"Sean?" Langkah Inara terhenti, tubuhnya mematung dan pandangannya menatap lurus ke arah seorang lelaki bernama Sean itu.
Sean yang semula sibuk dengan ponselnya kini menatap Inara dengan tatapan rindu yang mendalam. Bagaimana tidak rindu? Inara gadisnya, dua tahun mereka dipisahkan dengan sangat kejam oleh semesta.
"Na, apa kabar?" tanya Sean, berjalan mendekat sampai menyisahkan sedikit jarak dengan Inara.
Mata Inara menyalang, menatap was was kearah Sean. Tubuhnya bergetar hebat, tangannya mengepal hebat sampai buku buku jarinya memucat saking kuatnya gadis itu mengepal.
"Kabar?" tanya Inara dengan senyum miring.
"Iya, kabar kamu," balas Sean seraya menatap Inara tulus.
"tadinya kabar gue baik, Sean. Tapi setelah liat lo, kabar gue sekarang tidak baik.," ucap Inara dengan menekankan kata tidak baik.
Sean hendak meraih tangan Inara namun terurung saat Inara tiba tiba memundurkan langkah, menghindar.
"Na, tolong. Aku rindu..." ucap Sean frustasi, tatapannya benar benar menohok Inara sampai ke ulu hati.
Inara menggertakkan giginya, rahangnya mengeras.
"masih sempatnya lo bilang rindu, saat semuanya sudah berakhir?" tanya Inara seraya mendorong pelan bahu sean, dia tak kuasa untuk mendorong dengan tenaga penuh, kakinya benar benar lemas sejak kedatangan Sean.
"Apanya sih Na, yang berakhir? Kamu masih disini, aku masih disini. Dan kita masih bisa untuk bersatu dan saling memaafkan!" jelas Sean dengan mata berkaca kaca.
"Bukan itu yang gue maksud, brengsek!"
PLAK
Sean menunduk setalah mendapat tamparan keras oleh Inara barusan. Berubah, Inara yang manja dan lincah sudah berubah ulah dirinya.
"Bokap gue mati karna lo! Nyokap gue stress karna lo! Dan gue jadi pembunuh juga karna lo! Dan lo masih mikirin kalo kita masih bisa bersatu? Sinting lo!" teriak Inara histeris. Persetan dengan semua orang di bumi perkemahan yang menatapnya aneh bahkan penasaran.
"Nana aku minta maaf," ucap Sean mendekatkan langkahnya dengan Inara. Namun lagi lagi Inara memundurkan langkah.
"Maaf lo ngga bisa ngehidupin orang mati sean, dan maaf lo ngga bisa ngembaliin nyokap gue seperti dulu lagi..." lirih Inara menatap nyalang ke arah Sean.
"Na, mending aku mati aja daripada harus pisah sama kamu. Aku bisa gila Na, tanpa kamu," ucap Sean yang kali ini berhasil meraih tangan Inara.
"Iya, mending lo mati aja, mending lo gila sekalian. Gue nggak mau balik lagi sama lo bangsat!" Inara meronta karena cekalan Sean semakin erat, kejadian dua tahun yang lalu benar benar kembali berputar di kepala Inara, semakin jelas karena ada Sean di depannya.
Inara mulai pusing dan lemas, tubuhnya bergetar hebat dan dadanya sesak.
"Lepasin gue..." lirih Inara.
"Nggak! Sebelum kamu mau balik sama aku!"
"Tangan gue sakit brengsek!" pekik Inara pilu. Sebenarnya kata sakit yang keluar dari mulut Inara bukan semata mendefinisikan sakit yang ada di tangannya karena cekalan Sean, namun kata sakit itu sudah mendefinisikan segalanya.
"Nggak, Na."
"Lepasin." Seorang lelaki datang dengan sigap menangkis tangan Sean yang mencengkram erat tangan Inara. Reflek Inara langsung bersembunyi di balik punggung lelaki itu.
"Kamu siapa?" tanya Sean penuh amarah dan rasa cemburu karena melihat Inara bersembunyi di balik punggung lelaki lain. Dulu, punggungnya lah yang jadi pelindung Inara.
KAMU SEDANG MEMBACA
ABINARA [SUDAH TERBIT]
Fiksi Remaja[CERITA SUDAH TERBIT, DAN NOVEL BISA DI PESAN DI SHOPEE, BUKA LAPAK, LAZADA, DAN AKUN RESMI GUEPEDIA YAAA :)] [Cerita ini BELUM DIREVISI, silahkan yang mau cerita lengkap dengan ekstra part bisa langsung beli versi cetaknya yaaa] ⚠️Jika kalian mengi...
![ABINARA [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/263437773-64-k290691.jpg)