Genre: General Fiction
•••
Menikah dengan Pria yang Introvert berpakaiannya saja sudah seperti orang yang selalu ingin di Bully.
Bagaimana keselanjutan pernikahan ini? Apa berjalan dengan baik atau sebaliknya.
Rank.
#01 Nita 29.04.2021
#07 Berub...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
••
Siang berganti senja, Nita yang masih menyusuaikan dirinya dengan rumah barunya, sedikit merasa aneh karna tidak biasanya ia berdiri di depan pagar sambil melihat ke atah anak- anak kecil yang bermain sepeda melewati depan rumahnya.
Kini jam menunjukan pukul 18:30. Selepas Nita membuang sampah ke depan dan ingin berbalik masuk ke dalam rumah langkahnya terhenti dan kembali memutarkan kepalanya saat ia melihat anak-anak kecil melewati depan rumahnya sambil berbincang lucu, begitu mengemaskan, batin Nita.
Dengan pagar yang menutupi tubuh Nita, Nita berusaha berjinjit melihat ke arah mereka dengan tatapan gemas.
"Haii," sapa Nita yang membuat langkah anak anak itu terhenti.
"Hai kak," jawab kompak mereka bertiga.
Nita membuka pintu pagarnya dan berjalan ke arah mereka dengan senyum manisnya.
"Kalian mau ngaji ya?" Tanya Nita berjongkok menyeimbangi dirinya dengan anak anak itu.
"Iya kak," jawabnya lagi dengan suara yang begitu mengemaskan bagi Nita.
Nita terkekeh dan mengusap lengan salah satu dari mereka. "Nama kalian siapa?"
Anak yang berperawakan gendut maju sambil menghadap ke arah Nita, Nita yang takjub dengan badannya yang gembul pun tersenyum gemas.
"Asslamuaikum warahmatallah hiwabaratatuu, perkenalakan nama aku ADIT!" Ucap Adit lantang membuat Nita mengelengkan kepalanya seraya menahan tawanya.
Tangan Adit menunjuk kepada salah satu anak berpeci miring. "Nama dia Muhammad, tapi anaknya nakal kakak panggil dia Firaun aja."
Nita kembali menggelengkan kepalanya mendegarkan penuturan Adit saat ia memperkenalkan teman- temannya.
"Panggil aku Ammad kak," Ucap Muhammad sambil tersenyum ke arah Nita tapi tangan satunya mencubit pinggang Adit. Membuat Adit mengelitik kesal.
"Sakit tau!" omel Adit dengan mata yang melotot ke arah Muhammad. Muhammad hanya diam dan menatap Adit sebal.
"Ah---iya yang terakhir namanya Beno, dia itu yang paling cuek di antara kita kak, liat aja deh kak, muka dia pantes di samain sama tembok, gak ada senyum senyumnya iyuh!!" Adit berkata dengan tangan mencoel pipi Beno, membuat Beno menatap Adit geram.
"Haii Beno," sapa Nita yang ingin tau seberapa dinginya Beno.
Beno menoleh ke samping, tatapanya langsung bertemu dengan manik manik mata Nita.
"Iya," jawabnya singkat.
Adit kembali mencoel pipi Beno sambil berkata. "Senyum dong!"
Beno mengikuti kata Adit, ia memasang senyum, senyum yang membuat Nita terpana melihat senyum Beno, jika Beno sudah besar dan dirinya tersenyum mungkin nantinya para gadis pada terpesona dengan senyum Beno yang begitu memikat.
Lesung kedua pipinya begitu dalam di tambah lagi dengan ginsul di sebelah kanan membuatnya bertambah bersinar.
"Cogan sejak dini dia mah," cibir Adit yang membuat lamunan Nita bunyar.
Nita terkekeh lalu merangkul bahu Adit. "Kalian juga cogan sejak dini kok."
Muhammad tiba tiba tertawa, membuat Nita binggung menatapnya. "Si Adit mah udah jelek, gendut, idup lagi,"
Astagfirullah halladzim lambeh mu nak.
Adit menjulurkan jari tengah ke arah muhammad. "Aku ganteng,"
"Kata siapa?" kini Beno yang bertanya.
"Mamihku," jawab Adit dengan santai.
Muhammad dan Beno hanya menggelengkan kepalanya dan dengan Nita yang tertawa sambil menutup mulut, takut ada yang menyauti tawanya saja.
"Adit, Beno, Ammad, kalian ganteng- ganteng kok, gak ada yang jelek dari kalian, semua cowok ganteng, suami kakak contohnya,"
"Tapi Adit gendut, jadinya jelek," kata Ammad yang membuat Nita menoleh ke arah Adit.
"Adit gak gendut kok," balas Nita yang membuat mereka berdua mengerutkan kening. Sedangkan Adit sudah menatap Nita penuh berbinar.
"Terus Adit apa kak?" tanya Adit dengan tampang polos.
"Adit cuman kebayakan beking soda doang." lanjut Nita yang membuat Beno serta Aamad tertawa.
Nita mengerutkan kening di saat melihat mereka berdua tertawa, mereka tau apa itu beking soda?
"Kalian tau? " tanya Nita yang membuat Beno dan Aamad menganguk sambil tertawa.
"ADIT KEBAYAKAN MAKAN PENGEMBANG," jawab Beno dan Aamad kompak.
Nita mengaruk leher belakangnya, ingin tertawa tapi kasian dengan Adit yang kesal sambil bersedekap dada.
"Aduhh--udah udah, kasian loh Aditnya," kata Nita yang membuat Beno mengeplak lengan Adit dan berucap.
"Sabar ya dit,"
"Kakak." rengek Adit kepada Nita yang membuat Nita tersenyum sambil menganguk.
"Udah ih jangan ketawa ntar ada yang ngikutin lagi," kata Nita berusaha menakuti mereka supaya memberhentikan tawanya.
Beno dan Aamad sudah berhenti tertawa tapi mereka berdua masih membekap mulutnya menahan tawa.
"Gimana kalo besok kalian ke rumah kakak? Nanti kakak masakin makanan dan nanti kakak pesenin kalian Pizza?" tawaran Nita membuat Adit maju terlebih dahulu sambil membungkukkan badannya kepada Nita.
"JADI ENAK," ucap serempak dari Beno Adit serta Ammad.
Nita kembali menggeleng kepalanya laluterkekeh pelan. "Kesininya sore ok!"
Mereka pun menganguk sambil bertos ria.
"Makasih kak,"
"Nama kakak Nita, kalian bisa panggil kak Nita,"
Mereka kembali menganguk dan mengulangin nama Nita. "Makasih kak Nita."
Nita pun menganguk seraya tersenyum.
"Tidak buruk untuk tinggal di sini," ucap Raffa yang sendari tadi melihat Nita yang tertawa serta mendegar obrolan mereka.