[방탄소년단 × 박지민]
"Katanya dulu aku punya keluarga."
Menjalani hari-hari dengan kumpulan anak di panti asuhan membuat hidup seorang Park Jimin terasa spesial. Memiliki banyak teman, kakak, dan adik hingga ia tak pernah merasakan kesepian. Atas suatu ala...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi-pagi sekali Jimin sudah pergi dari rumah untuk berangkat bekerja. Antisipasi dari kerewelan Jungkook yang mungkin akan memaksa ikut lagi. Bisa gawat jika dia diikuti dua hari berturut-turut. Bukan merasa terganggu, sih. Rasanya tidak benar jika menyebut anak itu sebagai pengganggu. Tapi Jimin hanya ingin memulai minggu pertama ia bekerja dengan normal. Itu saja.
Jadi tadi Jimin bangun pagi-pagi sekali—meskipun dengan sedikit memaksakan diri karena entah kenapa dia merasa pening bukan main. Entah kapan tepatnya. Yang jelas saat dia melihat jam setelah membersihkan kamar, di sana masih menunjuk pukul tiga lewat. Jadi Jimin melanjutkan pekerjaannya. Karena sudah diizinkan tinggal di sana, dia pasti tidak boleh bermalas-malasan. Paling tidak membantu membereskan rumah sebelum bekerja.
Lantas saat Jimin sudah rapi dan hampir berangkat ke cafe, Bibi Jeon memanggilnya dengan terburu. Bertanya kenapa dia bangun pagi-pagi sekali hanya untuk membersihkan rumah. Tentu saja dia tidak memiliki alasan untuk berbohong, kan? Tapi wanita itu memintanya untuk tidak melakukan lagi. Apalagi sampai mengurangi waktu tidur hanya karena hal seperti itu.
"Aku harus pergi sebelum Jungkookie bangun juga. Kasihan jika sampai dia memaksa ikut lagi dan dikerubungi banyak orang. Kelihatannya tidak nyaman." begitu alasannya tadi. Meskipun wanita itu terlihat tidak puas, tapi akhirnya Jimin diizinkan untuk segera pergi karena tiba-tiba pintu kamar Jungkook terbuka.
Jadi sekarang Jimin hanya perlu berjalan beberapa ratus meter ke depan untuk sampai di cafe. Beristirahat sebentar karena efek terbentur dengan pelat lentera kemarin pasti akan sangat mempengaruhinya—masih sakit sekali meskipun sudah diobati oleh Seokjin—lalu bersiap-siap untuk membuka cafe. Itu pun jika dia masih sempat menetralkan pening di kepalanya sebelum Jihoon datang.
"Jimin-ah!"
Merasa namanya dipanggil, pemuda itu menoleh segera untuk menemukan pelakunya. Dan ternyata dia tidak perlu susah-susah mencari karena matanya langsung menangkap presensi pemuda lain di sana. Duduk tenang di balik kemudi mobil yang berhenti sedikit di belakangnya. "Eoh? Suga hyung?"
Laki-laki itu tersenyum tipis, memberi kesan ramah yang bahkan tidak pernah Jimin bayangkan. Tadi malam dia juga yang kelihatan paling panik. Setelah Jungkook yang bahkan hampir menangis, tentu saja. "Kau mau ke cafe, kan? Naiklah. Aku juga sedang dalam perjalanan ke sana." ujarnya.
"Benarkah?" Jimin mendapati laki-laki itu mengangguk. Tapi kemudian pandangannya jatuh pada pintu mobil yang terlihat begitu rumit untuknya. Sumpah Jimin hanya pernah naik bus selama ini. Mobil seperti ini terlalu mewah untuknya. "Tapi, hyung, bagaimana cara membukanya?"
Tiba-tiba Suga tertawa, sukses membuat Jimin menyesal telah bertanya. Tahu begitu dia tolak saja ajakan pemuda itu. "Serius nih? Padahal Namjoon bilang kalian pulang bersama kemarin." ujarnya masih dengan tawa kecil di sela-sela kalimat.
"Kemarin Namjoon hyung membukakannya untukku."
"Baiklah, baiklah." Suga melepas seatbelt yang melilit tubuhnya lantas keluar dari mobil. Memutari kendaraan itu untuk menghampiri Jimin yang masih berdiri di area pejalan kaki. "Kau hanya perlu menarik bagian ini lalu pintunya terbuka. Lihat? Lakukan seperti ini." ujarnya sembari memperagakan caranya kepada Jimin. "Ini mudah, kok. Cobalah."
Jimin menatap Suga yang kini sedang menatapnya juga. Entah kenapa senyum yang diperlihatkan laki-laki itu terlihat seperti sedang meremehkannya. Menyebalkan. Jadi dengan tekad bahwa ia juga bisa melakukan itu, Jimin memegang bagian yang ditunjuk oleh laki-laki itu lantas menariknya. "Eoh? Berhasil."
"Kan sudah kubilang, itu mudah. Sekarang masuklah. Kau bisa terlambat jika kita tidak berangkat sekarang." Suga kembali memutari mobil lantas masuk ke sana. Memastikan jika Jimin sudah duduk dengan benar sebelum kemudian menyalakan mesin. "Pakai seatbelt-nya. Tarik lalu tekan di sini."
"Seperti ini?"
Suga mengangguk lantas menjalankan mobilnya. Diam-diam mengulas senyum tipis. Seperti mengajari anak kecil saja. Jimin ini benar-benar sesuatu, ya?
"Ngomong-ngomong kenapa hyung ke cafe?" Jimin yang awalnya sibuk melihat-lihat pemandangan di luar jendela kini telah mengalihkan seluruh atensinya kepada laki-laki yang lebih tua. Aneh saja. Padahal dia jarang melihat Suga di sana. Muncul saja baru kemarin. Namjoon dan Hoseok sering sekali datang, tapi Suga tidak. Apa kasusnya seperti Taehyung yang katanya sedang banyak tugas jadi tidak bisa mampir seperti biasa? Katanya kan Suga harus menyiapkan lagu untuk grup baru yang akan segera debut. Pasti dia sibuk, kan?
Tapi laki-laki yang lebih tua tak langsung menjawa. Suga menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas berubah warna, mempersilakan para pejalan kaki untuk menyeberang. Dia menoleh, memandang Jimin yang nampak sedang menantikan jawabannya. "Kenapa? Itu kan tempat umum."
"Aissh bukan begitu maksudku."
Suga tertawa kecil sebelum kemudian tersadar bahwa sepertinya dia terlalu banyak tertawa hari ini. Berlawanan sekali dengan image-nya yang dingin. "Bercanda. Namjoon memintaku untuk bertemu di sana. Jadi aku datang lebih awal untuk mendapatkan kopi gratis."
"Apa kali ini bercanda juga?"
"Tidak kok."
Lantas beberapa menit kemudian hanya keheningan yang menemani keduanya. Masing-masing sibuk dengan pemikiran dan hal-hal yang menjadi fokus masing-masing. Jimin sendiri sedang memandangi gedung yang berjejer di luar sana. Mengagumi sambil bertanya-tanya kenapa bangunan setinggi itu tidak runtuh misalnya karena condong atau karena tekanannya terlalu berat.
"Ngomong-ngomong maaf untuk yang semalam. Kau jadi terluka."
Jimin sontak menoleh begitu kalimat itu tersuarakan. Suga masih menatap lurus ke depan. Wajar karena dia sedang mengemudi. Jimin juga tidak ingin mati muda karena harus berada di mobil yang sama dengan pengemudi yang bukannya memperhatikan jalan malah asyik mengobrol. Jadi intinya keputusan Suga untuk tetap fokus ke jalan sangat dihormati oleh Jimin.
Tentang ucapannya, terlihat seperti laki-laki itu serius. Tapi kenapa meminta maaf? Memangnya dia yang sengaja menjatuhkan lentera itu sampai mengenai kepala Jimin? Jika iya, Jimin bisa marah sih. Bagaimana tidak? Sampai sekarang itu masih sangat sakit. Tadi malam saja sampai berdarah-darah banyak sekali. Tidak heran sih kenapa Jungkook sampai ketakutan begitu. Anak kecil macam apa sih yang tidak kaget melihat darah? Kalau psikopat mungkin iya. "Tidak apa-apa kok, hyung. Itu kan kecelakaan."
"Aku merasa bersalah karena itu. Orang-orang suruhan Jay hyung pasti tidak memasangnya dengan benar." Suga meliriknya lewat ujung mata. Kentara sekali sih jika dia merasa bersalah karena kejadian semalam. Lagi pula kan itu acara ulangtahunnya. Yah meskipun Suga terlihat sangat tidak mengharapkan acara semacam itu. Tapi tetap saja dengan embel-embel acara yang dibuat untuknya akan membuat dia terbebani. Itu sudah pasti.
Jadi karena Jimin berpikir harus mengentaskan semua kekhawatiran itu dari benak pemuda yang lebih tua, dia mulai memasang wajah semenyenangkan mungkin lantas berceloteh, "Padahal hyung tidak perlu memikirkan itu. Beberapa hari lagi pasti sembuh, kok. Sekarang masih sakit, sih. Mana ada luka yang langsung sembuh dalam semalam. Pokoknya kalau aku menunggu, lama-lama sakitnya juga menghilang. Lagi pula aku cukup baik untuk bekerja begini loh. Lihat, kan?"
Sukses membuat pemuda itu berakhir menoleh ke arahnya lantas mengulas senyum sekali lagi. Meskipun entah kenapa... rasanya sesak.