Chapter 14: The Menace

4.5K 520 12
                                        

Jeonghan yang pemberani pun pernah merasa takut. Ketika hampir menjual tubuhnya pada orang asing, ketika rentenir datang menagih utang, dan ketika melihat pistol, dia acapkali gemetar meski tidak gamblang menunjukkannya. Namun ketika mendengar bahwa sosok yang selalu menghantui hidupnya belakangan ini sedang menuju rumahnya, dia tak kuasa berpura-pura tenang. Wajahnya pucat pasi dan nafasnya memburu. "Apa maksudmu ayah Seungcheol sedang menuju ke sini? Bukankah dia ada di Amerika?" tanyanya panik.

Jisoo sama paniknya, namun berusaha mengontrol diri ketika melihat Jeonghan ikut dilanda kepanikan. "Beliau kabarnya pulang mendadak. Dari bandara langsung menuju ke sini. Tuan Jeonghan, sebaiknya anda cepat bersembunyi."

"Dia sudah ada di mana sekarang?"

Pertanyaan itu menciptakan hening sejenak. Melihat raut wajah ragu Jisoo, Jeonghan tahu bahwa jawaban yang akan didengarnya tidaklah menyenangkan.

"Di gedung ini."

Detik itu juga terdengar bunyi bel dari arah pintu masuk. Baik Jisoo maupun Jeonghan sama-sama membeku, lalu memandang satu sama lain penuh kengerian. Jisoo segera mendorong Jeonghan sambil berbisik, "Cepat bersembunyi. Cepat!"

Setelah Jeonghan pergi mencari tempat persembunyian, Jisoo menarik nafas panjang dan berjalan menuju pintu. Perlahan dia membukanya, dan langsung dihadapkan dengan sumber ketakutannya itu. Sambil berusaha bersikap tenang, dia memberi salam dengan sopan. "Apa kabar, Tuan?"

Pria paruh baya di hadapannya tersenyum simpul. Berewok tipis tumbuh di dagunya, pertanda pria itu belum bercukur selama beberapa minggu. Kancing kemeja putihnya yang terbuka setengah menampakkan guratan tato di dada, dan jas single breasted hitam membalut tubuh gagahnya. Pria itu memancarkan aura mengintimidasi yang membuat siapapun merasa segan. "Seungcheol ada di rumah?"

"Tidak. Tuan muda sedang berada di Jepang. Saya kemari hanya untuk mengambil barangnya yang tertinggal."

Choi Dojin melirik ke dalam ruangan, lalu kembali menoleh pada pemuda yang masih berdiri kikuk di depannya. "Bisa kau menyingkir?"

Jisoo menelan ludah. Dia tak punya pilihan selain memberikan akses masuk bagi pria itu. "Tidak ada siapapun di sini, Tuan."

Choi Dojin tersenyum miring sambil berjalan masuk. "Oh ya? Bahkan pria simpanan anakku tidak ada di sini?"

Jisoo membisu, sementara Dojin sibuk menjelajah ke sana-ke mari. Tubuhnya semakin menegang ketika sebuah pertanyaan melayang, "Di mana pemuda itu, Jisoo?"

Kedua tangan Jisoo mengepal. "Saya tidak tahu..."

"Ada sepatu pria di depan pintu masuk, dan kau masih bilang tidak tahu?"

Jisoo seketika melirik ke arah pintu, menemukan sepatu slip on tergeletak di sana. Otaknya segera bekerja keras membalas, "Itu pasti punya tuan muda Seungcheol."

Choi Dojin tidak lagi menginterogasinya. Dia malah berjalan ke salah satu kamar, membuat Jisoo semakin beranjak panik. "Tuan, ruangan itu kamar tidur tuan muda!"

Dojin berhenti tepat ketika tangannya memegang gagang pintu, siap membukanya. "Kau mau melarangku masuk?"

Suara tenang dan berat itu adalah pertanda bahaya. Jisoo sadar dia harus berhati-hati memilih kata-kata jika tak mau nyawanya melayang. "Tuan muda akan marah jika ada yang masuk ke kamarnya tanpa izin..."

Tapi seperti sebelumnya, Choi Dojin tampak tak acuh dan masuk ke dalam kamar itu dengan leluasa. Dia berjalan mondar-mandir, bahkan tak segan membuka lemari pakaian kamar itu, mengobrak-abriknya dengan asal. "Aku tidak pernah melihat Seungcheol
memakai baju seperti ini," komentarnya.

The Next WinterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang