41 - Buku nikah?

8.1K 1K 342
                                        


Assalamualaikum teman-teman semua. Kami Admin HFCREATIONS dan SIPA minta maaf ya karena selama dua minggu kemarin SIPA belum bisa nulis Play It. Dan, Alhamdulillah hari ini SIPA bisa nyelesaiin PLAY IT part 41 dan bisa Update PLAY IT ^^

Siapa yang udah nungguin PLAY IT dan nggak sabar buat baca PLAY IT? 

Selamat membaca PLAY IT. Semoga kalian semakin suka dengan cerita PLAY IT yaa ^^

*****

Hani menatap punggung tangannya semabri senyum-senyum. Kejadian semalam sama sekali tak akan di lupakanya. Benar kata Zaki, tebakan-tebakan kemarin berhasil membuat Hani hampir tidak bisa tidur.

Kejadian semalam terus saja terngiang-ngiang di kepala Hani. Dimana Zaki memberikan ciuman singkat di punggung tangan Hani. Sangat manis, hangat dan romantis.

Hal sederhana yang terasa mendebarkan bagi Hani.

"Mie-nta izin cium boleh? AAAARGGG!!"

Hani langsung loncat-loncat lagi, heboh sendiri. Jantungnya berdetak sangat cepat, bagaimana bisa ada cowok seperti Zaki? Yang sikapnya semanis itu dan tak terduga!

Dan, Hani sangat suka. Hani merasa semakin jatuh cinta kepada sosok Zaki.

Toktok

Pintu kamar Hani di ketuk dari luar, membuat kebahagiaan Hani harus terhenti sesaat. Hani pun segera meraih tasnya yang ada di kursi belajar dan segera membuka pintu kamarnya.

"Kenapa Bang?" tanya Hani mendapati Bani di depan kamarnya.

"Kenapa Bang, kenapa Bang, udah jam setengah tujuh nih," protes Bani sembari menunjukkan jam tangannya.

Hani mendesis pelan, gara-gara memikirkan kejadian semalam ia sampai tidak menyadari bahwa dia sudah hampir terlambat untuk berangkat sekolah.

"Ayo bang, gue udah mau telat nih," ucap Hani langsugn ngeluyur duluan.

Bani geleng-geleng melihat tingkah adiknya. Hari ini dirinya memang diminta Hani untuk mengangtarkan gadis itu ke sekolah.

"Sarapan dulu Han," suruh Bani mengekori Hani dari belakang.

"Nggak sempat Bang," teriak Hani mulai sibuk memakai sepatunya di ruang tamu.

Bani berdiri tak jauh dari adiknya.

"Kenapa nggak bareng Zaki?" tanya Bani penasaran.

Hani menggeleng pelan.

"Kak Zaki tiba-tiba harus antar Papanya dulu ke Bandara," jawab Hani, ia memang mendapat telfon dari Zaki jam enam pagi tadi, bahwa cowok itu tak bisa menjemputnya.

Bani mengangguk-angguk.

"Beneran anterin Papanya?" pancing Bani, ingin memggoda.

Sontak kepala Hani mendongak, menatap kakanya dengan bingung.

"Maksudnya?"

"Nggak anterin mantannya?"

Mendengar pertanyaan Bani barusan membuat Hani tanpa sadar langsung menyengkram satu sepatunya yang masih belum terpasang. Tatapan Hani berubah lebih tajam.

"Pernah di lempar sepatu nggak wajahnya, Bang?" ancam Hani.

Bani sontak ketawa puas melihat wajah kesal sang adik.

PLAY ITTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang