Rafael Lazuardi
"Woy, El! Bangun! Udah siang ini."
Aku sudah bangun sebenarnya, sejak Yohanes membangunkanku pagi-pagi sekali. Aku masih mengantuk dan sekarang rasanya malas sekali untuk beranjak dari kasur. Aku perlu tidur lebih banyak karena baru kembali ke penginapan pukul empat pagi. Namun, pria yang menjabat sebagai sekretaris sekaligus asistenku itu tidak mengerti. Ya ... salahku juga yang tidak memberitahunya.
"Duluan aja sana! Berisik!" sahutku kesal.
Tanganku terayun-ayun ke atas sampai tidak sengaja menampar wajahnya dengan keras. Mungkin meninggalkan jejak kemerahan di sana. Sekali lagi, aku terlalu mengantuk untuk peduli.
"Asem, El. Pedes banget," protes Yohanes. Tak lama kemudian sebuah guling-atau bantal?-mendarat di wajahku dengan keras.
Aku menggeram rendah dan melemparkan benda apa pun itu dari wajahku. Mataku bahkan masih terpejam sekarang.
Sayangnya, aku gagal untuk mencoba tidur lagi. Yohanes berhasil membuat rasa kantukku hilang. Akhirnya, aku bangkit dan duduk di ranjang dengan kaki menapak lantai. Dari jendela, aku bisa melihat matahari memang sedang terik-teriknya. Tak ada jam di kamar ini. Jadi aku meraih ponselku untuk melihat jam. Sudah hampir jam satu ternyata. Ternyata aku tidur sangat lama dan sekarang perutku lapar.
Aku mengeluarkan baju ganti dari dalam koperku dan membawanya ke kamar mandi. Daripada penat terus-terusan berbaring, lebih baik aku keluar dan bertemu Zara.
Kedua sudut bibirku naik ke atas begitu saja saat mengingat momen kebersamaanku dengan Zara semalam. Meski bukan sesuatu yang romantis, tapi pengakuannya membuatku tidak bisa berhenti memikirkannya. Terlebih pada apa yang ia katakan semalam.
Lima belas menit kemudian, aku selesai mandi. Dengan handuk menggantung di leher-agar tetesan air dari rambutku tidak membasahi bajuku, aku berjalan keluar penginapan.
"Tuh tersangkanya!"
Aku baru akan menyapa teman-temanku saat Yohanes melayangkan telunjuknya ke arahku. Dan aku hanya bisa mengernyit kebingungan.
"Nggak jadi tidur lagi, El?" Sam bertanya diiringi kekehan. Aku tidak tahu apa yang lucu, tapi aku yakin ini ada kaitannya dengan tuduhan Yohanes tadi.
"Udah nggak ngantuk," sahutku agak kesal. Aku turun dari teras dan duduk di samping Sam. "Yohanes kenapa nyebut aku tersangka?"
Sam tertawa keras mendengar pertanyaanku. "Dia kesel mukanya ditampar."
"Lho, kan, nggak sengaja?" Aku membela diri. Kenyataannya memang begitu, aku berusaha untuk mengusirnya, tapi tanganku justru mendarat di wajahnya. Namun, jika tidak begitu, ia tidak akan berhenti membangunkanku.
"Nggak sengaja aja sampai merah gini. Gimana yang pakai niat?" sahut Yohanes dengan nada kesal.
"Itulah tangan seorang pekerja keras," gurauku.
Yohanes menggerutu dan aku tidak bisa mendengar apa pun yang ia katakan dengan jelas.
Aku mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Zara di antara para wanita yang sedang sibuk berswafoto di dekat sebuah pohon besar. Namun, tidak ada Zara di sana. Apa mungkin Zara masih tertidur di kamarnya? Bisa jadi. Kami terlalu asyik berjalan-jalan sampai lupa waktu semalam.
Ada kemajuan pada Zara. Aku memeluknya beberapa kali dan ia tidak menghindar. Walau pengakuanku waktu itu membuatnya sempat menjaga jarak dariku. Menyesakkan sebenarnya, tapi aku akan membuatnya terbiasa. Selebihnya, menyenangkan menghabiskan waktu dengannya.
Aku tidak perlu bersikap romantis padanya, atau memaksakan diri menjadi seseorang yang diharapkannya. Untuk yang pertama kali, aku menjadi diriku sendiri dan itu menyenangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Intertwined [✔]
ChickLit[Completed][First Draft] Zara dan Rafael adalah dua orang yang bertemu kembali dengan sebuah kesepakatan untuk saling membersamai, hingga mencapai satu tujuan bersama, yaitu sebuah pernikahan. Namun, mereka berdua adalah dua orang yang tak sejalan d...
![Intertwined [✔]](https://img.wattpad.com/cover/210290922-64-k619068.jpg)