"Tuan Jeonghan akan marah jika tahu."
Semua pasang mata kini tertuju pada Jisoo yang seketika menunduk karena cemas dengan perhatian yang mendadak terlimpah padanya.
Meski tahu ucapan Jisoo benar, Seungcheol tersenyum tanpa perubahan pada lekuk matanya. "Aku tahu. Tapi apa kau bisa berikan pilihan yang lebih baik dari ini?"
Tentu saja tidak, karena itu Jisoo terdiam. Seungcheol tentu paham akan segala konsekuensi tindakannya. Karena jika tidak, dia pasti tak akan mau mengambil pilihan sulit itu.
Seokmin mengangguk sependapat dan mengusap bahu Jisoo. "Semua sudah terjadi, Jisoo. Apa boleh buat."
Namun kegusaran pada wajah Jisoo belum kunjung sirna. Dia tertunduk muram. "Ini salah saya. Karena saya tidak bisa melawan mereka, Tuan Muda jadi harus menanggungnya..."
"Ini bukan salahmu. Siapa yang menyangka mereka akan melakukan penyerangan di malam hari? Jika mau menyalahkan seseorang, maka salahkan aku. Semua suruhanku lengah, seharusnya aku menyuruh mereka lebih bersiaga," Seokmin menimpali.
Jisoo baru hendak membalas, namun didahului Seungcheol yang berkata, "Sudah, jangan saling menyalahkan. Ini bukan salah kalian. Ini murni kesalahan Ayah. Dia yang paling bersalah atas kejadian ini."
Tidak ada yang berani berkomentar, karena setiap kali Seungcheol mulai menyebut nama itu, mimik wajahnya berubah kecut. Daripada memperburuk suasana, maka diam adalah pilihan terbaik yang bisa mereka lakukan.
"Aku harus pergi bekerja sekarang. Jisoo, tolong kirimkan semua barang Jeonghan besok pagi. Ah tidak, kalau bisa hari ini sudah sampai di Daegu."
Mendengar pesan itu, Jisoo segera mengangguk. "Baik."
Tanpa bicara lagi, Seungcheol berbalik badan dan melangkah menuju lift. Namun baru lima langkah berjalan, dia mendengar Seokmin berseru, "Kak, happy birthday!"
Benar, hari itu adalah hari ulang tahun Seungcheol. Dia sendiri hampir lupa karena pikirannya terlalu tersita dengan peristiwa penculikan Jeonghan tadi malam. Sehari sebelumnya dia bekerja lembur, lalu tanpa rencana terbang dari Jepang ke Korea hanya dalam kurun waktu beberapa jam. Belum selesai sampai di situ, dia masih harus berkendara ke Daegu hingga subuh, dan kini baru kembali ke Seoul ketika hari sudah petang. Oleh sebab itu ucapan selamat yang disampaikan Seokmin terasa sedikit mengejutkan sekaligus menyenangkan, sampai Seungcheol berhenti melangkah, menoleh dan menyungging senyum lembut di wajah lelahnya. "Terima kasih."
Setelah kepergian Seungcheol, Jisoo melirik Seokmin dengan ragu. Namun ternyata Seokmin sudah lebih dulu memandangnya, sehingga dia tak berani terlalu lama menatap dan kembali menunduk. "Saya...juga permisi, Tuan Seokmin."
Belum sampai dua langkah, Seokmin mencengkeram lengannya. Tindakan itu memaksa Jisoo kembali mengangkat wajahnya.
"Jika kau kembali terluka, aku pun tidak akan tinggal diam."
Dan setelah menuturkan pernyataan itu, Seokmin beranjak pergi begitu saja, menyisakan Jisoo yang bergeming di tempat tanpa tahu bagaimana harus menanggapinya.
========
Satu hari merasa gelisah. Dua-tiga hari panik karena tak kunjung mendapat kabar. Namun di hari kelima, akhirnya dia terbiasa.
Begitulah bagaimana Jeonghan melalui hari-harinya menetap di Daegu. Dia mulai merasa lebih tenang, bahkan menikmati suasana tempat tinggal barunya. Awalnya dia cemas karena Seungcheol jarang memberi kabar, terhitung hanya dua kali menelepon sejak hari pertama pindah ke rumah itu. Namun lama-kelamaan segalanya terasa lebih familiar, bahkan dia tidak lagi was-was memikirkan segala macam hal.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Next Winter
Romansa"Akan kubayar seluruh utangmu, dan kau hanya perlu melakukan satu hal: menjadi pendamping hidupku." Jeonghan tahu hidupnya menyedihkan. Yatim piatu, terlilit utang, dan harus menebus biaya operasi sang adik yang tak sedikit jumlahnya. Sementara Seun...
