Chapter 36: Farewell

2.8K 283 22
                                        

Warning! Death, Violence, Blood

Pukul dua belas malam ketika jam dinding berbunyi, sepasang mata membuka.

Seorang anak laki-laki tersentak bangun di atas ranjang. Tampangnya ketakutan. Nafasnya tersengal-sengal seperti habis berlari puluhan kilometer. Maklum, dia baru saja terbangun dari mimpi buruk. Mimpi yang terasa sangat nyata hingga sekujur tubuhnya mandi keringat.

Kesendiriannya di tengah malam begitu mengerikan, mendorongnya terburu-buru turun dari ranjang dan keluar dari kamar.

Suasana rumahnya pada malam hari memang kurang menyenangkan. Gelap, sunyi, lekat dengan hawa dingin, seperti kediaman para makhluk tak kasat mata. Seungcheol melangkah cepat menyusuri lorong demi lorong. Siapapun pasti akan menghabiskan ratusan langkah hanya untuk menyusurinya dari ujung ke ujung.

Dia akhirnya mencapai sebuah pintu besar bersisi dua. Diketuknya pelan pintu itu lalu didorongnya perlahan. Sama seperti kamarnya, tempat itu minim penerangan, hanya memperoleh sinar dari ventilasi besar yang menampakkan pemandangan langit berbintang. Di dekat meja yang berbatasan dengan jendela berdiri seorang pria. Sosoknya tinggi menjulang, terbalut jubah panjang yang membuatnya tampak misterius. Dia memandangi langit malam dari balik jendela seakan tengah mengagumi bulan yang sedang giat-giatnya unjuk gigi di puncak langit.

Seungcheol dengan hati-hati menutup pintu tanpa menimbulkan suara. Gerak-geriknya begitu terjaga seperti terbiasa untuk tidak mengusik kesendirian sang pemilik ruangan. Dengan berani dia mendekati sosok di tengah kamar itu dan memanggilnya lugas.

"Ayah."

Pria itu menengok dengan bibirnya yang bertaut cerutu, mengepulkan asap hingga baunya mengedar ke sepenjuru ruangan. Meski hanya setengah tubuhnya tersingkap sinar rembulan, Seungcheol masih dapat melihat rupa wajah pria itu, di mana alis tebal melekat dan hidung mancung menyembul. Di kegelapan pekat itu pula sorot mata dinginnya tampak menusuk.

"Mengapa kau belum tidur, Seungcheol?" pria itu bertanya.

Seungcheol kecil menelan ludah, dengan kepalanya yang tertunduk dia pun menjawab lirih, "Aku tidak bisa tidur..."

Sang ayah membisu. Jemarinya terangkat kembali untuk mengisap cerutu Kuba-nya, lalu menyembur asapnya seperti kereta uap. "Ibumu sudah tiada, kau harus bisa tidur sendirian," balasnya.

Seungcheol mencengkeram piyamanya, berkata lagi, "Tapi aku tidak bisa tidur karena Ibu..."

Bagi seorang anak berumur sembilan tahun, ucapan itu dinyatakannya tanpa dusta. Namun bagi pria dewasa seperti Dojin, yang telah menempuh neraka dunia, ucapan itu terdengar seperti ketakutan konyol yang tak berarti. "Apa ada hantu ibumu di dalam kamar?" guraunya.

Hantu adalah sosok yang Seungcheol takuti saat kecil. Namun saat itu, dia tidak takut membayangkan hantu dibandingkan harus mengingat memori ketika wajahnya ditindih dengan bantal. "Tidak. Hanya saja...aku selalu bermimpi buruk."

Dojin mengembus kembali asap cerutunya, lalu mematikan benda candu itu di atas asbak dan berputar. Bunyi langkah kakinya yang pelan dan pasti sampai nyaris tak terdengar. Dia berhenti tepat pada rentang jarak satu meter di seberang Seungcheol.

Pada awalnya Seungcheol hanya bergeming. Namun seluruh aliran darahnya serasa naik ke kepala ketika Dojin tiba-tiba mengeluarkan sesuatu. Benda itu tak asing di mata Seungcheol. Namun baru kali ini, benda itu tampak sangat mengerikan untuknya.

Dojin, sang ayah, mengarahkan sebuah pistol ke arahnya.

"Dengar. Kau tidak bisa tidur karena terlalu penakut. Lalu sampai kapan kau akan terus begini? Menjadi anak pengecut yang gemar merengek?"

The Next WinterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang