Sepulang sekolah Abi memutuskan untuk berkunjung ke rumah Inara. Bersyukur Abi tahu dimana alamat rumah Inara. Abi sengaja tidak mengajak teman teman Inara untuk ikut berkunjung. Mendengar viola, Gina dan Faira tidak ada yang tahu alamat rumah Inara, berarti memang ada sesuatu yang Inara sembunyikan. Seperti yang Inara katakana pada Abi pada suatu hari yang lalu, bahwa rumahnya adalah rahasia.
Abi menatap gerbang rumah Inara yang sebatas dadanya___dengan ragu. Abi takut jika kedangan Abi malah akan mengganggu Inara. Tapi sungguh, Abi khawatir. Mau nggak mau Abi harus masuk dan menemui Inara.
Gerbang rumah Inara tidak di kunci, ini kesempatan Abi untuk masuk dan mengetuk pintu utama.
"Assalamu'alaikum, Inara," salam Abi. Tidak ada sahutan dari dalam, namun Abi bisa mendengar dengan jelas ada suara barang pecah belah yang dilempar. Mendengar itu, Abi semakin yakin bahwa ada yang tidak beres.
"Assalamu'alaikum, permisi tante," salam Abi kembali. Belum ada jawaban dan belum ada yang membukakannya pintu.
"Assalamu'alaikum," salam kembali Abi, meyakinkan diri bahwa ada orang di rumah Inara dan akan ada orang yang membukannya pintu.
CKLEK
Seorang perempuan berumur kisaran menjelang 40 tahunan, membukakan pintu. Penampilannya berantakan, rambut yang terurai panjang seperti belum disisir, kelopak matanya berwarna hitam seperti panda, Abi yakin orang itu tidak tidur berhari hari. Wajah wanita paruh baya itu terlihat sangat kelelahan. Dia adalah Dewi.
"Wa'alaikum salam. Ada yang bisa saya bantu, nak?" tanya Dewi.
"Saya Abi, tante. Temannya Inara," balas Abi berusaha menampilkan senyumnya.
"Owalah, teman Inara toh. Mari masuk, nak Abi." Dewi membimbing Abi untuk masuk ke dalam rumah.
Abi terkejut saat melihat sekeliling rumah Inara yang sangat berantakan. Pecahan vas bunga di lantai, panci yang seharusnya di dapur malah menjembul keluar sampai ke ruang tamu, korden jendela yang lepas dari pengaitnya, dan...banyak barang pecah belah lainnya yang berserakan di lantai.
"Maaf ya, nak Abi. Rumahnya berantakan, tante belum sempat bersihin semenjak Inara sakit," ucap Dewi merasa tidak enak.
"Nggak papa kok tante" balas Abi kikuk seraya menatap kepergian Dewi yang menuju dapur. Sepertinya Dewi ingin membuat minuman untuk Abi.
"Bangsat! Aaarrrggghhttt, mau mati aja!" teriak seseorang dari dalam kamar bersamaan dengan suatu barang yang berbunyi, BUK___yang seperti di lempar mengenai pintu.
Abi terkesiap, itu seperti suara Inara. Bersamaan dengan itu, Dewi berlari kencang dari dapur menuju ke suatu kamar.
"Nak, Abi sebentar ya. Kalo tante lama, tinggal pulang nggak papa. Tante masuk kamar Inara dulu ya," pesan Dewi yang langsung melesat begitu saja menuju kamar Inara.
BLAM
Belum sempat Abi bertanya, yang tersisa hanya suara pintu kamar yang di tutup. Abi jadi teringat ucapan Inara tentang Mamanya yang jarang mengurusnya dan suka hura hura di dunia malam. Namun, sosok Mama yang Abi temui sekarang berbeda, sosok Mama yang abi temui sekarang adalah sosok Mama yang peduli, khawatir, dan sangat sayang kepada anaknya. Tidak mungkin kan, Inara berbohong?
"Nana! Nana, Mama bilang jangan, udah ya, Mama disini, udah...okey?" Samar samar Abi mendengar suara Dewi yang berada di dalam kamar Inara, bersamaan dengan suara Dewi yang samar samar, Abi mendengar suara gadis menangis, Abi yakin itu Inara.
Kekhawatiran Abi semakin bertambah setelah melihat dan mendengar situasi yang ada sekarang. Sepertinya Abi tidak tahu apa apa dengan apa yang tengah terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
ABINARA [SUDAH TERBIT]
Teen Fiction[CERITA SUDAH TERBIT, DAN NOVEL BISA DI PESAN DI SHOPEE, BUKA LAPAK, LAZADA, DAN AKUN RESMI GUEPEDIA YAAA :)] [Cerita ini BELUM DIREVISI, silahkan yang mau cerita lengkap dengan ekstra part bisa langsung beli versi cetaknya yaaa] ⚠️Jika kalian mengi...
![ABINARA [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/263437773-64-k290691.jpg)