"Jatuh bangun, hidup mati, tertawa atau menangis? Itu semua kita yang tentukan. Memang benar, Tuhan adalah yang berkuasa atas takdir kita. Namun masing-masing dari kita punya tanggung jawab untuk mengupayakan hidup kita sendiri. Jangan mau di perbudak dengan keadaan. Terus berjuang dan jangan lupa memohon pertolongan kepada sang pemilik kehidupan."
Happy Reading!!
***
Nara tak henti-hentinya mengembangkan senyum sejak menginjakkan kaki di Bandara international Soekarno Hatta. Sebentar lagi ia akan melepas rindu dengan sahabat-sahabatnya, juga dengan dia. Ah, Nara sangat merindukan Alrich. Nara tidak paham dengan dirinya, sejak kapan ia mulai menjadi gadis baperan seperti ini?
"Udah mulai gila lo?" sinis James.
Nara melirik tajam ke arah James. "Apa sih, lo? Sirik aja!"
"Akhirnya gue terlepas dari lo yang sangat membebankan itu," ucap James dengan penekanan di setiap katanya.
Nara berdecih pelan. "Maaf, ya sebelumnya. Bukannya lo yang maksa buat nganterin gue?"
James di buat terdiam oleh kalimat yang keluar dari mulut Nara. Sederhana memang, tapi sangat menusuk. Ingin membantah namun memang kenyataannya ia yang memaksa untuk mengantarkan gadis itu.
"Kok Bu Anggin ga jadi jemput ya?" ujar James mengalihkan pembicaraan.
"Mana saya tau. Saya kan ikan," jawab Nara sambil mengedikkan bahunya. Lalu berjalan mendahului James.
"Argghh dasar cewe sinting!" dengus James.
"Gue denger James."
"Bodo amat!"
Nara terkekeh meskipun sedikit kasar, tapi ia sekarang bisa lebih mengenal sisi lain dari seorang James. Dia tidak sepenuhnya jahat. Bisa saja semua itu dia lakukan untuk pelampiasan dari masalahnya kan?
"Buruan James! Taxinya udah nyampe nih. Lo tuh sekarang jalannya kek keong deh," teriak Nara saat melihat James berada jauh di belakangnya. Padahal ia ingin segera pulang ke rumah, memberikan kabar bahagia kepada keluarganya. Tunggu, untuk apa ia memberitahukannya? Lagipula seperti biasanya, mereka tidak akan peduli.
"Bawel banget lo nenek lampir!" gerutu James saat sampai di samping Nara.
"Woi nenek lampir!"
Teriakan dari James membuat Nara kembali tersadar dari lamunannya. Dan suara James yang merdu itu membuat telinga Nara berdenging.
"Gausah teriak-teriak bisa kan? Lu pikir gue budek apa?"
"Emang budek." James lebih dulu masuk ke dalam mobil ia malas berdebat panjang dengan Keynara yang menyebalkan itu.
Merasa di abaikan membuat Nara bertambah kesal. Ia segera masuk ke dalam taxi.
"Maksud lo apa tadi bilang gue budek?" tanya Nara sambil menatap tajam ke arah James.
"Dih, kenapa sekarang jadi galakan elu sih? Udah deh mendingan lo diem! Sakit kuping gue."
Nara memilih diam, ia memang malas menanggapi James. Membuat kepalanya semakin sakit saja. Ia tak sengaja tertidur selama perjalanan menuju rumahnya. Dan sialnya lelaki di sampingnya itu membangunkan Nara dengan sangat tidak berakhlak. Jika orang lain mungkin akan lebih hati-hati dan lembut. Lain dengan James, ia justru berteriak dan mengguncang bahu Nara dengan sangat kencang.
KAMU SEDANG MEMBACA
HILANG [Segera Terbit]
Fiksi RemajaBUDAYAKAN FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA:) (Completed) "Tuhan mengizinkan kita untuk merasakan luka, tetapi Ia juga akan memberikan penawarnya." Ada pada ketidakadaan. Sepi di tengah keramaian. Bagaimana jika kita di tempatkan dalam keadaan tersebut? T...
![HILANG [Segera Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/233017588-64-k469491.jpg)