Daria Anastasia
Kutatap undangan yang tergeletak di lantai. Aku baru saja menjatuhkannya dengan tidak sengaja. Sebelumnya undangan dengan amplop tebal itu ada di tanganku, hingga kemudian kulemparkan penuh emosi ke sembarang arah. Awalnya membentur dinding, lalu mendarat di atas tumpukan baju dan akhirnya meluncur ke lantai. Aku bahkan tidak repot-repot membukanya. Nama yang tertera di sana membuatku hancur, sehancur-hancurnya.
You're invited to the wedding of
Zara Naulia
&
Rafael Lazuardi
Aku berharap tidak akan pernah melihat benda itu; tidak pernah membaca nama mereka di satu cetakan kertas yang sama. Pokoknya, apa pun yang berkaitan dengan hubungan mereka berdua. Tidakkah mereka mengerti perasaanku? Tidakkah mereka tahu rasanya terluka? Tidakkah mereka-tentu saja mereka tidak tahu. Semua ini, hanya aku yang merasakannya.
El. Rafael. Lazuardi. Mimpiku tentang menyematkan nama belakangnya di namaku pupus sudah. Takada Daria Anastasia Lazuardi, tetapi Zara Naulia Lazuardi. Sekarang aku sadar, melepasnya adalah penyesalan terbesar di hidupku. Aku terlalu bodoh, terlalu gegabah, terlalu mudah percaya dengan tawaran orang lain. Sayangnya, aku datang terlambat. Ketika kupikir sisa-sisa dari hubungan kami masih bisa terselamatkan, ternyata El sudah bersama dengan wanita lain. Semesta punya banyak cara untuk bermain-main. Wanita itu bahkan seseorang yang ditugaskan untuk menjadi mentorku.
Zara. Wanita itu memang punya sesuatu yang membuat orang-orang menyukainya meski ia cenderung pasif. Aku yang terlalu percaya diri ini nekat menantangnya untuk bersaing mendapatkan El meski tidak secara langsung. Akhirnya aku kalah. Aku kehilangan El untuk yang kedua kalinya.
Air mataku mengalir tanpa sadar. Cintaku kepada El terlalu besar. Aku tidak tahu bagaimana caranya bertahan tanpa ia di sisiku. El adalah rumah, keluarga yang hilang, teman hidup, obat kesepianku. Ia tempat bergantung terbaik. Aku rela melukai diriku sendiri demi mendapat perhatiannya-apalagi hanya itu satu-satunya cara untuk menggapainya.
Lagi-lagi aku harus menyalahkan diriku sendiri atas berpisahnya kami.
"Daria, mungkin Tante kemarin meminta El untuk mengawasimu dan membantu jika kesusahan, tapi sekarang El akan menikah. Tante harap kamu mengerti, karena tidak pantas kalau kamu meminta pada pria yang sudah menikah."
"Tapi, Tante, El bisa membantuku sebagai saudara. Aku masih sangat membutuhkannya."
"Ya. Tante mengerti. Tapi situasinya sudah tidak sama. El punya prioritas yang lebih penting. Tante nggak mau sesuatu yang buruk terjadi pada mereka. El akan sangat sedih jika berpisah dengan Zara. Dan karena keegoisan kamu, pernikahan mereka nyaris gagal. Tante ngasih kamu kemudahan, bukan kesempatan. Harusnya kamu juga sadar, masih banyak laki-laki di dunia ini yang akan tulus mencintai Daria."
Benarkah aku egois? Apa mengambil kembali hakku adalah sebuah keegoisan?
Sayangnya, aku tidak bisa untuk tidak menuruti Tante Rena. Beliau sudah seperti sosok ibu yang harus kuhormati keputusannya. Aku tidak pernah tahu seindah apa kasih sayang orangtua, tetapi Tante Rena memberikannya kepadaku. Keluarganya juga menerimaku dengan sangat baik. Bayangkan saja, kalau aku tidak termakan rayuan Dion waktu itu, mungkin aku dan El sudah menikah. Adakah yang lebih membahagiakan dari itu?
Sekarang keputusanku sudah bulat. Aku akan mengurus surat resign dan kembali ke kota asalku. Dengan begitu, aku tidak perlu lagi dibayang-bayangi oleh sosok El, atau penyesalan seumur hidup yang sampai sekarang akan terus membelenggu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Intertwined [✔]
ChickLit[Completed][First Draft] Zara dan Rafael adalah dua orang yang bertemu kembali dengan sebuah kesepakatan untuk saling membersamai, hingga mencapai satu tujuan bersama, yaitu sebuah pernikahan. Namun, mereka berdua adalah dua orang yang tak sejalan d...
![Intertwined [✔]](https://img.wattpad.com/cover/210290922-64-k619068.jpg)