"Menikah?"
Suara Jihoon terdengar sumbang dan parau ketika mengatakannya. Bukan karena flu, melainkan karena dua sosok di seberangnya. Pasangan itu, atau lebih tepatnya kedua calon pengantin itu, saling bertatapan satu sama lain sebelum menjawab, "Ya."
"Kalian? Menikah?" ulang Jihoon tak percaya.
Jeonghan menghela nafas. "Jihoon, aku sudah bilang 'ya' sebanyak tiga kali."
Jihoon menganga dalam takjub. Melihatnya, Jeonghan yang sudah memperkirakan reaksi itu akan ditunjukkan sang adik mulai merasa bersalah. "Maaf. Aku tahu kamu pasti kaget karena ini terlalu mendadak, tapi--"
Namun tiba-tiba, Jihoon menepuk kedua tangannya keras-keras. Matanya berbinar sambil bibirnya melukis senyum penuh sukacita. Tidak peduli tepukan tangannya membuat pengunjung kafe lain sampai menoleh. "Bagus sekali! Aku sangat mendukungnya!"
Kini gantian Jeonghan yang menganga. Dia tak menyangka Jihoon akan begitu mudah mendukung rencana pernikahannya dengan Seungcheol. Apa adiknya itu sudah tersogok oleh daging steak?
"Itu berarti kakak akan pindah dari apartemen kita?" tanya Jihoon memastikan.
"Ah...iya. Tapi tenang saja, kau juga akan pindah ke apartemen baru di samping apartemen kami nanti, Jihoon. Jadi kita masih bisa sering bertemu."
"Apa? Siapa yang akan membayar sewanya?"
Pertanyaan itu dijawab Seungcheol, "Itu apartemen milikku. Seluruh gedungnya."
Untuk kesekian kalinya rahang Jihoon jatuh. Jeonghan memaklumi reaksi sang adik, karena dia sendiri pun bereaksi serupa saat pertama kali mendengarnya. "Jihoon, kau tidak keberatan, kan?"
Jihoon menggeleng cepat. "Tidak...tapi aku penasaran. Bagaimana kalian bisa saling mengenal? Dan bagaimana kalian bisa berpacaran?"
Segera Jeonghan melirik Seungcheol, berusaha memberi kode agar pria itu bersedia menjawab lagi. Namun yang dipandangi hanya tersenyum tipis seraya menikmati teh hangatnya. Akhirnya Jeonghan dengan malu-malu menjawab, "Panjang ceritanya. Tapi mungkin... kami bertemu karena takdir?"
Jihoon mengangkat sebelah alisnya mendengar jawaban klasik itu. "Oh. Jadi kapan kalian akan menikah?"
"Minggu depan."
"Minggu depan?!" baik Jeonghan dan Jihoon kali ini menyahut bersamaan. Seketika Jihoon menatap sang kakak heran, karena pria itu tampak sama terkejut seperti dirinya. "Kau tidak tahu, kak?"
Jeonghan menatap Jihoon dan Seungcheol bergantian, lalu hanya bisa memaksakan seulas senyum getir.
Pertemuan itu akhirnya berakhir setelah Jihoon berpamitan pulang karena harus mengerjakan tugas sekolahnya. Sedangkan Jeonghan memilih tinggal bersama Seungcheol untuk membahas banyak hal, salah satunya tentang rencana pernikahan mereka yang masih rancu. Mereka memutuskan berjalan kaki menyusuri taman kota yang letaknya tak jauh dari kafe sembari mengobrol sekalian mencari udara segar.
"Apa minggu depan terlalu cepat untukmu?" Seungcheol bertanya di tengah perdebatan mereka.
Jeonghan mengangguk ragu. "Sejujurnya...ya. Kita belum punya persiapan apa-apa. Bahkan kita belum bertemu orang tuamu."
Tak Jeonghan sangka dengusan pelan meluncur dari calon suaminya itu. Dia bahkan memutar kedua bola matanya malas, seakan menganggap ucapan Jeonghan adalah bentuk khawatir berlebihan. "Tidak perlu. Kita bisa menikah tanpa memberitahu keluargaku."
"Masa begitu? Kau punya adik dan ayah, 'kan?"
Ucapan itu melambatkan kecepatan langkah Seungcheol. "Bagaimana kau tahu tentang hal itu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Next Winter
Romansa"Akan kubayar seluruh utangmu, dan kau hanya perlu melakukan satu hal: menjadi pendamping hidupku." Jeonghan tahu hidupnya menyedihkan. Yatim piatu, terlilit utang, dan harus menebus biaya operasi sang adik yang tak sedikit jumlahnya. Sementara Seun...
