Kasur Tidur-Idgitaf
Pesan untuk part sebelumnya?
••
Indonesia pukul 19:49. Seorang pria termenung di balkon kamarnya melihat rintik hujan yang membasahi kaca jendelanya. Menurutnya, hujan ini seolah-olah mewakili perasaannya.
Sudah 2 minggu Raffa merasakan kehilangan seseorang yang ia sayang, badan yang kurus serta kumis tipis yang sekarang sudah terlihat di wajahnya, kadang-kadang Raffa selalu berjalan ke dapur sambil mengitari dimana Nita suka tertawa sambil memotong sayuran untuk memasakan dirinya.
"Kamu lama banget sayang," lirihnya.
•••
Siangnya Raffa mendudukan dirinya dikelasnya, sesekali ia melirik jam yang terpasang pas di tangannya, membuat dirinya terus menghela nafas berat.
Kapan waktu bisa berjalan cepat?
Setelah beberapa jam mengikuti mata kuliah hari ini, Raffa pun kembali berjalan keluar kelas dengan beberapa buku yang ada di pelukannya.
Raffa terus berjalan di korindo kampusnya, saat dirinya melewati kursi yang biasa ia duduki oleh Vina, membuat dirinya terkekeh bertapa lucunya di saat Nita memarahi Vina sewaktu itu.
"Raff." panggil seseorang yang membuat Raffa langsung memutarkan badannya.
"Iya?"
Naya dan Jessi saling menatap satu sama lain, membuat Raffa binggung.
Jessi menarik tangan Raffa, membawa Raffa ke salah satu kelas yang terlihat kosong, diikuti dengan Naya.
"Kenapa sih?" Jengkel Raffa.
Naya memberikan ponselnya di hadapan Raffa dan membuat Raffa semakin binggung.
"Lo mau liat kondisi Nita kan?" Tanya Naya.
Raffa meraih ponsel itu lalu membalikan ponsel Naya, dan langsung menatap ponsel itu yang terhubung vidio call, dimana ia melihat Nita yang masih terbaring lemah tanpa ada lagi alat alat yang di pasang di tubuhnya.
Raffa melirik Naya dan Jessi. "Nita sembuh kan?"
"Dokter nyerah Raff, dokter udah ngelepas semua alat yang membantu Nita, cuman Infusan yang ngebantunya."
Mendegar penuturan Jessi, membuat mata Raffa langsung memerah. "LO BERCANDA KAN?"
Naya mengambil ponselnya dan mematikan sambungan itu, sebelum ia menarik Jessi keluar dari kelas itu, ia sempat berkata. "Lo mau percaya apa engga, gue gak peduli. Lo liat sendiri kan?"
Tubuh Raffa seketikan merosot, membuat tangannya menjambak rambutnya dengan kasar. "ANJING."
•••
Disisi lain, Naya yang baru saja keluar kelas tiba tiba mendapatkan notifikasi telpon dari mama Acha.
Naya yang tadinya lesuh kini malah antusias sendiri dan langsung menarik Jessi untuk mendekat ke dirinya. "Mama Acha Jess!" Pekiknya.
Jessi yang awalnya hanya diam kini melotot tidak percaya ke Naya dan mendekatkan dirinya ke Naya.
"Hallo Naya," panggil Acha di sambungan vidio call itu.
Naya menetralkan dirinya lalh tersenyum ke layar ponsel itu, begitu pun dengan Jessi.
"Hallo Mah,"
"Kalian mau liat Nita?" Tanya Acha yang mendapatkan anggukan dari naya.
"Mau Mah." Lirih Jessi.
Senyum Naya dan Jessi yang awalnya menyiratkan kesenangan kini berubah malah membuat senyum itu menjadi senyum kesedihan.
"Mah?" Panggil Naya di saat mendegar isakan tangis dari sebrang sono.
"Dokter nyerah Naya," Jawab Acha dengan isakan tangisnya.
Jessi menggeleng cepet, Naya yang melihatnya langsung menjerit tangis.
"Tapi Nita masih ada kan mah?" Tanya Jessi.
Acha tak mengalihkan sambungan itu ke dirinya, ia tetep menghadapkan kameranya ke arah Nita.
"Masih sayang,"
"Nita pasti kuat, Jessi sama Naya percaya itu,"
Sebenarnya untuk memperlihatkan kondisi Nita ke Raffa membuat Naya dan Jessi sangat sulit memberi kabar ini, melihat Raffa yang lesuh dan tidak ada jiwa semangat aja, membuat Jessi dan Naya berkaca-kaca. Tapi jika ini di rahasiakan kemungkinan tidak bisa.
Berlari dari Gedung manajemen ke Gedung Hukum, membuat Naya dan Jessi pantang menyerah. Mereka Terus mencari cari Raffa membuat keduanya harus berpencar dan bertemu temu Raffa di danau kecil dekat korindo. Setelah memberi tahu kabar itu ke Raffa, membuat mereka pergi dari hadapan Raffa.
•••
Malam ini, Raffa memutuskan untuk membuang pikiran Negatif yang terus menganjal di hatinya serta pikirannya, kini dirinya tengah fokus ke laptop dan kembali menyusun skripsinya. Kadang ke tidak fokusnya membuat ketikannya banyak salah disetiap kata.
"FOKUS ANJING!" kesalnya.
Kembali mengetik lagi, membuat Raffa langsung menutup laptopnya dan menadahkan wajahnya ke atap langit, dirinya menoleh ke arah dapur sambil tersenyum pedih. Biasanya di saat dirinya lagi mengerjakan tugas kuliah, Nita selalu tersenyum dari dapur sambil mengaduk makanan yang dia buat untuk makan malam.
Kini tubuh Raffa kurus tidak seperti masih bersama Nita, Raffa beranjak dari soffa lalu berjalan ke arah dapur, untuk membuat susu.
Bertapa pedihnya disaat ia melihat tulisan Nita yang tertampang di rak bumbu.
Suamiku, ini khusus Bumbu Masakan, Kopi sama Teh and Susu bukan di sini tempatnya♡
Tangan Raffa terulur menyentuh kertas itu dan tersenyum sembari mengusapnya.
"Aku tau sayang," balasnya berbicara sendiri.
Entah tiba tiba, air mata Raffa jatuh ke pipi, membuat pria itu langsung mengalihkan pandangannya.
"Kamu harus kuat dan bangkit, kamu harus kuat dari Nita, pasti di alam mimpi Nita, Nita tersenyum kalo kamu kuat dan bangkit percaya Nita akan bangun."
Ucapan Vina tiba tiba terlintas di otaknya, membuat Raffa secara langsung menghapus air matanya.
"Cengeng banget sih Raff!" Gumannya frustasi.
Setelah menuangkan Susu, Raffa pun kembali ke laptopnya dan mulai melanjutkan skripsinya. Di saat skripsi ini selesai, Raffa akan cepat memberikannya kepada pembimbingnya, agar cepat di setujuin dan cepat cepat sidang.
"Kamu harus kuat sayang,"
•••
JANGAN LUPA UNTUK VOTE AND KOMEN:)
KOMEN NYA UNTUK PART INI?
YUK BANTU SHARE CERITA INI KE TEMAN TEMAN KALIAN♡
KAMU SEDANG MEMBACA
Nerd Husband
Storie breviGenre: General Fiction ••• Menikah dengan Pria yang Introvert berpakaiannya saja sudah seperti orang yang selalu ingin di Bully. Bagaimana keselanjutan pernikahan ini? Apa berjalan dengan baik atau sebaliknya. Rank. #01 Nita 29.04.2021 #07 Berub...
