Hari semakin sore. Hafiz benar benar membawa Anne ke rumah sepupunya, Nakula. Mereka izin dengan alasan tubuh Anne yang kurang sehat dan untungnya pihak sekolah mengizinkan mereka.
Rumah Nakula memang sepi karena kebetulan kedua orang tuanya kerja di luar negeri. Hafiz bahkan selalu menemani kakak sepupunya itu agar tak kesepian d irumahnya maka dia juga memiliki kunci cadangan untuk jaga jaga. Pembantu disini hanya bekerja setengah hari dan hanya ada satpam didepan pagar untuk menjaga rumah.
"Nih gue beli susu kesukaan lo," Hafiz menyodorkan kantong kresek yang isinya sekitar 4 susu fullcream kesukaannya dan beberapa camilan.
Sejak tadi Anne tidak mau makan makanan yang disuguhkan oleh Hafiz. Gadis tersebut diam melamun kembali seperti malam kemarin bahkan pandangannya sangat kosong. Hafiz sedikit khawatir jika keadaan Anne kembali drop karena traumanya, ia tidak lupa pesan dokter bahwa Anne tidak boleh dibiarkan sendirian.
"Ann, gue kan bilang jangan kebanyakan ngelamun. Inget pesen dokter kemarin," Anne hanya mengangguk lemah sebagai jawaban.
"Lo mau apa? Gue beliin deh. Makanan kesukaan lo gitu," tak ada jawaban lagi dari Anne. Hafiz hanya bisa pasrah. "Anak anak lagi jalan kesini, lo jangan terlalu banyak pikiran iya?" Hafiz mengusap pucak kepala Anne dengan lembut.
"Gue ke--"
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan pintu yang sangat kencang memotong ucapan Hafiz. Sedikit heran, jika itu Nakula kan bisa saja langsung masuk dan kalau pun itu teman temannya kenapa mengetuk pintu begitu keras.
"Siapa sih?! Ngetuk pintu gak santai banget!" gumamnya. "Gue buka pintu dulu." pamitnya pada Anne.
Saat pintu terbuka lebar, mulut Hafiz menganga lebar dan matanya melotot seketika. Tak ia sangka kehadiran orang tersebut disamping tubuh sepupunya. Lelaki dihadapannya berwajah datar dan nafasnya yang tak teratur.
"Mana adik gue?"
"Ba--bang Hesa?"
"MANA ADIK GUE?!!" teriak Hesa lantang. Anne langsung mendongak dan tersadar dari lamunannya.
Hesa hendak menerobos masuk namun Hafiz mencegahnya dengan berdiri ditengah tengah pintu. "Bang, jangan---"
"APAA?! Lo mau nyembunyiin adik gue lagi, iya?! LO PIKIR GUE BODOH!" Hesa mendorong tubuh Hafiz dengan kasar.
"Gue udah hubungi lo dari tadi kalau Hesa menuju kesini tapi lo gak baca baca pesan gue." ujar Nakula.
"Maaf, gue sibuk rayu Anne buat makan."
"A--abang?"
"Pulang sekarang!" ujar Hesa dengan nada super dingin.
Anne menggeleng cepat, bagaimana bisa ia pulang dengan keadaan yang super berantakan dan emosi Hesa yang memuncak. Orang tua mereka pasti akan khawatir.
"ABANG BILANG PULANG IYA PULANG!" Anne sontak memejamkan matanya mendengar bentakan dari kakaknya.
"ANNE!!" teriak semua temannya.
Mereka tau jika didalam ada Hesa karena mobilnya yang jelas terparkir di halaman rumah Nakula. Ditambah suara bentakan Hesa yang hampir terdengar didepan pintu.
"Bang, ini salah kita karena nyembunyiin masalah Anne. Jangan bentak dia, bang." ujar Dave.
"Kita sengaja mau urus semua masalah Anne sendiri dan gak mau ngerepotin bang Hesa." bela Demas.
"Te--tenang aja, bang. Semuanya u-udah beres kok," timpal Bintang dengan gugup.
"Kenapa lo tiba tiba gagap, anjir?!" bisik Arsy. Bintang sontak menyikut perut Arsy karena kepergok olehnya, sedikit malu namun suasana lagi tegang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Story Anne
Teen Fiction[‼️𝘽𝙐𝘿𝘼𝙔𝘼𝙆𝘼𝙉 𝙁𝙊𝙇𝙇𝙊𝙒 𝙎𝙀𝘽𝙀𝙇𝙐𝙈 𝙈𝙀𝙈𝘽𝘼𝘾𝘼‼️] Anne Chintya Hinata, sosok gadis atlet berkuda yang memiliki sifat begitu dingin, tertutup, cuek atau sering disebut coldgirl. Anne mempunyai paras cantik dan bentuk tubuh indah yan...
