S E M B I L A N B E L A S

518 49 10
                                        

"Mencoba meyakinkan diri untuk membuka hati. Kuharap esok tidak ada yang mengkhianati."

- Keynara Angeline -

Happy Reading!!

***

"Key!"

"ENGGAK!" pekik Nara. Dadanya terus naik turun dengan napas tak beraturan. Ternyata semua hanya ilusinya saja, ia tidak bisa membayangkan kalau ia benar-benar melakukan itu. Ia akan melakukan dosa besar dengan mengakhiri hidupnya.

Alrich yang baru saja memasuki kamar Nara dibuat bingung dengan keadaan gadis itu. "Kamu kenapa? Aku perhatiin dari tadi ngelamun terus, mikirin apa hm?"

Nara menghela napasnya kasar, menatap kosong kedepan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Alrich.
"Bunuh diri."

"Ma-maksud kamu?" tanya Alrich sedikit terkejut dengan jawaban Nara.

"Aku capek, Al. Tuhan emang ga adil, semesta terus aja membuat aku semakin terpuruk. Aku benci jadil lemah kek gini," tutur Nara sambil terisak.

Alrich trenyuh mendengar ucapan Nara, seolah dapat merasakan penderitaannya. Alrich menggenggam tangan Nara erat, menyalurkan kekuatan dalam hangatnya genggaman itu.

"Aku kan udah bilang dari awal Key. Tell me now, everything you want. Satu hal yang perlu kamu tau, kamu ga sendiri. Aku akan selalu ada buat kamu," ucap Alrich meyakinkan Nara

Nara termenung beberapa saat, bergelut dengan ego dan hatinya. Apakah ini saat yang tepat untuk menceritakan semuanya pada Alrich? Egonya mengatakan tidak. Namun hatinya sudah lelah menanggung semua ini sendirian. Ia membutuhkan bahu untuk bersandar, telinga untuk mendengarkan segala keluh kesahnya. Ia juga membutuhkan sosok yang mampu menopang dirinya kala badai menerpa.

Nara menghembuskan napas panjang. Saat ini ia mengesampingkan egonya dan memilih apa kata hatinya. Lagi pula selama ini memang hanya Alrich bukan yang selalu ada untuknya, cowok itu benar-benar menepati perkataannya.

"Aku harus cerita dari mana, Al? Hampir seluruh masa hidupku adalah penderitaan."

"Kalo gitu ceritain semua. Today is yours," jawab Alrich dengan lengkung sabitnya.

Nara menarik napasnya dalam-dalam. Mengumpulkan berjoule-joule energi untuk mengungkap semua lukanya. Hari ini seluruhnya ia percayakan pada lelaki di yang duduk di hadapannya ini.

"Aku yang dulu adalah sosok yang ceria, selalu membawa kebahagiaan untuk orang disekelilingnya. Mama sama Paoa selalu mencurahkan kasih sayangnya ke aku, itu yang membuat aku jadi anak yang periang. Tapi semenjak Iren, adik aku lahir semuanya berubah," Nara terdiam sebentar, menahan isaknya.

Alrich terus mengusap punggung gadis itu. Ia tahu betul apa yang dirasakan Nara saat ini, pasti sangat sakit.

"Kalo kamu emang ga kuat nyeritainnya gapapa, Key. Aku paham kok."

Nara menggeleng kuat, ia sudah di tengah perjalanan. Jadi, biarkan saja ia menyelesaikannya.

"Aku sadar mungkin karna kondisi Iren yang lebih butuh perhatian mereka membuat orang tua aku lebih fokus sama Iren. Dan aku bersyukur meski begitu, walaupun mereka hanya memberikan perhatian kecil sesekali. Sampe pada waktu itu, Mama lagi pergi ke toilet dan aku disuruh jagain Iren. Ga lama dari itu ada yang ketuk pintu, dan aku langsung ngebukain pintu itu. Begitu aku balik ke ruang tamu, Iren udah jatoh dari sofa dan saat itu juga mama kembali dari toilet. Sejak kejadian itu mama bener-bener benci sama aku. Bahkan aku sempet di kurung digudang yang gelap, kaki dan tanganku pun sampai digigitin tikus besar yang ada di gudang. Apa yang bisa dilakuin anak umur lima tahun selain nangis? Kejadian itu membuat aku trauma, dan kemarin hal itu terulang kembali."

HILANG [Segera Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang