Chapter 34: The Settlement

2.5K 234 10
                                        

"Seokmin, tolong antar aku menemui Seungcheol."

Seokmin berjanji dalam hati, bahwa dia tidak akan mengacuhkan ucapan itu.

Perjalanan mereka tidaklah mudah. Di samping salju lebat yang turun berderai, denyut di sekujur tubuhnya tak henti menyerang. Meski mobil mereka melaju dengan kecepatan normal, tepi jalan yang mereka lalui tampak berkelebat. Segalanya seakan berputar terlalu cepat, membuat kepalanya pening dan berkedut.

"Jisoo pasti sedang menyusulnya," lanjut Jeonghan pelan, kembali memancing perhatian sang lawan bicara.

Berlama-lama membisu nyatanya bukanlah pribadi seorang Seokmin. Dia tak kuasa menahan diri untuk tidak menjawab. Terlebih, pria di sampingnya tampak begitu memelas. "Kita harus pergi ke rumah sakit..."

"Tapi semua akan terlambat jika kita tidak segera menyusul mereka," Jeonghan bersikeras.

Tentu saja Seokmin tahu itu. Jika dia bisa, dia akan menginjak pedal gas mobil itu dengan kekuatan maksimal, menerobos segalanya demi mengejar Jisoo. Namun akal sehatnya masih memimpin, mendorongnya mengubur niat itu dalam-dalam.

"Seokmin, dengarkan aku." Jeonghan mulai memegang pundak Seokmin. "Jika Jisoo menemui ayahmu, dia bisa saja kehilangan nyawanya."

Detik itu, Seokmin mengencangkan genggaman tangannya pada kemudi mobil.

"Dan Seungcheol juga akan terlibat perselisihan dengan ayah kalian. Mungkin saja dia akan dalam bahaya. Apa kau sungguh tidak khawatir?"

"Tentu saja aku khawatir!" Seokmin menyahut lantang, dengan nyala seperti kobaran api yang benderang di kedua matanya. Dia tak dapat lagi menutupi kegusarannya dan nyaris meledak, namun untungnya masih bisa mengontrol diri dan meredam emosinya. "Tapi...Kakak Ipar sedang mengandung. Akan sangat berbahaya jika kita pergi ke sana..."

Keraguan dalam nada bicara Seokmin meyakinkan Jeonghan bahwa dia harus terus mendesaknya. "Jangan jadikan aku alasan! Aku tahu kau juga sangat ingin pergi ke sana."

Seokmin menarik nafas dalam-dalam, berusaha meneguhkan dirinya sendiri agar tidak rentan terbujuk rayu. Meski sebenarnya dia sendiri sudah berada di ujung tanduk.

Melihat lawan bicaranya tetap bergeming, Jeonghan menghela nafas berat. Dia menerawang ke luar jendela, memandangi langit senja yang lepas. "Seokmin, ingat ketika kau menodongkan pistol di hari pertama kita bertemu? Saat itu, aku belum terbiasa melihat senjata api. Sampai sekarang pun aku sungguh takut dan gemetar setiap kali melihatnya. Aku sempat berpikir, mengapa manusia sangat mudah memakai alat yang begitu berbahaya untuk melukai orang lain? Aku bahkan tidak mau membayangkan apa yang Seungcheol pernah lakukan dengan senjata itu. Tapi sekarang aku mengerti. Ada kalanya senjata itu bukan dipakai untuk melukai orang lain, namun untuk melindungi diri sendiri."

Kepala Jeonghan berputar menghadap Seokmin di bangku pengemudi. "Aku yakin Jisoo, Seungcheol, dan kamu pun menggunakannya untuk membela diri. Karena kalian adalah manusia berhati nurani. Bukankah begitu?"

Seokmin berulang kali membasahi bibir. Hasratnya untuk bicara tertahan pengendalian diri. Namun tak dapat dipungkiri sikapnya yang seolah-olah sengaja meniadakan kehadiran Jeonghan begitu kentara. Pada akhirnya dia tak mampu bertahan terlalu lama. "Lalu apa maksudmu, Kakak Ipar...?"

Jeonghan membuka kedua tangan kosongnya, menyandarkannya di atas kedua paha. Tatapannya kosong selama berkata, "Sekarang aku tidak punya senjata. Aku selalu berada di belakang kalian semua yang maju ke barisan depan dan mempertaruhkan nyawa. Tapi sekarang aku tidak akan tinggal diam. Aku akan menemui mereka. Menemui Choi Dojin dan bicara dengannya."

Seokmin menganga tak percaya. "Jangan gegabah. Kau sedang hamil! Jika dia berbuat sesuatu padamu--"

Ucapan Seokmin terhenti seketika karena Jeonghan tiba-tiba mengulurkan tangan ke arahnya. "Aku tidak akan mencelakakan diriku sendiri. Tapi aku perlu melakukan sesuatu. Karena itu..."

The Next WinterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang