Betapa mengerikan peristiwa Choi Dojin bersinggah tadi siang, sampai Jisoo dan Jeonghan putuskan untuk membuat strategi: Jika Choi Dojin datang kembali, mereka akan melakukan pertahanan diri apapun caranya. Pertama, mengeluarkan berbagai barang yang bisa dijadikan senjata. Kedua, menghubungi Seokmin. Ketiga, menghubungi polisi. Mereka sudah melakukan tahap pertama, tinggal dua langkah lagi untuk menyempurnakan strategi itu. Namun sebelum Jisoo membuka pintu, Jeonghan menyarankan bahwa mereka harus memastikan terlebih dahulu siapa sosok di balik pintu.
Beruntung mereka mengambil keputusan itu, karena yang tampak dari balik lubang pintu bukanlah Choi Dojin, melainkan Jihoon yang sedang mondar-mandir dengan gelisah.
Ketika mereka membukakan pintu Jihoon tidak memberi salam dan langsung menerobos masuk tanpa permisi. Kemudian remaja itu mengunci dirinya di dalam toilet, menyisakan Jisoo dan Jeonghan yang hanya mampu tergamang dalam kebingungan.
Setelah kegiatan buang airnya selesai, Jihoon keluar dari kamar mandi dan melihat secangkir gelas berisi jus di meja makan. Mereka bertiga akhirnya duduk bersama di meja persegi itu dan mulai melakukan interogasi terhadap Jihoon.
"Kau ini bikin takut saja. Kenapa kau menggedor pintu seperti orang kesetanan?" protes Jeonghan sambil menuang jus ke dalam cangkirnya sendiri.
Jihoon cengengesan. "Maaf kak. Aku baru saja pulang dari rumah teman dan kunciku ketinggalan. Aku mati-matian menahan kencing di perjalanan, sehingga mau tak mau aku menggedor pintumu."
"Kenapa kau baru pulang? Ini kan sudah sangat larut."
Tahu bahwa ceramah sang kakak akan menyita waktu, Jihoon mencoba membela diri. "Maaf. Aku juga bukannya bermain, tapi mengerjakan tugas."
"Lalu bagaimana nasib kuncimu?"
"Temanku menyimpannya. Besok aku akan pergi mengambilnya kembali."
Jeonghan menghela nafas panjang. "Ya sudah, kau tidur saja di sini. Maaf Jisoo, kau jadi terbangun gara-gara adikku."
"Tidak apa-apa. Saya juga belum tidur waktu tuan Jihoon menggedor pintu," balas Jisoo seraya tersenyum.
"Oh iya, tadi aku sempat lihat ada banyak pria berpakaian hitam di sekitar apartemen. Kira-kira siapa ya mereka?"
Baik Jeonghan dan Jisoo sama-sama bergeming, melirik satu sama lain dengan tatapan awas. Namun Jisoo segera mematahkan prasangka cemas Jeonghan dengan menjawab penuh keyakinan, "Sepertinya mereka suruhan tuan Seokmin untuk menjaga tempat ini. Tidak usah khawatir."
Jihoon tampak tidak memahami maksud ucapan itu, sementara Jeonghan mengangguk lemah sembari meremas gagang cangkirnya.
"Tuan muda Jihoon, sebaiknya anda berhati-hati di luar. Saya akan kirimkan pengawal untuk menemani anda mulai besok."
Jihoon yang sedang asyik menikmati jusnya sontak terbelalak. "Loh, untuk apa? Kenapa aku sampai harus dikawal?"
"Tuan Jeonghan sedang berada dalam bahaya. Karena itu saya menemaninya hari ini. Tuan Jihoon, anda bisa dijadikan sandera oleh pihak yang ingin mencelakakan kakak anda. Jadi saya mohon dimengerti."
Penjelasan itu membuat Jihoon tergamang. Wajar saja, dia tak pernah mengira sang kakak akan terancam bahaya, tidak setelah mereka melunasi semua utang. Alhasil dia menatap Jeonghan penuh tanda tanya. "Siapa yang ingin mencelakakanmu, kak? Di saat kau hamil?"
Kali ini gantian Jisoo yang terkejut mendengar kenyataan, sampai rahangnya jatuh. Melihat reaksi itu, Jeonghan beranjak panik dan mengatupkan kedua tangannya sambil memandang Jisoo. "Maaf aku belum memberitahumu soal kehamilan ini. Tapi tolong rahasiakan dulu hal ini dari Seungcheol. Aku berniat memberitahunya besok. Juga soal kejadian hari ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Next Winter
Romance"Akan kubayar seluruh utangmu, dan kau hanya perlu melakukan satu hal: menjadi pendamping hidupku." Jeonghan tahu hidupnya menyedihkan. Yatim piatu, terlilit utang, dan harus menebus biaya operasi sang adik yang tak sedikit jumlahnya. Sementara Seun...
