Genre: General Fiction
•••
Menikah dengan Pria yang Introvert berpakaiannya saja sudah seperti orang yang selalu ingin di Bully.
Bagaimana keselanjutan pernikahan ini? Apa berjalan dengan baik atau sebaliknya.
Rank.
#01 Nita 29.04.2021
#07 Berub...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Wisuda, proses akhir dalam rangkaian kegiatan akademik pada perguruan tinggi. Sebagai tanda dimana seseorang telah menyelesaikan studi di bidang jurusan yang ia pilih.
Seorang yang tak lain Raffa. Pria yang sekarang banyak mengengam banyaknya bouquet bunga.
Tapi dirinya malah menatap sekeliling, tanpa adanya seseorang yang dulu ia harapkan datang kepadanya dan memberi ucapan yang selalu ia nantikan. Raffa berdiri sendiri dari banyaknya orang ratusan mahasiswa lainnya.
Setelah melaksanakan pemotretan bersama Agus dan Santi. Raffa berjalan ke arah Agus dan Santi untuk berpamitan kepada Papanya serta Mamanya.
“Selamat ya sayangku, Mama bangga banget sama kamu,” ucap Santi seraya memeluk Raffa.
Raffa menganguk seraya meletakan beberapa butket. “Udah berapa kali mama ngucapin selamat ke Raffa.” balas Raffa terkekeh.
“Anak Papa emang paling pinter,” tambah Agus.
Raffa tersenyum seraya memeluk Papanya secara bergantian. “Raffa kan keturunan papa.”
“kamu flightjam berapa Nak?” tanya Agus.
Raffa melihat pergelangan tangan nya dan kembali mengalihkan pandangannya kepada sang papa. “Ini Raffa mau berangkat ke bandara Pah,” balas Raffa dengan keantusiasnya.
Santi dan Agus saling menoleh dan tersenyum kecil.
“Kamu gak mau ganti baju dulu?” tanya Santi melihat Raffa yang masih berpakain kain toga.
Agus dan Santi hanya menganguk lalu memeluk Raffa dengan erat, membuat Raffa binggung. “Kalian kenapa?” tanya Raffa seraya mengerutkan keningnya.
“Semoga perjuangan kamu enggan membiat kamu kecewa ya nak,” celetuk Agus yang membuat Raffa tambah binggung tapi detik itu juga Rafffa hiraukan.
Raffa menganguk, menyalimkan kedua tangan orang tuanya lalu pergi menaiki mobilnya.
Di seperjalanan menuju bandara, Raffa terlihat bersemangat, senyumnya terus mengembang, tapi di saat dirinya mengigat paspornya, Raffa memberhentikan mobilnya sebentar lalu langsung mengecek Tas yang ada di sampingnya. Raffa membulatkan matanya saat pasporpenerbangannya nya tidak ada di tasnya.
“Perasaan udah dimasukin,” gumannya panik.
Raffa kembali menghidupakan mesin mobilnya, berputar balik. Di tambah waktu yang begitu cepat berjalan membuat Raffa terus mengeram kesal. Semoga saja dirinya tidak ketingalan pesawat.
Tidak mau dalam pikiran Negatif, Raffa terus fokus mengendarai mobilnya, sampai ia berhenti di rumahnya. Bertapa gesitnya Raffa langsung masuk ke dalam rumah tidak lupa membuka kunci rumahnya, dirinya mengerutkan kening di saat melihat paspor itu tiba tiba terletak di meja makan. Tidak ingin berfikir panjang lagi. Raffa langsung mengambilnya dan keluar dari rumahnya.
Sungguh panik serta ingin menangis, Raffa terus menyeret kopernya mencari info tentang pesawat yang ia ingin naiki saat ini.