Bagian 45

30.6K 1.5K 41
                                        

••

Desember bulan dimana Raffa mulai menyerahkan skripsinya, dimana yang lain belum datang ke kampus, tapi Raffa terlebih dahulu yang datang ke kampusnya. Tepat sekarang ia mendudukan dirinya di ruang Dosen pembimbingnya.

“Raffael Bagaskara, kamu saya nyatakan lulus dan wisuda ditahun ini,” mendegar lontaran yang di ucapkan sang dosen, membuatnya menghela nafas lega dan bangkit untuk menjabatkan tangan sang dosen. “Terimakasih pak,”
 
Tinggal menunggu wisuda di bulan Februari, Raffa pun bangkit lalu keluar dari ruangan sang dosen, mungkin selepas ini ia akan mengurusi penerbangan dirinya ke Negara Belanda untuk menjenguk sang istri yaitu Nita.
 
Yaps. Mungkin kalian bertanya kenapa Raffa tidak ikut dengan Acha, jawabanya adalah tepat di hari itu juga Raffa akan memulai skripsinya, bukan tidak peduli kepada Nita dan Acha. Tapi Acha, serta Mama Papanya pun menyarankan agar Raffa tetap di sini dan menyelesaikan dulu study nya. Dan tepat di bulan Maret, Raffa akan melaksanakan wisuda kelulusan nya, di jurusan Sarjana Hukum yang selama ia tempuh 3 tahun, dirinya juga tengah berfikir apa ia akan terus melanjutkan kuliah atau membantu perusahaan sang Papa.
 
“lulus?” pertanyaan yang keluar dari mulut Naya membuat Raffa menoleh ke samping.
 
“Allhamdulilah lulus, kalian gimana?” tanya Raffa kembali kepada Naya serta Jessi.
 
Jessi dan Naya saling menoleh lalu menganguk. “Gue juga lulus, btw kapan lo berangkat ke Belanda?” tanya Naya.
 
“Sehabis wisuda, kenapa emangnya?”
 
Naya hanya menganguk seraya menempuk bahu Raffa. “Semoga perjalanan lo gak sia-sia ya Raff,”
 

•••

Tinggal menunggu satu bulan lagi untuk Raffa melaksanakan wisudanya di kampus.

Semenjak terlepas dari tugas tugas kampus, Raffa terus menyibukan dirinya entah pergi ke tongkrongan sewaktu ia SMA atau pergi ke kantor sang papa.

Kini dirinya tengah berbincang dengan sang papa di kantor tepatnya di ruangan sang papa.
 
“Jadi kapan penerbangan kamu ke Belanda?” tanya Agus sang papa.
 
Raffa yang tengah menatap foto Nita pun langsung mengalihkan pandangannya. “Sehabis wisudah pah.”
 
Agus hanya bisa menganguk sambil tersenyum penuh makna. Membuat Raffa yang awalnya binggung lalu kembali bersikap acuh.
 
“Kursi ini, nantinya bakalan jadi kursi kamu nih.” ucapan Agus membuat Raffa kembali menoleh ke papanya sekilas.
 
“Raffa gak terlalu niat juga gantiin posisi papa.” balasnya Cuek
 
Agus yang mendegar lontaran sang anak sematang wayangnya hanya bisa menggeleng serta terkekeh kecil. “Mau kamu kasih makan apa, istri sama anak kamu kalo kamu gak kerja?”
 
“Kasih sayang Raffa.” jawabnya santai.
 
“Emang anak istri kamu kenyang hah?”
 
“Papa yakin ya, kalo Nita bakalan sembuh dan sadar kembali?” ucapan Raffa membuat Agus menatap sang anak sedu sedikit kesal.
 
“Kenapa kamu mikir kaya gitu? Jadi selama ini kamu gak yakin kalo Nita bakalan sembuh?” sarkas Agus
 
Raffa hanya diam seraya menatap lantai dengan tatapan kosong. Ia mulai mendongkak kan kepalanya menatap sang papa. “Raffa takut pah,”
 
“Takdir seseorang gak ada yang tau Nak, kalo takdir bilang "Nita akan sembuh". Ya "Nita akan sembuh." Tapi kalo takdir bilang "Nita gak akan sembuh." "ya gak akan sembuh". Jadi kita hanya terus berdoa dan menjalankannya dengan ikhlas. Setahkan semuanya kepada Tuhan.”
 
Mendegarkan penuturan sang papa membuat Raffa tersenyum ke arahnya dan memeluk sang papa dari samping. “Makasih, makasih Papa udah mau jadi Papa terbaik untuk Raffa.”
 
Agus menepuk punggung Raffa pelan seraya membalas perkataan anaknya itu.

“Maafin papa juga ya Nak,”

••

Sore tepat dimana Raffa terdiam di teras rumahnya seraya mengengam ponselnya menunggu pesan dari Acha soal kondisi Nita yang kembali di pasang alat bantu di tubuhnya.

“ASSALAMUAIKUM KAK NITA!!” mendegar suara dari balik gerbang membuat Raffa bangkit dari duduk seraya membukakan gerbang rumahnya.
 
Raffa tertegun melihat anak anak ABM yang berjejer seraya memakai baju koko dan peci yang melekat di kepalanya.
 
“Eh---Om Raffa,” celetuk Ammad.
 
Raffa tersenyum lalu berkata “Ayo masuk,”
 
Mereka bertiga menganguk dan mengikuti langkah Raffa yang mendudukan dirinya di teras yang beralah karpet rumput.
 
Adit yang sendari celingak-celinguk mencari Nita kini mengalihkan pandangan ke Raffa, dan menatap Raffa sedih. “Kak Nita belum pulang ya Om?”
 
Raffa menggeleng kecil seraya mengelus rambut Adit perlahan. Raffa tau jika anak anak ini mengetahui jika Nita mengalami kecelakaan, karna Raffa sempat menitipkan rumahnya ke tetangaanya dan sedikit bercerita tentang keadaan Nita saat itu.
 
“Kapan kak Nita pulang?” pertayaan itu keluar dari mulut Beno yang sendari tadi diam. Sedangkan Ammad menundukan kepalanya menahan nangis.
 
Raffa tersenyum kecil lalumenggeleng pelan. "Om juga gak tau kapan istri Om pulang.”
 
Seketikan ucapan Raffa membuat Ammad menangis seraya menutupkan wajahnya dengan telapak tangannya. Di situ juga Adit ikut menangis di pelukan Raffa.
 
“Hiks---Ammad kangen kak Nita.” lirihnya.
 
Raffa membawa Ammad ke dalam pelukannya dan mengusap punggung anak itu dengan kasih sayang. Sebenarnya bantin dirinya juga ikut menangis.
 
“Kamu gak kasian sayang, liat mereka yang nungguin kepulangan kamu,” ucap Raffa dalam hati.
 
“Kalian bantu doa ya, Om Raffa yakin dengan banyaknya kita berdoa untuk kak Nita, kak Nita akan sembuh dan bisa main lagi sama kalian.”
 
Raffa yang melihat Beno hanya diam seraya meremas tanganya pun bergeliming melihat Beno yang menahan air mata yang ingin jatuh. Melihat Beno keluar dari pengkara rumah Raffa, membuat Raffa bangkit dan mengejar Beno.
 
“Kalian di sini dulu ya,” pesan Raffa kepada Adit dan Ammad.
 
Mengikuti langkah Beno berlari ke taman membuat Raffa menghela nafas panjang, melihat Beno yang mendudukan dirinya dikursi taman seraya mengusap matanya kasar. Raffa hanya diam tanpa menghampiri Beno.
 
“TUHAN JAHAT! TUHAN GAK PUAS NGAMBIL MAMA BENO, SEKARANG TUHAN HARUS NGAMBIL ORANG YANG BENO SAYANG.” teriak Beno sambil terisak menangis.
 
Mendegar ucapan Beno, membuat Raffa menegang seketika di tempat. Di balik tegarnya Beno, ternyata anak itu menahan sisi sedihnya.
 
“HIKS----BENO BAKALAN BENCI TUHAN KALO TUHAN KEMBALI NGAMBIL ORANG YANG BENO SAYANG!”
 
Raffa berlari ke arah Beno seraya mendekap anak itu, Beno terus menendang, melepaskan pelukan itu. Raffa menyentak aksi Beno dan langsung menatap Beno percaya diri.
 
“Beno gak boleh ngomong gitu, tuhan itu baik, buktinya tuhan masih ngelindungin Beno dari orang orang jahat.” perkataan Raffa membuat Beno diam lalu menghapus air matanya kasar.
 
“Tapi hiks, kalo tuhan baik kenapa tuhan ambil Mama Beno Om? Kenapa!”
 
Raffa mendudukan Beno di kursi yang tadi Beno sempat duduki, dan Raffa pun berjongkok di hadapan Beno menyeimbangkan dirinya Dengan Beno.
 
“Semua Manusia itu punya tuhan, jadi tuhan bisa ambil Mama Beno kapan aja, dan di gantikan dengan orang baik di sekitaran beno. Contohnya teman- teman Beno.”
 
Beno tidak bergeliming di tepat, ia justru langsung memeluk Raffa dengan erat.

Raffa yang melihat aksi Beno pun tersenyum seraya menadahkan wajahnya ke langit. “Mulai sekarang, Beno, Adit dan Ammad udah Om Raffa anggap sebagai anak Om sendiri.”
 
Beno semakin mengeratkan pelukan itu dan menangis di pelukan Raffa.

••

SIAP UNTUK PART SELANJUTNYA?

MUNGKIN PART SELANJUTANNYA TAMAT YA GUYS:)

BTW BANTU SHARE CERITA NERD HUSBAND KE TEMAN TEMAN KALIAN YAP💗

TERIMAKASIH🙏

Nerd HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang