Nomor yang anďa tuju sedang tidak aktif...
Jeonghan menghela nafas. Seperti biasa, suara otomatis operator yang membalas panggilannya. Entah mengapa Seungcheol tidak bisa lagi dihubungi sejak hari pertunangannya dengan Ahra. Tak hanya panggilan telepon, semua pesan yang dikirimnya pun tak kunjung memperoleh balasan.
Entah apa yang terjadi dengan Seungcheol di Jepang, namun rasanya sedikit keterlaluan tidak memberi kabar sama sekali selama seminggu. Jangan salahkan Jeonghan jika dia jadi berpikiran negatif. Seungcheol yang seolah menghindarinya.
Dengan perasaan kecewa, Jeonghan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dia sudah rapi mengenakan kaos oversized-nya yang nyaman dan siap berangkat menuju rumah sakit. Beranjaklah dia keluar kamar dan menuruni tangga dengan hati-hati.
Baru saja menjejaki beberapa anak tangga, dia mendapati kehadiran Wonwoo di ruang tamu yang tampil rapi dalam busana kerjanya. Jeonghan segera melirik jam tangannya, lalu kembali menatap Wonwoo dengan ekspresi bingung. "Kau belum berangkat kerja jam segini?"
Saat itu Wonwoo sedang membaca koran. Begitu Jeonghan hadir, dia langsung melipat surat kabar itu dan meletakkannya di atas meja. "Kudengar kau akan pergi ke dokter kandungan."
Jeonghan baru hendak membenarkan, namun Wonwoo mendahuluinya berbicara, "Biar kuantar."
Tawaran itu sangat mengejutkan Jeonghan. Selama ini Wonwoo tidak pernah menemaninya ke dokter kandungan--atau ke manapun--berdua saja. Pria itu selalu sibuk dengan rutinitas kerjanya, termasuk di akhir pekan. Sikap tak biasa itu membuatnya bertanya-tanya, namun dengan senang hati dia tetap membiarkan Wonwoo mengantarnya ke rumah sakit.
Pemeriksaan kandungan hari itu menjadi sangat berbeda dari biasanya. Saat pertama kali datang, sang dokter mengira Wonwoo adalah suaminya, Tak hanya dokter, petugas resepsionis dan perawat yang berjaga pun mengira mereka pasangan, sampai Jeonghan harus meyakinkan berulang kali bahwa mereka hanya kerabat. Dan yang paling lucu, setiap orang yang mereka lewati di lorong rumah sakit terus saja menatap, lebih tepatnya menatap Wonwoo. Kemungkinan besar karena tergugah ketampanan adik sepupu suaminya itu. Mungkin mereka mengira Wonwoo adalah seorang ayah muda yang sedang menemani pasangannya memeriksa kandungan.
Setelah pemeriksaan berakhir, Jeonghan baru bisa menghela nafas lega dan berbicara santai dengan pemuda di sampingnya. "Kau akan ke kantor sekarang, Wonwoo?"
Wonwoo mengangguk. "Ya, karena itu kau akan diantar sopir pulang."
"Terima kasih sudah menemaniku. Maaf menyita waktumu di saat kau sibuk."
Langkah Wonwoo melambat sejenak. Dia menatap Jeonghan lurus dan membalas, "Aku hanya dimintai tolong oleh Kak Seungcheol untuk menemanimu, dan untuk memastikan bahwa kandunganmu baik-baik saja."
Pernyataan itu ikut melambatkan langkah Jeonghan. Dia segera menatap Wonwoo dengan binar di kedua matanya. "Seungcheol menghubungimu?"
"Seminggu yang lalu dia terakhir kali menghubungiku."
Seminggu yang lalu...itu artinya sama seperti kali terakhir Jeonghan menerima kabar dari Seungcheol. Sambil membentuk huruf o dengan mulutnya, mereka lanjut melangkah dalam keheningan. Setelah lama berlarut dalam hening, Wonwoo kembali berkata, "Kudengar besok dia akan pulang ke Korea."
Bagi Jeonghan, informasi itu bak kabar gembira yang datang setelah menanti selama bertahun-tahun. Senyumnya otomatis tersungging lebar. "Benarkah?"
"Tapi aku tidak tahu kapan dia akan berkunjung ke Daegu. Lusa aku akan pergi ke Seoul untuk menghadiri acara lelang. Kabarnya Kak Seungcheol juga akan datang ke sana."
Kelanjutan info itu meredupkan senyum cerah Jeonghan. Dia kali ini sedikit memaksa bibirnya mengembang. "Oh...jadi dia tidak langsung menuju Daegu..."
Wonwoo tidak berbicara apapun melihat ekspresi muram Jeonghan. Namun sebelum mereka berpisah jalan, dia berkata, "Aku yakin dia akan segera mengunjungimu."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Next Winter
Romance"Akan kubayar seluruh utangmu, dan kau hanya perlu melakukan satu hal: menjadi pendamping hidupku." Jeonghan tahu hidupnya menyedihkan. Yatim piatu, terlilit utang, dan harus menebus biaya operasi sang adik yang tak sedikit jumlahnya. Sementara Seun...
