D U A

1.3K 144 58
                                        

Disini lah, Keynara sekarang. Di dalam kamar yang menjadi saksi bisu hidupnya. Yang selalu menemaninya kala menangis di sepanjang malam, dan selalu memeluk nya saat rasa takut menghantui. Hampa dan Kesunyian lah yang menjadi pelengkapnya. Dulu ia adalah gadis kecil yang sangat ceria, selalu mengumbar tawa dimana - mana. Namun, semua itu berubah semenjak kelahiran adik kandungnya, Claudia Irensia. Adik semata wayangnya itu menderita kelainan pada jantung nya sejak lahir. Hal ini membuat kedua orang tua nya menjadi sangat ekstra menjaga putri bungsu nya dan secara tidak sadar mengabaikan Keynara. Saat itu Keynara masih berusia 5 tahun, namun pada usia yang sangat belia itu ia di tuntut untuk menjadi anak yang mandiri lantaran kehilangan kasih sayang orang tuanya.

"Kak Nara," panggil Irene yang membuat Keynara tersadar dari lamunannya.

"Eh, iya. Kenapa, Iren?" meski semua yang telah terjadi, Nara sama sekali tidak pernah membenci Iren. Rasa sayang nya lebih besar dibandingkan dengan luka di hatinya.

"Ehe.. Maaf ya, Kak. Tadi Iren langsung masuk aja, soalnya Iren ketuk pintunya dari tadi ga di buka-buka. Iren pikir Kak Nara tidur," tutur Iren.

"Iya, gapapa Iren. Emang kamu mau ngapain ke kamar Kakak?" tanya Nara.

"Oh, iya. Irene sampe lupa kan. Itu disuruh turun ke bawah, Kak kita makan bareng,"
Keynara tersenyum miris dalam hatinya. Ya, benar makan bersama, namun hanya untuk tiga anggota keluarga saja. Mama, Papa, dan Iren. Kehadiran Keynara benar-benar tidak dianggap disana. Begitulah kenyataannya, dan Nara sudah kebal di perlakukan seperti itu.

"Ayok, Kak kok malah bengong?" ucap Iren sembari menggandeng tangan sang Kakak menuju meja makan.

Iren selalu menduduki kursi diantara Mama dan Papa nya, sedangkan Nara duduk bersebrangan dengan mereka. Sendiri.

"Sayang, kamu kok lama banget. Mau makan pake lauk apa? Biar mama ambilin," ucap Agatha, sang Mama penuh perhatian.

"Hm.. Pake cumi aja deh, Ma," jawab Iren.

"Irene, tadi Papa dapet telpon dari Pak Bambang katanya kamu maksa ikut jam olahraga ya?" tanya Bagas.

"Apa?! Astaga, Iren. Kok kamu nekat sih, Sayang? Kan Mama sama Papa selalu bilang kalo kamu itu ga boleh kecapean, Nak."

Iren menghela nafas, orang tua nya selalu over protect terhadap dirinya.
"Ma, Pa. Tadi Irene itu cuma pengen ikut main sama temen-temen abisnya di kelas bosen. Lagi pula cuma main badminton kok, itupun sebentar jadi ga akan kecapean. Mama sama Papa tenang aja, ya," jelas Iren.

Bolehkah Nara merasa iri melihat perlakuan orang tuanya pada adiknya itu? Berada lama-lama di ruangan itu membuat dadanya semakin sesak saja. Akhirnya ia menyelesaikan makannya dan beranjak ke kamar.

"Loh, Kak Nara mau kemana?" tanya Iren yang melihat kepergian Kakaknya.

"Udah, biarin aja. Kamu lanjut makan aja ya, Sayang," ucap Agatha.

Damn it.

Nara semakin tak kuasa mendengar ucapan Mamanya, orang tuanya benar-benar tidak memperdulikannya. Ia segera berlari ke kamar untuk menumpahkan tangisnya. Meraung di gelapnya malam, ia tak sanggup menahan luka di hatinya. Mengapa selalu begini? Tak bisakah orang tuanya melirik nya walau hanya sedikit saja? Ia tak meminta lebih, cukup menganggap ada keberadaannya. Segala cara telah Nara lakukan untuk mendapatkan perhatian orang tuanya. Bahkan segudang prestasi yang diraih nya juga tidak pernah di pandang oleh orang tuanya. Inilah salah satu kebiasaan Nara, menangis hingga tak sadar terlelap, lelah menanggung derita yang ia alami.

***

"Bjir. Nih rumah gede amat. Si Alrich niat bener ngerenovasi rumah. Tombol bell nya mana yak?" gumam Kenzo takjub. Meski juga berasal dari keluarga kalangan atas, tetap saja rumah Alrich memang lebih mewah dari pada rumahnya.

HILANG [Segera Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang