Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

ABINARA 23

186 24 0
                                        


Abi mengantar Inara pulang setelah membeli oleh oleh untuk Anjani yang tengah marah karena tidak diajak ke panti. Jauh jauh hari Anjani memang sudah berpesan kepada Abi untuk mengajaknya jika Abi ingin ke panti. Namun entah Abi lupa atau pura pura lupa, Anjani malah ditinggal di rumah.

" Makasih uda nganterin sampai rumah," ucap Inara canggung.

"Hm."

" Makasih juga sudah ngajakin gue ke tempat luar biasa kayak tadi."

"Sama sama."

Hening.

" Yaudah gue masuk ya," ucap Inara. Abi mengangguk sebagai tanda mengiyakan.

"Lo, lo dijalan hati hati. Jangan ngebut." Setelah mengatakan itu Inara membalikkan badan, hendak membuka pintu gerbang untuk masuk.

"Na," panggil Abi, akhirnya buka suara setelah hanya kata "Hm" dan anggukan yang dia suguhkan tadi.

"Ya?" Inara dengan cepat berbalik, tidak jadi membuka pintu gerbang.

"Jangan lupa besok senyum kalo ke sekolah. Lo, jelek kalo cemberut." Abi melajukan motornya setelah mengatakan itu. Inara tertegun, apa yang barusan Abi katakana sukses membuat Inara diam seperti tidak percaya bahwa yang tadi benar benar Abimanyu Putra Perwira yang bicara.

***

Keesokan harinya, Inara memutuskan untuk mengikuti apa pesan Abi, yaitu pergi ke sekolah dengan ceria dan senyum untuk mengawali pagi. Inara tidak keberatan, toh mungkin dengan ini Inara bisa sedikit lupa dengan masalahnya.

Inara menyusuri koridor sekolah yang sudah ramai oleh siswa siswi Plita Bangsa, Inara yang kemaren mengabaikan sapaan Siswa siswi Pelita Bangsa, kini tidak sabar untuk menebusnya dengan membalas sapaan mereka.

Ada yang aneh, biasanya kemanapun Inara berjalan di Pelita Bangsa, setiap murid yang bertemu Inara pasti akan menyapanya dengan riang. Namun kali ini tidak, mereka tidak menyapa Inara melainkan diam dan menatap Inara dengan tatapan aneh. Apakah mereka marah atas perilaku Inara yang kemaren kemaren? Inarapun tidak tahu.

Sampai Inara tiba di kelasnya, Inara tidak sabar untuk menemui teman temannya, Viola, Gina, dan Faira, untuk meminta maaf perihal Inara yang kasar terhadap mereka kemaren. Inara mencoba untuk melupakan kejadian di koridor tentang siswa siswi Pelita Bangsa yang menatapnya dengan tatapan aneh bahkan seperti tatapan kebencian. Kali ini Inara mau focus untuk meminta maaf kepada teman temannya.

"hai, kalian. Gue mau minta maaf perihal yang kemarin kemarin," ucap Inara mendekat ke meja Gina yang disana sudah ada Viola dan juga Faira.

Mereka bertiga melirik Inara jengah, seakan mata mereka berbicara, " Apaan sih!"

"Kalian marah?" tanya Inara dengan hati yang berdenyut sakit saat teman temannya tidak ada respond apapun.

"Maaf..." ucap Inara lagi tidak mau kalah, dia akan terus berusaha untuk mendapat maaf dari mereka.

"Guys, pindah ke kantin yuk. Males disini gue." Itu Viola yang angkat bicara, dan dalam hitungan ke tiga, Gina dan Faira mengikuti intruksi Viola. Mereka bertiga keluar kelas menuju kantin meninggalkan Inara yang terpaku. Biasanya mereka tidak kekanak kanakan seperti ini jika menyelesaikan masalah.

Mereka benar benar marah, gimana ini?

***

Bel istirahat berbunyi sepersekian detik yang lalu, Inara berjalan menuju kantin sendirian karena Viola, Gina, dan Faira tengah mendiamkannya, entah akan sampai kapan mereka akan mendiamkan Inara. Tatapan anak anak Pelita Bangsa masih aneh sejak tadi pagi, bahkan semakin parah, mereka bahkan ada yang menatap Inara dengan tatapan jijik. Inara mencari keberadaan Abi, namun anak itu tidak kelihatan batang hidungnya sejak pagi.

Inara tertegun saat melihat kerumunan yang tengah berdesak desakkan di depan Mading utama dekan kolam ikan. Sepertinya ada informasi penting yang Inara tidak tahu. Dengan pasti Inara ikutan berdesak desakan, penasaran akan informasi apa yang ada di madding.

" Permisi, permisi," ucap Inara seraya berusaha menerobos kerumunan itu.

" Informasi apa sih emang, kenapa desak desakkan bang___" Inara tidak melanjutkan ucapannya saat melihat apa yang ada di madding sekarang.

Jantung Inara seperti berhenti. Riwayatnya akan tamat sebentar lagi, rahasia besar yang Inara tutup tutupi selama dua tahun ini dengan rapih, kini malah terpampang jelas dipamerkan di madding. Di papan itu, ada banyak foto yang senonoh. Foto foto Dewi, Mama Inara yang menjadi pemandu lagu di tempat karaoke dan juga club, dan lebih parahnya lagi, di papan itu juga ada Foto foto Inara dua tahun yang lalu mengenakan baju compang camping dengan bagian dada dan paha yang sedikit tersibak.

Tubuh Inara bergetar saat suara anak anak Pelita Bangsa mulai merundungnya. Kejadian kejadian dua tahun yang lagu bukan terputar menjadi kaset rusak lagi, melainkan seperti kembali tayang dalam otak Inara.

" Parah sih Inara."

" Gila, gue piker dia alim."

"Dasar pelacur!"

"Jijik banget sumpah Inara."

"Dasar gadis kotor."

Inara benar benar tidak bergerak dari tempatnya saat mendengar makian makian itu.

Sepertinya gue nggak harus menunda waktu untuk mati. Benar, sepertinya ini saatnya gue mati.

ABINARA [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang