Genre: General Fiction
•••
Menikah dengan Pria yang Introvert berpakaiannya saja sudah seperti orang yang selalu ingin di Bully.
Bagaimana keselanjutan pernikahan ini? Apa berjalan dengan baik atau sebaliknya.
Rank.
#01 Nita 29.04.2021
#07 Berub...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
••
Sudah dua minggu Nita belum membuka matanya, dokter bilang Nita mengalami pendarahanya yang sangat banyak. Dokter tidak bisa berbuat apa- apa selain sang keluarga yang terus merapalkan doa.
Tembakan dipunggung Nita juga yang belum kunjung kering, bisa dibilang luka itu semakin membasah, membuat Darah dan Nanah saling keluar bersamaan.
Kini Raffa tengah berdiri di depan pintu ruang rawat Nita, dengan Nita yang tengah bernafas dengan bantuan oksigen, membuat Raffa terus terdiam memandang kosong ke arah Nita.
Sampai dokter membuka pintu dan membuyarkan lamunan Raffa.
"Maaf dok," kata Raffa lalu beranjak dari situ.
Ia harus menemui Acha, Mama Mertuanya. Melihat Nita yang terbaring lemah di sini, membuat Raffa tak tega.
Dengan tekad percaya, dan Ikhlas. Raffa pun berlari dikorindo rumah sakit, lalu berjalan ke arah parkirannya, mengambil motornya.
Hanya butuh setengah jam untuk sampai di rumah Acha. Raffa mengetuk pintu rumah Mama mertuannya. Di saat pintu terbuka, Raffa langsung memeluk Acha.
Acha yang susah memendung air mata pun menangis juga. "Kenapa Nak?"
Demi perlahan, Raffa melepaskan pelukan itu dan bertekuk lutut di hadapan sang mama mertuannya.
"Mama boleh bawa Nita pengobatan di Belanda," ucapan Raffa membuat Mama Acha terkejut lalu membantu Raffa bangkit dan menyetuh pundak tegap Raffa.
"Kamu gak keberatan sayang?"
Raff menggeleng cepat seraya menghapus air matanya kasar. "Raffa gak bisa terus menerus ngeliat Nita tidur mah, Raffa pengen Istri Raffa sembuh,"
Acha yang mendegar penuturan Raffa pun langsung memeluk Raffa erat, seraya mengelus punggung Raffa. "Besok mama urus penerbangan Nita dan Mama."
•••
Malamini di rumah sakit tepatnya di kamar rawar Nita, Raffa terus mengengam serta mencium punggung tangan Nita. Malam ini adalah malam terakhir dirinya dan Nita. Air mata Raffa yang tadinya tidak turun kini turun kembali, selepas dirinya melihat air mata Nita yang turun walaupun hanya setetes.
Raffa mencondongkan dirinya ke arah Nita. Dan terus merapalkan ayat ayat suci alquran di telinga Nita.
"Ibu dari anak-anak aku pasti kuat kan?" Lirih Raffa menahan air matanya.
"Raffa--" panggil Naya dari luar kaca pintu.
Raffa menoleh dan menganguk melihat isyarat Naya dan Jessi ingin bergantian melihat Nita. Raffa pun keluar dari ruang rawat Nita lalu mendudukan dirinya di soffa.
Naya dan Jessi pun masuk ke dalam ruang rawat nita. Dengan menahan isak tangis, Jessi terus membekap mulutnya.
Naya terus mengalihkan pandangan, tak tega harus melihat sahabat nya terbaring lemah. Dengan tangan yang bergetar, tangan Naya terus mengelus punggung tangan Nita.
"Lo kuat kan? Seorang Nita yang terkenal jutek masa gini aja gak kuat," lirih Naya.
"Jangan lama-lama ya Nit bangunya, gue sama yang yang lain nungguin lo." Lanjut Naya.
"Besok hari terakhir lo di sini Nit, padahal kita mau sidang, terus wisuda, tapi lo malah sakit gini, takdir tuhan gak ada yang tau ya." Naya terus menadahkan wajahnya ke atap langit, menahan air mata agar tidak terus turun.
Jessi langsung memeluk Naya, mereka berdua berpelukan dengan Nita yang terbaring di ranjang.
Jessi melepaskan pelukan itu dan nendekatkan dirinya ke Nita. "Ngak ada lo kampus rasanya sepi, lo harus sembuh!"
Di sisi lain, Raffa terus memijat keningnya dengan hidung yang sembab merah.
"Raffa." Panggil seorang gadis yaitu Vina.
"Ah-Vin," jawab Raffa seraya menghapus air matanya.
"Kamu yang sabar ya, Nita pasti sembuh kok." Kata Vina menguatkan Raffa.
Raffa hanya diam dan menatap kosong lantai.
"Kamu harus kuat dan bangkit, kamu harus lebih kuat dari Nita, pasti di alam mimpi Nita, Nita tersenyum kalo kamu kuat dan bangkit percaya Nita akan bangun." Lanjut Vina yang membuat Raffa mendongkak.
Raffa pun tersenyum ke arah Vina lalu berkata. "Makasih Vin,"
"Kamu mau jenguk?"
Vina yang awalnya ragu menganguk kini menganguk cepat. "Masih ada jam besuk gak?"
"Masih ada 10 menit lagi, bentar aku suruh keluar Naya sama Jessi."
"Eh? Ada Naya sama Jessi? Gak usah Raffa, aku bisa besok," bukannya takut kepada jessi dan Naya, Vina hanya tak ingin menganguk Naya dan Jessi. Pasti kalian pernah kan merasakan kehilangan sosok sahabat?
"Gapapa, mereka udah cukup lama di dalam."
Vina pun menganguk dengan Raffa yang berjalan ke arah pintu ruangan. Setelah mengode Naya dan Jessi. Mereka pun keluar dengan mata yang bengkak sehabis menangis.
Vina langsung masuk ke dalam ruangan rawat Nita lalu mendudukan dirinya di sebelah Nita.
"Assalamuaikum Nita."
"Baru kemarin kita akrab, setelah berlalunya tahun, sekarang kamu udah mau tinggalin aku lagi, baru kemarin aku ngerasain kaya dulu, tapi lagi-lagi aku harus kehilangan kamu walaupun gak selamanya. Tuhan jahat gak sih? Kayanya Tuhan gak pernah mau ngeliat aku bahagia." Berulang kali Vina menghapus air matanya, walaupun di depan sang bunda Vina terlihat tegar, aslinya di dalam kamar ia selalu meraung menangis.
Perlahan demi perlahan, tangan Vina yang bergetar menyentuh punggung tangan Nita.
Bibir yang biasa tidak bergetar, kini bergetar hebat.
Menangis dan kembali menangis.
"Semangat." Lirih Vina lalu bangkit dan keluar dari ruang rawat Vina.
•••
Bandara Tepat dirinya dan Nita berpisah, walaupun tidak lama. Jika di liat dari raut wajah Raffa, Raffa terus terdiam menunggu mobil ambulan yang mengatar Nita datang.
Sama halnya dengan Jessi dan Naya yang terus melamun memikirkan sahabat satunya itu. Pastinya tidak seru jika pas sidang mereka tidak bertiga seperti tiktok yang Jessi liat.
Rencanannya jika sidang bersama, Jessi dan Naya serta Nita ingin membuat rencana seperti di VT itu.
"See you next day, Nita." Lirih Jessi.
•••
SEMOGA KALIAN SEHAT SELALU YA, TETAP SEMANGAT DAN TETAP PATUHIN PROTOKOL 3 M!!!
OWH IYA YANG BELUM FOLLOW DIRIKU MANGGA DI FOLLOW UYY ozoxox