masa yang bales pesan gue buat Nara," geram Alrich.
KAMU SEDANG MEMBACA
HILANG [Segera Terbit]
Teen FictionBUDAYAKAN FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA:) (Completed) "Tuhan mengizinkan kita untuk merasakan luka, tetapi Ia juga akan memberikan penawarnya." Ada pada ketidakadaan. Sepi di tengah keramaian. Bagaimana jika kita di tempatkan dalam keadaan tersebut? T...
![HILANG [Segera Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/233017588-64-k469491.jpg)