"Hidup ini memang pilihan. Semuanya ada pada dirimu, akankah engkau memilih untuk bangkit atau tetap tenggelam didalamnya?"
Happy Reading!
***
Nara mengerutkan dahinya begitu melihat pintu balkonnya kembali terbuka. Seingatnya semalam ia sudah menguncinya. Nara menyipitkan matanya begitu melihat sebuah kotak hitam berada tak jauh dari pintu balkon.
Ah, Nara baru ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya. Dengan perasaan yang sangat gembira ia segera turun dari ranjangnya dan mengambil kotak itu.
"Kado? Tapi dari siapa?" gumamnya.
Nafasnya tercekat begitu melihat apa isi kado itu. Sebuah bangkai tikus yang masih berlumuran darah.
Selamat ulang tahun!
Aku pun ingin kamu seperti tikus itu.
Apa semua ini? Siapa yang mengirimnya? Semalam ada surat misterus, lalu sekarang? Keynara benar-benar tidak mengerti, siapa yang tega melakukan ini padanya?
"Tenang Key, mungkin itu cuma orang iseng. Ya, cuma orang iseng," ucapnya berusaha untuk tetap berpositive thinking.
Nara membuang benda itu ke tempat sampah dan segera turun kebawah. Hari ini adalah weekend dan seperti saran yang Alrich berikan, ia mencoba untuk berdamai dengan keadaan mencoba memperbaiki hubungannya dengan keluarganya.
***
Bagas duduk termenung di taman belakang, memandang penuh sendu. Hari ini adalah hari ulang tahun putri sulungnya, ingatannya melayang pada kejadian 18 tahun yang lalu. Dimana ia mengambil tanggung jawab besar atas putrinya, tapi sekarang ia melalaikannya.
"Papa," panggil Nara yang melihat Papanya duduk termenung di kursi taman.
Bagas tersenyum tipis melihat kedatangan putri nya. Ingin sekali rasanya ia memeluknya, namun apa daya keadaan memaksanya untuk tidak bertindak demikian.
"Nara boleh duduk Pa?" tanya Nara meminta izin.
"Boleh, sini Nak."
"Yang lain kemana Pa? Kok Papa disini sendirian?"
"Mama lagi keluar sama Iren, Mbok Yem lagi ke pasar," jawab Bagas.
Nara terdiam sebentar, menimbang-nimbang akan sesuatu yang ingin ia sampaikan.
"Em, Papa Inget ngga hari ini hari a-apa?" tanya Nara hati-hati.
Bagas tersenyum haru, lalu mengelus puncak kepala Nara.
"Selamat ulang tahun Putri kecil Papa."
Nara tersenyum senang, bahkan ia sampai meneteskan air matanya. Ia sangat tidak menyangka Papa nya akan memberikan ucapan selamat ulang tahun padanya.
"Nara boleh peluk Papa? Sebentar aja," pintanya.
Bagas menggangguk, lalu segera mendekap putrinya yang selama ini bersamanya namun terasa sangat jauh darinya. Pelukan hangat yang saling menyalurkan kerinduan.
"Maafin Papa ya," ucap Bagas mengurai pelukan itu lalu beranjak pergi meninggalkan Nara.
"Makasih, Pa," Nara memandang sendu punggung Bagas yang kini kian menjauh.
Nara kembali terdiam seketika. Ia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari Papanya. Sorot mata itu, ya. Bukan lagi sorot dingin yang biasanya Papanya berikan kepadanya, melainkan sorot luka penuh penyesalan. Ada apa sebenarnya? Apa ada yang di sembunyikan darinya?
KAMU SEDANG MEMBACA
HILANG [Segera Terbit]
Novela JuvenilBUDAYAKAN FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA:) (Completed) "Tuhan mengizinkan kita untuk merasakan luka, tetapi Ia juga akan memberikan penawarnya." Ada pada ketidakadaan. Sepi di tengah keramaian. Bagaimana jika kita di tempatkan dalam keadaan tersebut? T...
![HILANG [Segera Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/233017588-64-k469491.jpg)