Pagi dihari rabu ini berjalan seperti hari hari biasanya, bagi orang orang. Berbeda bagi Inara, pagi ini menyebalkan, menyakitkan, juga memuakkan. Inara berangkat ke sekolah dengan disambut tatapan tatapan mengejek, kebencian, dan juga jijik, tidak lupa dengan hujatan hujatan bertema pelacur yang anak anak Pelita Bangsa lontarkan.
Inara menyusuri koridor sekolah dengan menyumpal kupingnya dengan earphone berwarna ungu miliknya. Berjalan cepat agar segera sampai di kelasnya.
Saat sudah sampai di kelasnya, Inara langsung meletakkan tasnya di kursi miliknya. Namun betapa terkejutnya Inara dengan kondisi mejanya pagi ini.
Di meja tempat duduk Inara, banyak sekali coretan tipex dan juga spidol, tulisan itu berbunyi,
"Inara pelacur!"
"Dasar anak haram!"
"Mati aja sana."
"Dasar wanita murahan."
"Mampus ga ada teman, pelacur!!!"
Kurang lebih seperti itu bunyi coretan coretan di meja Inara. Di atas coretan itu juga banyak sampah dengan bau yang menguar hebat.
Inara dengan cekatan menyingkirkan sampah sampah itu, kemudian mengambil tissu basah dari ransel orangenya. Dengan sekuat tenaga Inara membersihkan mejanya yang kotor dan penuh coretan.
Semuanya menatap Inara dengan tatapan mengejek, sesekali Inara melirik kearah Viola, Gina, dan juga Faira. Mereka memang menatap Inara dengan tatapan berbeda, tidak seperti anak anak Pelita Bangsa lainnya yang memberikan tatapan kebencian. Namun mengapa teman temannya itu hanya diam disaat Inara seperti ini?
***
Bel istirahat berdering sepersekian menit yang lalu, namun Inara tak ada minat sedikitpun untuk mengisi perutnya yang meronta itu dengan makanan. Inara lumayan capek dengan hujatan demi hujatan dan tatapan demi tatapan yang anak anak Pelita Bangsa berikan untuknya, jika gadis itu pergi ke kantin.
Sial sekali, karena bekal makannya kembali tertinggal di rumah.
Inara menatap lurus kedepan, lebih tepatnya dia melamun di bangku taman, dengan keadaan perut yang kosong.
"Nih Kak, dimakan." Seorang cowok mengejutkan Inara dan membuat lamunan Inara buyar.
Cowok itu menyodorkan sekantung plastik berisi makanan dan juga minuman. Inara yang terkejut sontak menoleh ke pemilik suara.
"Egi?"
"Iya Kak, ini gue." Egi mengambil tempat duduk di sebelah Inara.
Inara yang bingung segera mengangkat sekantung plastik berisi makanan itu di hadapan Egi.
"Ini maksudnya apa?" tanya Inara bingung.
"Itu buat Kak Inara, dimakan ya," jawab Egi, kembali menyerahkan sekantung plastik berisi makanan itu.
"Nggak usah Gi, gue nggak laper. Makasih." Inara mengembalikan barang pemberian Egi itu dengan senyuman.
Egi menghela nafas panjang.
"Lo banyak pikiran kak, dan perut lo kosong. Kalo sakit gimana?" Egi menatap Inara dengan tatapan Iba. Egi memang tidak tahu bagaimana kehidupan Inara yang sebenarnya, karena cowok itu tidak dekat dengan Inara.
"Gue gapapa, beneran."
"Cewe, biasanya kalo bilang gapapa berarti ada apa apa."
Inara terkekeh mendengar penuturan Egi. Tapi memang benar, Inara sedang tidak baik baik saja sekarang. Namun tetap saja, Inara tidak mau merepotkan Egi.
"Lo nggak jijik sama gue Gi?" tanya Inara pelan tanpa menatap Egi, dia malu dengan dirinya yang tidak berguna ini.
Egi tertegun dengan pertanyaan Inara, " Kenapa harus jijik? emangnya lo E'e kuda sampai gue harus jijik sama lo, kak?" kekeh Egi.
KAMU SEDANG MEMBACA
ABINARA [SUDAH TERBIT]
Teen Fiction[CERITA SUDAH TERBIT, DAN NOVEL BISA DI PESAN DI SHOPEE, BUKA LAPAK, LAZADA, DAN AKUN RESMI GUEPEDIA YAAA :)] [Cerita ini BELUM DIREVISI, silahkan yang mau cerita lengkap dengan ekstra part bisa langsung beli versi cetaknya yaaa] ⚠️Jika kalian mengi...
![ABINARA [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/263437773-64-k290691.jpg)