•58•

2.5K 220 9
                                        

Tok! Tok!

Suara ketukan pintu mampu membuat lamunan Dave terbubarkan. Kini ia berada di kamar dan sudah mengurung diri semenjak pulang sekolah. Ia menatap jam dinding di kamarnya dan tak menyadari bahwa melamun sampai hampir waktu maghrib.

Gue ngelamun segitu lamanya?

Helaan nafasnya begitu berat. "Siapa?"

"Ini ayah, Dave."

"Masuk, yah! Gak dikunci kok,"

Ceklek!

"Kamu kenapa di kamar terus? Ayah kira kamu belum pulang tapi kata adik adik kamu udah pulang dari tadi,"

Dave tersenyum kecil. "Dave cuma sedikit pusing karena masalah olimpiade minggu depan, yah,"

"Jangan bohong sama ayah. Ayah tau semua penyebab kamu sering mengurung diri di kamar gini,"

"Yah, Dave baik baik aja kok,"

Ayah menepuk bahu putranya. "Meskipun ayah jarang di rumah tapi ayah tau kehidupan kamu di sekolah. Jangan bohongi ayah terus, Dave,"

"Yah--"

"Ayah dapat kabar kalau kamu sama temen temen kamu ngecewain keluarga Satria. Apa ini alasan kamu sering gak fokus di sekolah?"

"Ma--maaf, yah. Dave kepikiran Anne terus," jawab Dave, ia setia menunduk dan memainkan jemarinya.

Ayah menghembuskan nafas panjang. "Wajar kalau keluarga Anne kecewa karena itu bukan masalah biasa, nak. Itu masalah nyawa Anne yang terancam. Kenapa kalian bertindak ceroboh gini siha? Kamu kan bisa bilang ayah atau perlu bawa dia kesini saat itu, biar gak makin panjang masalahnya,"

Dave menggeleng pelan. "Dave gak tau saat itu harus berbuat apa bahkan kalau boleh jujur, Dave juga kecewa sama diri Dave sendiri karena udah suruh Anne nunggu rapat olimpiade. Andai--"

"Udah, gak perlu diterusin. Ayah udah tau semuanya kok. Terus bagaimana kabar Anne?" tanya Ayah.

Dave menggeleng kembali. "Gak ada yang tau kabar Anne bahkan kita dilarang masuk kerumahnya, semua atas perintah om Satria. Seminggu juga Anne gak masuh sekolah, yah padahal minggu depan Dave sama Anne bakalan ke Perancis buat lomba."

Ayah menatap putranya dengan perasaan kasihan, ia paham ini adalah pertama kalinya Dave jatuh cinta bahkan bisa dibilang cinta pertama putranya. Memang baru Anne yang berani ia bawa kehadapan dirinya.

"Iya ayah tau mungkin sekarang keluarga Anne butuh waktu dan kalian juga harus belajar dari kejadian kemarin. Jangan ceroboh lagi buat keputusan!"

"Dave harus apa, yah? Dave pingin ketemu Anne lagi. Dave tau, Dave salah udah ngecewain keluarga om Satria tapi... tapi beneran Dave saat itu cuma mau lindungi Anne dari amarah kakaknya. Kakaknya janji akan bawa Anne keluar negeri kalau gak bisa jaga diri. Dave takut semua itu terjadi, yah," tanpa Dave sadari air matanya mulai menetes.

"Dave, itu gak akan terjadi percaya sama ayah. Om Satria gak akan setega itu sama kamu,"

"Semua temen Dave selalu bilang gitu, yah tapi tetep aja Dave gak bisa tenang. Dave takut suatu saat ketakutan Dave akan jadi kenyataan. Dave gak mau kehilangan wanita yang Dave sayang lagi, cukup bunda aja!" ia menjambak rambutnya frustasi.

Mendengar putranya yang kembali mengungkit kepergian istrinya, Rio ikut dalam kesedihan. Ia juga masih sering mengingat almarhum istrinya walaupun sekarang sudah memiliki penggantinya.

"Percaya sama ayah, Anne gak akan pergi ninggalin kamu. Ayah lihat kok dari matanya kalau dia sangat mencintai kamu. Jangan terlalu dipikirin iya, nak," ayah mengusap puncak kelapanya putranya. "Mungkin keluarga Anne hanya butuh waktu. Sekarang kamu fokus olimpiade buat minggu depan aja."

Love Story AnneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang