Bagian 36

26.4K 1.6K 98
                                        

🔉Anything You Want-Reality Club

🔉Anything You Want-Reality Club

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

••

Pada dasarnya perasaan Raffa untuk Nita hanyalah kebohongan, Nita tinggal menunggu Raffa untuk berkata jujur kepadanya, apa harus dirinya dulu yang memancing Raffa agar Raffa berbicara duluan dan mengaku apa benar dia yang melakukan itu dengan sahabatnya sendiri?

Dan semua senyum serta perlakuan Raffa yang manis kepada dirinya, hanyalah akting yang ia pake selama ini?

Tidak Nita! Jangan berfikir seperti itu dulu sebelum Raffa yang menjelaskan itu semua dari mulut dirinya.

Berjalan ke arah rumah yang ia tempati dengan Raffa, Nita terus mengapus air matanya, bagaimana tidak membayangkan Naya dan Raffa kalo benar itu semua terjadi?

"Kak Nita!"

Nita menoleh ke belakang saat dirinya merasa ada yang memanggilnya. Nita segera menghapus air matanya dan tersenyum ke arah Beno.

"Kenapa Beno?"

Beno menarik tangan Nita untuk duduk bersamanya di bawah pohon yang tak jauh dari ia.

"Kak Nita lagi sedih?" Tanya Beno sambil memiringkan wajahnya ingin melihat wajah Nita yang sengaja Nita tutupi oleh tanganya.

Nita menggeleng seraya terkekeh, tapi kekehan ini seperti terdengar isakan menangis.

"Hiks--Siapa yang sedih ah," elak Nita dengan air mata yang kini turun.

Beno mengambil satu tangan Nita lalu ia gengam tangan Nita seraya mengelusnya.

Nita yang di perlakukan begitu oleh Beno ia kembali menangis dan menyenderkan kepalanya di pundak Beno yang lebih pendek darinya.

Nita terus menangis membuat tangan Beno terulur mengelus rambut Nita dengan pelan, seolah olah dirinya ingin menenangkan Nita.

"Beno gak suka liat orang sedih," ucap Beno tanpa sadar. Nita yang awalnya menatap depan kini mendongkak kan kepalanya menatap Beno yang sekarang menatap depan dengan tatapan kosong.

Beno menoleh ke arah Nita dengan senyumnya. "Kakak gak boleh sedih, karna, cantik kakak, akan hilang kalo kakak nangis,"

••

Jam menunjukan pukul 20: 25, Raffa belum juga kunjung datang pulang ke rumah, padahal Raffa berangkat subuh subuh karna beralasan ingin mencari sebuah kasus yang ia ingin jadikan makalahnya.

Dari subuh hingga malam?

Mata Nita sudah bengkak karna menangis seharian, ia tetap mendudukan dirinya di ruang tamu seraya mengengam kedua foto polaroid itu.

Ceklek.

Pintu gerbang terbuka, menampakan mobil Raffa yang baru saja memasuki Garasi, Nita bangkit dari duduknya menunggu Raffa masuk ke dalam rumahnya.

Melihat Raffa membuka pintu utama, Nita dengan cepat memasukan foto polaroid itu ke dalam saku celananya, yang Raffa liat pertama adalah Nita dengan wajah merahnya. Raffa menatap Nita sambil tersenyum kecil.

"Muka lo kenapa? Owh iya, tadi gue beli kebab di depan kampus, kesukaan lo kan?" Raffa tersenyum manis ke arah Nita, menyodorkan kebab itu kepada Nita.

Nita mengambil kebabnya, ia langsung meletakan kebab itu di meja soffa dan menahan tangan Raffa yang ingin kembali berjalan ke arah kamar.

Raffa pun berbalik ke arah Nita seraya mengerutkan keningnya. "Kenapa?"

"Lo gak capek?" Tanya Nita berusaha menahan air mata yang ingin keluar. Rintik hujan mulai terdengar di telingan Nita.

Apa semesta juga ikut merasakannya?

Raffa dan Nita saling pandang satu sama lain. "Maksudnya?"

"Apa lo gak pernah capek buat pura- pura berbuat manis sama gue? Gimana rasanya lo ngelakuin ini semua ke gue, padahal lo masih mendam dendam yang gue perlakuin dulu ke lo? Berpura- pura bersikap manis sama diri Gue, apa itu gak nyiksa lo Raff?"

Nita mengeluarkan foto polaroid itu dari celananya, ia mengambil satu tangan Raffa dan meletakan kedua foto itu di gengaman Raffa.

Raffa yang awalnya terkejut melihat foto itu, kini dirinya malah berdecih lalu tersenyum sinis ke arah Nita.

"Jawab INI BUKAN GUE, Raffa," ucap Nita dalam hati, semoga di dalam foto itu bukan Raffa dan juga Naya.

Raffa yang tadinya melihat kedua foto itu kini mengalihkan pandanganya ke arah Nita,"Ck. Jadi lo udah tau semuanya? Baguslah kalo lo tau itu semuanya. Jadi lo gak perlu tau itu semua dari mulut gue sendiri."

Nita yang mendegar kata kata yang keluar dari mulut Raffa seketika menegang di tempat.

"LO EMANG COWOK BAJINGAN YANG PERNAH GUE KENAL! APA MENYENANGKAN UDAH MENIKMATI TUBUH WANITA ITU? DARI SUBUH SAMPE MALEM INI LO BARU PULANG? SEGITU LAMANYA LO NGELAKUIN HUBUNGAN BEJAT LO SAMA WANITA MURAHAN LO ITU!"

Plak.

Raffa menampar pipi Nita langsung, membuat Nita terkekeh ke arah Raffa sambil mengibaskan bekas tamparan Raffa.

"Ternyata, ini sisi lain lo yang baru gue tau? AYOK KELUARIN SEMUA SIFAT LO!"

"Gue nggak sanggup Raff, gue mau kita udahin aja semuanya."

Air mata Nita sudah turun deras, membuat dirinya cepat menyeka air mata itu dan kembali berkata, "Terimakasih buat semuanya, gue ngga pernah nyesel kenal lo, diri lo ngebuat gue belajar apa itu kesetian dan penghianatan."

Raffa mengalihkan pandanganya dari Nita, dalam pipi yang merasa nyeri, kini ucapan Raffa yang bagaikan pisau menyanyat hatinya.

"Sejak awal niat gue nikahin lo bukan karna cinta! Kalo bukan salah perbuatan gue, gue juga nggak akan mau nerima pernikahan ini." Balas Raffa.

••

HAYUUU!!!!

GMANA PERASAAN KALIAN KALO ADA DI POSISI NITA?

*****

KOMENNYA BUAT PART INI?

KALIAN MAU SAD END?

ATAU

HAPPY END?

ENDING CERITA INI ADA DI TANGAN KALIAN, KALO KALIAN AKTIF DALAM VOTE AND KOMEN, GUE BAKALAN BUAT ENDING CERITA INI SESUAI DENGAN EKSPETASI KALIAN:)

KALO KALIAN MASIH SILENT READRESH, SIAP SIAP MENERIMA KENYATAAN AJA WKWKWK.

BTW BANTU SHARE CERITA INI YUPS KE TEMAN TEMAN KALIAN😍

TERIMA KASIH🙏

LANJUT? FOLLOW GUE DULU DONG ozoxox

Nerd HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang