"Kurasa ini akan lama."
Jihoon menghela nafas. Semangatnya sudah luntur sejak bus yang mereka naiki harus berhenti karena ban bocor. Akan memerlukan waktu sampai ada seseorang yang memperbaikinya. Padahal Jihoon sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan sang adik. Jimin yang berdiri di sebelahnya sampai bingung harus mengatakan apa untuk menghibur Jihoon.
Pada akhirnya mereka benar-benar pergi ke Busan dengan tujuan menemui Jihyun—yang sumpah membuat Jimin terkejut setengah mati saat mengetahui jika anak itu ternyata adik Jihoon. Demi Tuhan sifat mereka bertolak belakang sekali. Jimin tahu itu karena mereka memang dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda dan tidak pernah berinteraksi satu sama lain. Tapi dia tidak pernah menyangka jika Jihoon yang baik dan ceria akan memiliki adik yang mulutnya pedas seperti Jihyun.
Tentang Jungkook, akhirnya Jimin berhasil membuat anak itu tetap tinggal di rumah meskipun dengan ekstra bujukan. Itu pun karena Jungkook tidak tahu jika tempat yang mereka tuju adalah tempat tinggal Jimin selama ini. Jika tahu mungkin anak itu tidak akan membiarkan Jimin pergi barang selangkah pun. Bisa repot nanti. Begini saja Jungkook sudah sibuk mengiriminya pesan dari ponsel Bibi Jeon. Ingin dibalas lelah menjelaskan, tidak dibalas nanti anak itu merajuk. Ah, Jimin serba salah jadinya. Mungkin dia juga tidak bisa tinggal untuk menginap. Bisa dikuliti Jungkook nanti saat kembali jika sampai berani melakukan itu.
"Masih jauh, ya?"
Pertanyaan Jihoon akhirnya menarik perhatian Jimin dari raut kecewa penumpang lain. Dia juga tahu betapa kecewa Jihoon karena terhambat begini. "Jika mengikuti jalan ini akan memakan waktu satu jam lebih dengan bus."
"Apa tidak ada rute yang lebih pendek?"
Jimin berpikir sejenak. Dia meneliti plat nama daerah yang terpasang di sisi kiri jalan. Sudah tidak terlalu jauh sebenarnya. Tapi rute bus ini agak memutar. "Aku tahu jalan pintas sih, tapi tidak bisa dilewati kendaraan. Sekitar tiga kilometer dari sini." jawabnya.
Jihoon mengangguk. Dia mencoba memandang lajur jalanan sepi di depan sana. Entah apa yang dipikirkan oleh pemuda itu, Jimin tidak ingin menebak-nebak. Mungkin sedang mencari cara terbaik agar tidak terjebak di tempat ini lebih lama lagi. "Kau mau jalan?"
"Hah? Serius? Itu lumayan jauh, loh." Untuk Jimin sih tidak masalah. Dia memang sering pergi jauh dengan berjalan kaki atau naik sepeda. Tapi Jihoon? Dia tidak terlihat seperti orang yang menyukai perjalanan jauh. Apalagi tanpa kendaraan.
"Tidak mau, ya? Aku tidak memaksa, kok."
"Bukan begitu. Maksudku aku sudah biasa berjalan jauh. Tapi kau yakin baik-baik saja dengan itu?"
Jihoon mengangguk yakin. Tatapan matanya membuat Jimin ikut yakin dalam tebakannya mengenai seberapa besar tekad pemuda itu untuk bertemu adiknya. Dia bersemangat sekali. Apalagi saat dia berdiri sembari meraih tas yang dibawanya sebelum kemudian berseru semangat, "Ayo lakukan."
Seperti scene anime yang pernah Jimin tonton saja.
Jimin tidak bisa menolaknya jika Jihoon sudah sesemangat itu. Dia tetap tidak yakin, tapi akhirnya ikut meraih tasnya lantas mengikuti Jihoon keluar dari sana. "Kita akan sedikit masuk ke hutan. Tidak apa-apa?" tanyanya setelah menyejajarkan langkah dengan pemuda itu.
"Tidak ada binatang buas, kan?"
"Tidak."
"Kalau begitu tidak apa-apa."
Lantas perjalanan mereka berlanjut tanpa obrolan apa-apa. Jimin terus melangkah dan Jihoon dengan senang hati mengikutinya. Dia terlihat bersemangat lagi setelah berhasil keluar dari permasalahan mengenai bus.
"Menyenangkan, ya?" Pertanyaan tiba-tiba dari Jimin berhasil menarik atensi penuh dari pemuda itu. Kendati membuat wajah cerianya menampakan raut bingung, Jimin malah tersenyum entah dengan maksud apa. "Maksudku bertemu adikmu. Kau pasti sudah menantikan hari ini sejak lama sekali."
"Tentu saja. Aku bahkan tidak tahu bagaimana wajahnya. Kami terpisah sejak dia baru saja lahir. Itu sudah lama sekali. Bagaimana mungkin aku tidak senang saat kami akan bertemu lagi?"
Waktu penantian yang panjang, ya? Jika dipikir-pikir Jimin dan Min Yoongi itu juga sudah terpisah selama tujuh belas tahun. Saat itu dia pasti masih bayi. Jimin memang baru mengetahui keberadaan kakaknya itu baru-baru ini. Mungkin itu tidak bisa dibandingkan dengan apa yang dirasakan Jihoon selama ini.
"Kau merindukan hyung-mu, ya?"
Jimin tertawa kecil, lebih terlihat seperti dipaksakan dari pada reaksi spontan atas ucapan Jihoon barusan. "Aku bahkan tidak pernah melihatnya secara langsung. Aku tidak pernah tahu jika ternyata dia hidup di dunia yang sama denganku. Apa menurutmu perasaan ini bisa disebut rindu?"
Jihoon terdiam. Entah sedang berusaha mencerna ucapan Jimin atau memikirkan reaksi yang tepat untuknya. "Apa sih? Kau iri karena aku sudah bertemu adikku, ya? Aduh, aku jadi merasa bersalah. Nanti kubantu mencari Min Yoongi itu deh." ujarnya sembari merangkul bahu Jimin dan tertawa singkat. Begitulah caranya mencairkan suasana.
Sembari menjaga keseimbangan akibat rangkulan Jihoon yang nyaris membuatnya terjatuh ke tengah jalan, Jimin tersenyum lagi. Kali ini terlihat lebih tulus dari pada sebelumnya. Lagi pula banyak orang yang membantunya sekarang. Meskipun dia harus membatalkan rencana bertemu teman Namjoon untuk menemani Jihoon ke sini, sih. "Aku sebenarnya tidak percaya jika Jihyun adalah adikmu. Mulutnya pedas sekali, sih. Pokoknya bertolak belakang sekali denganmu." candanya.
"Serius? Aduh, sepertinya aku harus menyiapkan mental sebelum bertemu dengannya."
Dan kemudian mereka tertawa bersama. Menyusuri perjalanan panjang yang terasa singkat dengan obrolan ringan sembari menikmati pemandangan di sekitar. Berbeda dengan Kota Seoul yang besar dan modern, di sini hanya kota kecil yang masih mempertahankan kelestarian alamnya. Hal-hal yang dirindukan Jimin selama hampir dua minggu ini.
"Hei, kalian mau kemana?"
Mendengar suara lain secara tiba-tiba, Jihoon dan Jimin langsung menoleh begitu saja. "Suga hyung? Kok ada di sini?" Bukan Jimin. Jihoon bereaksi lebih cepat saat melihat laki-laki itu tiba-tiba menghentikan mobil tepat di sebelah mereka. Kok dia sering tiba-tiba menyasar ke tempat-tempat yang tidak Jimin pikirkan, sih?
"Aku ada urusan di dekat sini. Kalian sendiri? Bukannya membuka cafe malah keluyuran jauh sekali." Suga melirik Jimin setelah mengatakan itu. Terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu sebelum kemudian melanjutkan, "Jangan-jangan kau pulang kampung, ya? Jungkook tidak marah?"
"Aku hanya menemani Jihoon, kok."
Kali ini pandangan Suga beralih sepenuhnya ke arah Jihoon. Tapi kernyitan bingung jelas terlihat di wajahnya, tentu karena yang ia tahu Jihoon tidak pernah memiliki keterkaitan apapun dengan Busan. "Memangnya kalian mau kemana?" tanyanya penasaran.
"Ke tempatnya Jimin."
Wajah laki-laki itu berubah datar. Pandangannya kembali ke Jimin seolah-olah dia bisa membunuh yang lebih muda kapan saja. Jimin yang merasa mendapat intimidasi secara tidak sengaja hanya bisa menelan ludah dengan gugup. "Apa aku baru saja dibohongi?"
"Tidak." Jimin buru-buru menjawab sembari mengibaskan kedua tangannya di depan dada. Bisa-bisanya Jihoon malah membuat laki-laki itu salah paham begini. "Jihoon mau bertemu adiknya. Dia di tempat tinggalku yang dulu. Begitu maksudnya."
Suga mengangguk mengerti. Dia mengalihkan atensi ke jalanan di depan sebelum kemudian memandang kedua pemuda yang lebih muda kembali. "Ya sudah, masuk ke mobil. Aku akan mengantar kalian." ujarnya, lebih seperti memerintah.
Jihoon dan Jimin saling berpandangan, seolah sedang berkomunikasi dengan kekuatan telepati meskipun sebenarnya mustahil. Tapi begitu mendengar suara rendah Suga yang mengancam setelahnya, mereka buru-buru bergerak untuk menuruti ucapan laki-laki itu. Tuan pemaksa, huh?
KAMU SEDANG MEMBACA
Last Winter For Us [END]
Fanfiction[방탄소년단 × 박지민] "Katanya dulu aku punya keluarga." Menjalani hari-hari dengan kumpulan anak di panti asuhan membuat hidup seorang Park Jimin terasa spesial. Memiliki banyak teman, kakak, dan adik hingga ia tak pernah merasakan kesepian. Atas suatu ala...
![Last Winter For Us [END]](https://img.wattpad.com/cover/252864152-64-k444810.jpg)