Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

[ABINARA 16]

223 25 0
                                        

"Oh iya, Bi. Kita akhiri pacaran pura puranya ya."

"Kenapa?"

Abi menatap Inara dengan seksama. Suara jangkrik yang mengkerik seperti alunan lagu di telinga Abi, angin dingin yang senantiasa memeluk mereka berdua juga tak kalah gencar.

"Karena Vito uda nggak ngejar gue lagi, tujuan kita berhasil yey!" Inara hampir melompat saat menjawab pertanyaan Abi, saking senangnya karena Vito sudah tidak mengejar ngejar Inara lagi. Sampai Inara tidak sadar bahwa kini tangannya memegang telapak tangan Abi yang dingin.

"Ups, sorry..." ucap Inara merutuki dirinya sendiri seraya melepas genggaman tangannya dari tangan Abi.

"Gapapa, gini aja." Abi meraih kembali tangan Inara yang dingin untuk dia genggam.

Mata Inara membola, apa yang Abi lakukan sekarang sungguh membuat Inara bingung, padahal tadi Inara tidak sengaja memegang tangan Abi, namun begitu Inara hendak melepas tangannya dari tangan Abi, Abi malah menahannya dan langsung menggenggam balik tangan Inara. Namun tidak dipungkiri, Inara juga senang.

"Lo nggak salah, kita pegangan tangan?" tanya Inara hati hati.

"Enggak, lo dingin kan?"

"Iya, banget."

"Gue nggak mau, temen gue kedinginan," ucap Abi seraya mengeratkan genggamannya kepada Inara.

Sial! Abi ini bisa aja kalo ngomong. Mau tidak mau Inara tersenyum malu, di dalam jantungnya sudah seperti pesta kembang api yang meletup letup.

"Kita udah kek orang mau nyebrang tau," imbuh Inara seraya terkekeh geli. Tanpa sungkan Abi juga ikut terkekeh mendengar gurauan Inara.

Inara membuat gurauan itu hanya untuk mencairkan kegugupannya, karena sungguh, jantung Inara berdetak lebih cepat dari biasanya.

Hening, Mereka berdua sibuk dengan isi hati mereka yang random.

"Bi, boleh tanya sesuatu?" tanya Inara, tanpa menatap Abi, dan hanya menatap tangannya yang masih dalam genggaman Abi.

"Apa?"

"Apa yang akan lo lakukan, jika masalalu lo selalu menghantui dan membuat lo selalu dirundung gulita?" tanya Inara, tatapannya beralih pada bara api di depannya.

"Berdamai," jawab Abi.

"Berdamai dengan orangnya? nggak mungkin, Bi."

"Tidak wajib untuk berdamai dengan pelaku di masalalu. Tapi gue harap lo bisa berdamai dengan peristiwanya, dan memaafkan baik kepada pelaku maupun peristiwa itu."

Inara diam, menyimak seksama apa yang abi katakan. Berdamai dan memaafkan? tidak mungkin! Inara mana bisa seperti itu, masalalunya terlalu kejam, dan Inara sama sekali tidak ada pandangan untuk berdamai dengan peristiwa maupun pelaku di masalalu.

"Itu nggak mungkin Bi, gue selalu teringat setiap detail peristiwa itu, dan itu sakit," balas Inara dengan suara sedikit bergetar. Entah mengapa, Inara ingin jadi cewe cengeng jika bersama dengan Abi.

"Gue nggak bilang, untuk lo harus lupa peristiwa itu kan?" koreksi Abi.

"Terus maksudnya, apa?" bingung Inara.

"Berdamai itu wajib, tapi melupakan itu tidak wajib. "

Mereka saling tatap dengan isi hati masing masing, Inara masih kurang setuju dengan apa yang abi katakan, disisih lain Abi seperti menemukan kelabu di balik mata Inara.

"Lo tahu? kaca yang retak masih bisa di perbaiki walaupun bertuknya tidak sama lagi. Sama Na, kayak hati."

***
Inara berjalan ringan menuju tenda panitia, setelah kegiatan jelajah alam yang pesertanya adalah siswa siswi angkatan baru. Rasa capek Inara seperti hilang begitu saja saat mengingat apa yang dia lakukan dengan Abi semalam. Ah, rasanya masih seperti mimpi, berbincang hal serius dengan Abi, di depan bara api bekas api unggun, pake pegangan tangan pula.
Dalam kegiatan jelajah alam barusan, Abi juga lebih sering melirik Inara jika berpapasan, walaupun singkat itu adalah perkembangan pesat bagi Abi, menurut Inara.

" Sumringah amat, Neng?" Viola menyenggol bahu Inara seraya menyamakan langkah kakinya.

"Apa sih Vio, sirik aja ih," balas Inara seraya menyunggingkan senyum.

"Ya lo, berseri banget mukanya. Lo masih bahagia kan? cerita dong..." rengek Viola mengamit lengan Inara.

"Apa sih, nggak ada apa apa tauk," imbuh Inara yang tak lepas dengan sunggingan senyumnya.

"Anjayani! lo mah gitu. Nggak asik ah," gerutu Viola ngambek.
Inara yang menyadari reaksi Violapun hanya terkekeh pelan.

"Na, ada tamu," ucap salah satu Dewan Ambalan yang jaga gerbang bumi perkemahan___tiba tiba.

Inara dan Viola mengerutkan kening, setahu mereka di kemah WTPB itu tidak boleh ada yang menjenguk baik peserta maupun panitia.

"Siapa? Mama gue?" tanya Inara bingung.

"Bukan Njir, orang ini laki. Kayak Mahasiswa gitu," jawab si penjaga gerbang.

"Siapa ya? Kakak lo kali Vio," tebak Inara ngawur.

"Ogeb banget! kalo kakak gue, dia bakal bilang mau cari gue, bukannya malah cari lo," balas Viola seraya menjitak kepala Inara.

"Yaudah, cepet ditemui, biar para peserta kemah nggak pada iri, liat lo ada yang jenguk," ucap si penjaga gerbang.

"Iya iya! Vio, gue nemui tuh orang dulu ya," pamit Inara kepada Viola.

"Perlu gue anter nggak?" tawar Viola.

"Nggak usahlah, gue duluan, dadah."

Inara pergi meninggalkan Viola menuju gerbang utama bumi perkemahan. Inara masih penasaran siapa yang ingin bertemu dengannya sampai harus menemuinya saat ada kegiatan seperti ini.

"Itu Na, orangnya," ucap si penjaga gerbang seraya menunjuk ke seorang lelaki bertubuh jakung.

Inara menghentikan langkahnya, menelan ludah dengan tubuh bergetar hebat.

"Sean..."

🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤

Baruuuu aja dibuat terbang sama Abi.
Eh, ini siapa? dateng dateng bikin Inara bergetat hebat? Sean? siapa tuh...

Jangan lupa Vote dan komen guys🖤
Aku sayang kalian🖤

ABINARA [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang