Mataku membuka seiring gelitik menyapu pipi.
Segalanya terasa hangat; Cahaya silau yang menyambut pandangan, jemari yang menari lamban di atas kulit mukaku, dan suaranya yang mengumandangkan namaku seperti lonceng merdu.
"Jeonghan," Suara berat itu sukses membuka lebar kedua mataku. Bahkan membuatku sontak bangkit terduduk di atas ranjang.
Tunggu, bukankah tadi Chan yang datang dan memberitahuku bahwa Seungcheol telah sadar? Namun pria itu tidak ada di sini, melainkan...
Aku tak dapat menyembunyikan rasa haruku melihat sosok yang hadir di sana. Bibirku bergetar tak terkendali sebelum menyebut namanya.
"Seungcheol!" Aku melompat dan merengkuh kencang tubuhnya. Benar kata Chan, Seungcheol telah siuman, dia berhasil melalui masa kritisnya! Sukacita yang hadir sungguh terlalu besar untuk dibendung. Aku bahkan menangis karenanya.
Seungcheol balas merengkuh tubuhku, bahkan menepuk-nepuk punggungku pelan layaknya menimang seorang anak kecil. "Selamat pagi Jeonghan. Apa mimpimu indah?"
Aku mengangguk, merasa kenyataan yang ada bagaikan mimpi yang terlalu indah untuk terjadi. Setelah cukup lama bersandar nyaman pada tubuhnya, aku melepas pelukan kami, bertanya gembira, "Bagaimana kondisimu?"
"Aku baik-baik saja. Lihat." Seungcheol merentangkan kedua tangan untuk membuktikan ucapannya. Memang benar, tiada satupun goresan atau luka yang terpampang di tubuhnya. Dia tampak sehat bugar seperti dulu.
Tunggu, tidak ada luka...?
Rasa bingung muncul ketika ingatanku menunjukkan bagaimana seharusnya punggung dan kaki Seungcheol memiliki luka tembakan. Namun kini tidak ada goresan sekecil apapun atau bekas jahitan dan perban di tubuhnya. Aku berusaha membuka bibirku di tengah keterkejutan yang mengguncang. "Seungcheol, lukamu..."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Next Winter
Romance"Akan kubayar seluruh utangmu, dan kau hanya perlu melakukan satu hal: menjadi pendamping hidupku." Jeonghan tahu hidupnya menyedihkan. Yatim piatu, terlilit utang, dan harus menebus biaya operasi sang adik yang tak sedikit jumlahnya. Sementara Seun...
