Halo gais!!
Jan lupa bahagia hari 👉👈
Sesuai permintaan kalian semua, jeje usahain cepet update loh ya...
Yuk langsung baca nih, jan lupa kasih vote + komen sebanyak-banyaknya ya!!!
Kalau bisa jebolin aja tuh keyboard kalian hehe:v
Hujatin juga gapapa deh, julidin juga hayukk..
Happy Reading!!
***
Nara bersyukur meski apa yang telah papanya lakukan, ia masih di perbolehkan untuk mengunjungi panti. Nara ingin sekali agar Alrich menemaninya, namun apa daya papanya melarang keras dirinya untuk bertemu dengan cowok itu.
"Eh, Nara. Maaf ya, ibu tadi lagi ngurusin Alya dia lagi demam," tutur Bu Andin.
"Alya sakit Bu?" tanya Nara khawatir. Pasalnya Alya adalah salah satu anak yang ceria, kalaupun ia demam pasti ada yang sedang ia pikirkan. Nara sangat paham mengenai Alya.
"Nara boleh jenguk Alya?" sambungnya.
"Boleh dong Nak, kamu kan kakaknya," jawab bu Andin seraya menghantarkan Nara ke kamar Alya.
Begitu sampai di kamar Alya, Nara bisa melihat dengan jelas raut pucat gadis kecil itu. Keceriaan yang biasanya ia tampilkan kini pun seketika hilang di balik wajah pucatnya.
"Ibu tinggal kedepan dulu mau mengecek keadaan adik-adik kamu yang lainnya dulu ya," pamit bu Andin lalu meninggalkan bilik Alya.
Gadis kecil itu perlahan membuka matanya ketika merasakannsentuhan kecil di keningnya.
"Kak Nara," lirih Alya seraya bangkit dari tidurnya.
"Pelan-pelan ya Aya," peringat Nara lalu membantu anak itu untuk duduk.
"Kak Nara abis nangis ya?" tanya Alya yang menyadari mata sembab milik Nara.
Mendengar pertanyaan gadis kecil di hadapannya ini, Nara segera melukiskan lengkung sabitnya, seolah mengatakan semuanya baik-baik saja.
"Engga kok, ini tadi kelilipan aja di jalan soalnya Kak Nara naik ojek tadi hehe. Oh, iya Aya kok bisa sampe demam hm? Apa yang lagi Aya pikirin coba cerita ke Kak Nara," ucap Nara sambil membelai lembut rambut milik Aya.
"Tadi Aya ga sengaja nabrak orang pas lagi main, masih seumuran Aya kok yang Aya tabrak. Terus Aya langsung tolongin anak itu, Aya juga udah minta maaf. Tapi.." ucap Aya menggantung ucapannya. Ia ragu untuk melanjutkan cerita itu.
"Tapi apa Aya? Ayo cerita aja sama Kak Nara, jangan takut ya," tutur Nara yang paham sekali akan keraguan Aya.
"Tap-tapi tiba-tiba kuping Aya di jewer sama ibunya anak itu tadi Kak. Terus ibu utu bilang kalo Aya anak nakal, orangtua Aya pasti nyesel udah ngelahirin Aya."
"Apa bener ya yang di ucapin Ibu itu? Apa orangtua Aya benci sama Aya?" sabungnya.
Nara seperti melihat dirinya di masa lalu. Ia bisa mengerti apa yang Aya rasakan sekarang. Keadaan mereka sebenarnya sama, hanya bedanya Aya memang tidak merasakan kasih sayang orangtua sejak ia lahir. Dan Nara kehilangan kasih sayang itu, ada namun dianggap tiada.
Nara segera memeluk Aya erat, mengelus punggungnya lembut memberikan ketenangan disana.
"Aya gaboleh ya berpikir seperti itu. Orangtua Aya itu gapernah kok benci sama Aya. Mungkun Ibu tadi itu ga sengaja ngomong seperti itu karna lagi emosi aja. Orang dewasa itu biasanya kalau lagi emosi suka ga sadar sama apa yang dia omongin," jelas Nara.
KAMU SEDANG MEMBACA
HILANG [Segera Terbit]
Teen FictionBUDAYAKAN FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA:) (Completed) "Tuhan mengizinkan kita untuk merasakan luka, tetapi Ia juga akan memberikan penawarnya." Ada pada ketidakadaan. Sepi di tengah keramaian. Bagaimana jika kita di tempatkan dalam keadaan tersebut? T...
![HILANG [Segera Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/233017588-64-k469491.jpg)