Zara Naulia
Aku menghela napas ketika membaca ulang kata demi kata yang tertulis di surat pengajuan cutiku. Pak Jared setuju meski aku baru bicara secara lisan padanya. Ia memintaku untuk langsung mengajukan surat kepada pihak HR. Aku tentu saja senang. Tidak sabar lagi rasanya ingin bertemu dengan adik-adikku. Dan kali ini, aku harus berhasil cuti.
Sambil menjinjing amplop cokelat berisi surat pengajuanku tadi, aku berjalan menuju elevator. Di saat yang bersamaan, Daria datang menyusulku dan ikut masuk ke elevator.
"Mau ke mana?" tanyaku.
"Ruangan HR untuk evaluasi mingguan," sahutnya dengan tenang. Kendati begitu, aku bisa melihat bibirnya bergetar.
Aku mengangguk saja. Baru kuingat kalau ia sudah satu minggu bekerja di sini. Kejeniusan yang dimilikinya memudahkan dalam mengajarinya berbagai hal. Ia belajar cepat dan aku merasa beruntung untuk itu.
Itu jadi mengingatkanku tentang masa-masa di mana aku masih menjadi karyawan baru. Waktu itu Pak Jared langsung yang menjadi pembimbingku. Aku selalu merasa newbie jika bertemu dengan karyawan yang lain. Dua tahun pertama bekerja, aku bahkan tidak berani mengambil cuti.
"Kalau kamu ke mana?" Daria balas bertanya sambil melirik amplop yang kubawa.
"Sama. Aku juga perlu menemui HR."
Setelah itu tidak ada obrolan lagi di antara kami. Keheningan menyelimuti sampai terdengar suara dentingan elevator yang berhenti di lantai dua, tujuan kami.
"Karena urusanku dengan HR agak lama, jadi kamu duluan aja," ujarnya.
"Terima kasih, Daria."
Aku melangkah memasuki ruangan HR, sedangkan Daria menunggu di sofa depan ruangan.
Daria. Daria. Daria. Sejak awal ia memperkenalkan dirinya di depan kami, aku merasa tidak asing dengan namanya. Bahkan selama mengajarkannya beberapa hal terkait tugasnya, aku tidak berhenti memikirkan kapan tepatnya aku mendengar namanya disebutkan. Namun, semakin lama aku mengingatnya, aku jadi kesal sendiri.
Sudahlah, memang ada banyak orang yang memiliki nama yang sama di dunia ini. Aku bisa saja tidak sengaja mendengar nama itu saat melewati sekelompok orang yang sedang mengobrol. Dan faktanya, itu justru bukan sesuatu yang harus kupikirkan.
***
Pulang kerja hari ini, aku akan pergi menemui Vita. Kami membuat janji dadakan mengingat El tidak mengatakan apa pun tentang ingin menjemputku. Sekali lagi, ia lenyap tanpa kabar sedikit pun. Kuharap, ia tidak berakhir sakit seperti kemarin lagi. Bukan tidak ingin merawatnya, tapi aku kesal jika ia selalu seperti ini. Menghilang tanpa kabar dan kembali dengan kabar yang mengejutkan.
Kukira aku bisa menganggap hal ini biasa saja; seperti dua orang kenalan biasa yang merasa tidak memiliki kewajiban untuk saling memberi kabar. Namun, aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Aku sudah beberapa kali mengetikkan pesan untuknya, tapi berakhir bersih dengan satu tombol hapus, hanya karena aku merasa tidak benar-benar berhak untuk tahu semua tentangnya.
"Kalian benar-benar nggak kayak pasangan yang mau menikah," celetuk Vita tiba-tiba. Padahal aku belum menceritakan apa pun tentang hubunganku dengan El padanya.
"Kenapa ngomong gitu?" tanyaku. Sebisa mungkin bersikap bahwa aku sedang baik-baik saja.
"Aku udah baca grup kelas kita. El mengumumkan kalau kalian mau nikah. Tapi, lihat dirimu." Vita memandangku sambil menggeleng. "Nggak keliatan aura bahagianya."
Vita selalu sejeli itu terhadap sesuatu. Ia selalu jadi yang paling peka di antara kami, tak peduli sebesar apa usaha kami untuk menyembunyikannya. Semua tampak transparan di matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Intertwined [✔]
Chick-Lit[Completed][First Draft] Zara dan Rafael adalah dua orang yang bertemu kembali dengan sebuah kesepakatan untuk saling membersamai, hingga mencapai satu tujuan bersama, yaitu sebuah pernikahan. Namun, mereka berdua adalah dua orang yang tak sejalan d...
![Intertwined [✔]](https://img.wattpad.com/cover/210290922-64-k619068.jpg)