"Jeonghan, tolong antarkan ini ke meja dua!"
Seruan itu memecah konsentrasi Jeonghan yang sedang mengisi tabel absensi. Dia tercenung selama beberapa detik sebelum otaknya memperingatkan, bahwa dalam lima menit dirinya harus segera pergi.
"Tapi saya harus--"
"Tolong, sebentar saja!"
Tampaknya apapun yang dia katakan tidak akan didengar. Maklum, restoran di akhir pekan memang luar biasa padat pengunjung. Jeonghan menghela nafas dan menaruh bolpennya ke atas meja, lalu bergegas mengambil pesanan yang siap menanti untuk diantar.
Selang beberapa menit kemudian barulah dia diizinkan pergi. Tanpa membuang waktu, dia beranjak cepat menuju ruang staf untuk berganti pakaian. Di situ berpapasanlah dia dengan Minghao, teman sejawatnya yang sedang mempersiapkan diri untuk shift berikutnya.
"Hei, kau masih di sini?"
Jeonghan membuka lokernya sembari menjawab, "Ya, tadi bos minta bantuanku sebentar."
Minghao melirik jam dinding di sudut ruangan. "Sudah jam segini, kau tidak akan telat?"
"Aku bisa datang tepat waktu jika berlari."
Mendengar rencana pantang menyerah itu, rasa simpatik Minghao tunjukkan dari tatapannya. "Berapa banyak sih pekerjaan yang kau ambil? Apa kau tidak lelah?"
Pertanyaan itu sudah kerap kali didengar Jeonghan, dan kerap kali pula dijawabnya, "Mau bagaimana lagi? Aku butuh uang."
Benar, uang adalah motivasi hidupnya. Dia rela mengambil shift tambahan di akhir pekan dan mengorbankan waktu istirahatnya demi uang. Karena uang, semua orang sampai menyematkan sebutan workaholic untuknya. Tapi sungguh, dia hanya terdesak kebutuhan.
Jeonghan membuktikan ucapannya pada Minghao dengan berlari kencang, tanpa mengindahkan dinginnya udara musim dingin. Hari itu dia mendapat pekerjaan sampingan sebagai pelayan di sebuah hotel. Bayarannya cukup besar, sehingga dia mengambilnya tanpa pikir panjang. Begitu tiba di sana, jam sudah menunjuk pukul dua lebih lima menit, menandakan dirinya sedikit terlambat.
"Hei, sini! Cepat!" seorang pria berseragam pelayan memanggilnya gusar ketika dia tiba. Jeonghan langsung membungkuk sembilan puluh derajat sebagai bentuk penyesalan. "Maaf pak, saya terlambat."
Pria itu tidak ambil pusing untuk menggubris permintaan maafnya dan langsung menyodorkan satu setel seragam. "Ini, cepat pakai. Lalu segera antar minuman ke meja VIP."
Jeonghan menerima seragam itu dan buru-buru memakainya. Karena terlambat, dia hanya memperoleh briefing singkat dan langsung terjun ke lokasi tugasnya. Sebuah acara pernikahan tengah dilaksanakan besar-besaran di ballroom hotel itu. Banyak kaum kalangan atas yang hadir, mulai dari pejabat, artis, hingga pengusaha kaya raya. Semuanya berpenampilan gemilang, dan tak sedikit yang datang berkendara sport car. Pesta itu sungguh bersemarak menyajikan kemewahan. Berada di sana acap kali menyadarkan Jeonghan bahwa di dunia ini, kehidupan rakyat jelata sepertinya bagaikan titik hitam di antara kumpulan warna-warna indah.
Sambil menyusuri ruangan megah itu, dia membawa nampan berisi gelas-gelas minuman. Langkahnya tertuju ke sebuah meja VIP di mana para tamu undangan spesial berada. Beberapa pria berjas duduk melingkar di sana. Dari sekilas pandang saja, siapapun bisa melihat para tamu itu memiliki jabatan penting. Aura mereka sangat berbeda dengan kebanyakan tamu lainnya. Menyadari itu, Jeonghan dengan hati-hati menjalankan tugasnya. Dia hidangkan gelas wine yang dibawanya ke atas meja itu seraya berkata sopan, "Silakan, tuan."
Salah satu tamu di dekatnya tampak masih muda. Harum parfumnya yang maskulin merebak di penciuman Jeonghan. Rasanya dia pernah mencium harum semacam itu belum lama ini. Terdorong rasa penasaran, dia mencoba mengintip rupa wajah sang tamu. Namun tindakannya itu malah mengguncangnya dengan keterkejutan besar. Terlebih ketika suara berat sang tamu mengisi pendengarannya. "Terima kasih."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Next Winter
Romance"Akan kubayar seluruh utangmu, dan kau hanya perlu melakukan satu hal: menjadi pendamping hidupku." Jeonghan tahu hidupnya menyedihkan. Yatim piatu, terlilit utang, dan harus menebus biaya operasi sang adik yang tak sedikit jumlahnya. Sementara Seun...
