Betapa menyebalkannya musim dingin.
Salju turun dan sungai membeku. Lalu lalang jalan menyepi. Sepenjuru kota kehilangan nyawanya lebih cepat seiring nyala lampu meredup.
Dingin. Pun demikian hati manusia. Ada satu manusia yang malah menyelenggarakan pesta pora pada hari kematian almarhum istrinya. Dia membanjiri gundiknya dengan kemewahan guna merayakan hari pernikahan mereka. Mereka bersenang-senang, berdansa, berdendang seperti tak punya malu.
Mana tergerak sedikitpun nurani untuk meluangkan waktu berkabung bagi almarhum sang istri? Istri yang pernah dibunuhnya sendiri?
Aku tak sudi menginjak tempat itu. Jijik berbaur dengan para tamunya. Mereka setan serakah yang menggilai uang. Yang senang duduk di kasino, bermain baccarat sembari mengepulkan asap hingga larut malam. Tergelak menyaksikan lawan main mereka kalah dan menjadi gila. Begitu gemarnya meludah di atas penderitaan orang lain.
Aku memilih pergi, mengutuk segalanya di belakang. Aku menempuh entah berapa kilometer berkendara, melangkahi jalan demi jalan, hingga mencapai tepi kota yang langka penduduk.
Kedua kakiku menapak di atas sebuah jembatan. Kupandangi riak air sungainya yang pelan. Saat itu sungai belum sepenuhnya membeku, sehingga pantulan cahaya kota masih terekam di atas beningnya air. Sambil merasakan tiupan angin yang dingin, pikiranku melayang.
Aku membayangkan bagaimana rasanya menjadi Ibu yang kehilangan nyawanya di malam musim dingin.
Ketika dia tenggelam di dalam pusaran air sungai... ketika air dingin melesak ke dalam paru-parunya...
Aku pun teringat Ibu menangis, bersimpuh dan memekik di atas tanah bersalju hanya untuk memohon pada pria yang memperlakukannya seperti sampah.
Setiap kali mengingatnya, setiap kali pula hasrat ingin membunuh itu datang.
Tanpa sadar tanganku merogoh saku jas, mengeluarkan sebuah senjata api. Tanpa sadar tangan itu mengacungkan pistol tepat ke pelipis kepalaku sendiri. Saat itu, aku mengulang memori ketika Ibu melekatkan pistol ke keningnya. Mati-matian dia mempertaruhkan nyawa dan menerima syarat kejam Ayah bahwa dia harus bermain Russian Roulette jika ingin menemui kami.
Waktu itu, Ibu benar-benar menarik pelatuk pistolnya. Meski beruntung tidak ada peluru yang menembus kepalanya. Dia selamat.
Namun tentu detik-detik itu sangat menakutkan bukan, Bu?
Apakah sebaiknya aku mengulang memori yang Ibu alami terhadapnya?
Apakah aku harus menarik pelatuk ini untukmu?
Perlahan kedua mataku terpejam.
Sembari memikirkan semua itu, perlahan jariku bergerak. Bagaikan slow motion, jemari itu meraih pelatuk yang siap melepaskan peluru panas kapanpun.
Namun sebelum jari itu berhasil menekan pelatuk, kurasakan seberkas kehangatan merayap di pundak.
Dan tiba-tiba saja, seseorang sudah mencengkeram lenganku.
Orang itu berbicara dengan wajah pucat. Tangannya yang kurus bergetar saat menggenggamku. Matanya pun berulang kali mengedip gelisah. Meski gentar, tidak tampak sama sekali niat dirinya untuk melepasku. Tidak sampai dia puas bicara. Aku tertegun memandangi pria yang tak kukenal ini. Entah sejak kapan aku terpaku menyimak seseorang berceramah tentang betapa pentingnya hidup. Tentang bagaimana di dunia ini ada yang namanya harapan, dan aku tidak boleh menyerah menghadapi masalah.
Saat itu rasanya konyol dan aneh. Ada manusia seperti ini, yang meniadakan ketakutannya hanya untuk menggurui orang lain di tengah larutnya malam. Tak peduli akan hawa dingin yang menusuk, atau akan lelah yang membekas di kedua kantong matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Next Winter
Romance"Akan kubayar seluruh utangmu, dan kau hanya perlu melakukan satu hal: menjadi pendamping hidupku." Jeonghan tahu hidupnya menyedihkan. Yatim piatu, terlilit utang, dan harus menebus biaya operasi sang adik yang tak sedikit jumlahnya. Sementara Seun...
