Chapter 4: Our Fate

6.2K 648 34
                                        

Hidup Jeonghan memang menderita. Penuh utang, sengsara, dan kekurangan. Namun selama ini dia menjalaninya dengan tegar bukan tanpa alasan. Karena dia memiliki motivasi besar: adiknya Jihoon.

Hanya Jihoon keluarganya yang tersisa. Kedua orang tuanya sudah tiada, dan mereka tidak dekat dengan saudara lainnya. Jihoon satu-satunya orang yang selalu mendengarkan keluh kesah Jeonghan dan mendukungnya dalam kondisi apapun. Itu sebabnya sekeras apapun hidup menggembleng, dia tak ingin menyerah untuk adik semata wayangnya itu.

Jeonghan buru-buru menaiki tangga apartemennya. Dia berlari masuk ke dalam ruangan tanpa membuka alas kaki, panik mencari Jihoon yang dalam bayangannya sedang merintih kesakitan. Pada akhirnya dia menemukan sosok yang dicarinya di ruang tamu. "Jihoon, kau tidak apa-apa?!" tanyanya cemas.

Alangkah terkejutnya Jihoon melihat Jeonghan yang datang berpeluh keringat. "A-aku tidak apa-apa. Ada apa, Kak?"

"Para debt collector yang barusan datang bilang kau tampak kesakitan," jawab Jeonghan sambil memeriksa Jihoon dari kepala hingga kaki. "Kau sakit?"

Jihoon menggeleng cepat. "Ah, mungkin mereka hanya salah paham. Aku hanya lapar."

Jeonghan awalnya tidak percaya. Namun melihat senyum ceria Jihoon, ekspresi cemasnya segera berganti lega. "Memangnya kau belum sarapan? Kalau begitu aku akan masak sekarang."

Jihoon hanya cengengesan sambil mengamati sang kakak beranjak menuju dapur. Setelah memastikan tidak ada lagi kecurigaan yang tertuju padanya, saat itulah dia memegang perut kanannya, menahan rasa perih yang sejak tadi timbul di sana.

*****

Dua minggu berlalu tanpa terasa. Kesibukan yang sama kembali Jeonghan jalani, mulai dari bekerja sejak pukul tujuh pagi hingga larut malam. Selama dua minggu itu, dia bekerja lebih keras dari sebelumnya, memastikan bulan depan akan tersedia cukup uang untuk membayar utang. Terkadang dia muak dengan rutinitas melelahkan itu. Terkadang menyaksikan para rekan kerjanya menikmati kegiatan di luar pekerjaan memberinya rasa iri. Dia tak bisa menimbrung di kala para karyawan lain asyik membicarakan rencana makan malam bersama setelah memperoleh gaji. Uangnya sendiri selalu habis untuk membayar cicilan dan utang. Bahkan hanya satu hari selama libur panjang dia gunakan untuk beristirahat, sisanya adalah kerja dan kerja.

Ketika jam menunjuk pukul lima, Jeonghan buru-buru mengakhiri shift-nya. Minghao yang berada di kamar ganti sampai keheranan mengamati Jeonghan yang berganti pakaian seperti dikejar setan. "Kau ada kerjaan lagi malam ini?" tanyanya.

Jeonghan mengangguk sambil sibuk membereskan barang-barangnya. "Ya, di nightclub."

"Sampai jam berapa?"

"Jam dua pagi."

Informasi itu sukses mengejutkan Minghao. "Jadi setiap hari kau hanya tidur selama tiga jam?"

Jeonghan yang baru selesai mengunci lokernya menoleh dan tersenyum lemah. "Empat jam. Aku pergi dulu."

Kepergiannya membuat Minghao hanya bisa menggeleng-geleng bingung. "Dia benar-benar sudah gila."

Seperti biasa, Jeonghan berlari sekencang angin. Langkahnya seperti sudah terlatih melesat di atas tumpukan salju dan lapisan es yang licin. Beruntung tempat kerja paruh waktunya berdekatan dengan restoran tempatnya bekerja. Dia memang selalu berupaya mencari tempat kerja yang jaraknya saling berdekatan untuk menghemat ongkos dan waktu.

Night club tempatnya bekerja telah dipadati banyak pengunjung, pertanda dia akan sangat sibuk malam itu. Bau alkohol dan asap rokok merebak ke manapun dia melangkah. Sejujurnya dia paling tak suka bekerja di tempat hiburan semacam itu, hanya saja bayarannya cukup tinggi. Pria sepertinya tak punya hak untuk menjadi seorang pemilih dalam keadaan terdesak, bukan?

The Next WinterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang