Rafael Lazuardi
Daria - El, bisa kita bicarakan tentang surat notaris itu?
Daria - Please, aku nggak tahu apa jadinya kalau tanpa bantuanmu.
Daria is calling ... .
Aku mengabaikannya dan menyimpan ponselku ke saku dalam jasku. Entah harus memakai cara apa lagi aku untuk menyadarkannya bahwa aku tidak ingin berurusan apa-apa lagi dengannya. Tidakkah ia sadar apa yang sudah dilakukannya dulu? Sekarang rencana pernikahanku dengan Zara terancam batal karena ia terlalu bergantung padaku. Untuk yang terakhir, bukan salah Daria sepenuhnya juga, karena aku pun lupa membatasi diri untuk tidak terus-terusan menemuinya.
"El, pulang kerja ke mana?" Yohanes yang sedang membereskan meja bertanya padaku.
"Ke rumah Zara. Kenapa?"
Reaksi Yohanes sangat berlebihan. Ia menghentikan aktivitasnya dan memandangku. Alis tipisnya tertaut di atas batang hidung. Keningnya berkerut dan aku tidak tahu kenapa ia sampai bereaksi seperti itu.
"Serius?"
"Hah?"
Yohanes keluar dari mejanya dan menghampiriku bersama tas selempang yang sudah menggantung di bahu. Tiap langkah yang dirajut kakinya semakin meningkatkan rasa penasaranku. Andai mukanya tidak berubah serius, sensasinya tidak akan sampai seperti ini.
"Seminggu kemarin kamu nggak ada semangatnya, ya ... kayak orang yang bosan hidup gitu. Aku males bertanya, tapi aku udah menduga pasti ada kaitannya sama Zara. Kukira kalian batal nikah," tutur Yohanes bak seorang analis. Ia meletakkan sebelah tangan di atas mejaku, menopang tubuh. Itu seperti gestur yang menunjukkan bahwa ia siap mendengarkan ceritaku.
"Doanya yang baik-baik, Han." Aku protes. Akhir dari ucapannya membuatku tersulut emosi.
"Kan, cuma dugaan," sahut Yohanes, mengklarifikasi.
Aku mengembuskan napas kuat-kuat untuk meredam emosi. "Tadi kenapa nanya aku mau ke mana?"
"Oh, biasalah, ngumpul sama yang lain." Wajah Yohanes berubah semringah saat mengatakannya. "Lama nggak, tapi nggak bisa ikut, 'kan?"
"Mungkin lain kali." Aku diam sebentar, ada satu pertanyaan yang mendadak muncul di kepalaku. "Kamu masih bisa main keluar? Kan, udah nikah."
Padahal hari ini bukan kali pertama Yohanes yang sudah beristri akan pergi keluar bertemu teman-teman kami. Namun, semakin ke sini, aku mulai memikirkan kehidupan setelah pernikahan. Termasuk alasanku dulu menunda untuk menikah; karena tidak siap melepas kebiasaan lamaku. Kupikir akan sulit bepergian setelah menikah. Entah nantinya akan tidak diizinkan istri, atau aku yang tidak tega meninggalkannya.
"Lho? Kenapa nggak boleh?"
"Kali aja nggak dikasih izin istri." Aku menyahut sambil menggaruk tengkuk, seperti memperlihatkan keluguanku.
Melihat Yohanes menggeleng membuatku malu sendiri. Mantan playboy ini jadi tampak tidak ada wibawanya sama sekali.
"Kalau kamu nikah sama istri posesif ya jelas nggak dibolehin, El," sahut Yohanes diiringi kekehan.
"Dan istrimu ngizinkan gitu aja?"
"Heh, jelek-jelek gini aku setia sama istri, lho. Jadi dia nggak punya alasan buat ngelarang."
Aku manggut-manggut meski belum bisa menerima respons Yohanes sepenuhnya. Kehidupan berumah tangga dengan Zara membayang di kepalaku. Setelah semua ini, apa ia akan percaya padaku jika kubilang ingin pergi bertemu teman-temanku?
Aku sudah merusak kepercayaan Zara dengan menemui Daria. Rafael, Rafael, daripada memikirkan tentang izin pergi keluar setelah menikah, seharusnya aku memikirkan tentang rencana pernikahan kami. Aku terlalu sering memikirkan itu, jadi kupikir sedikit memikirkan hal lain tak masalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Intertwined [✔]
Literatura Feminina[Completed][First Draft] Zara dan Rafael adalah dua orang yang bertemu kembali dengan sebuah kesepakatan untuk saling membersamai, hingga mencapai satu tujuan bersama, yaitu sebuah pernikahan. Namun, mereka berdua adalah dua orang yang tak sejalan d...
![Intertwined [✔]](https://img.wattpad.com/cover/210290922-64-k619068.jpg)