Menaiki tangga selama beberapa minggu terakhir sejujurnya sedikit melelahkan bagi Jeonghan. Perutnya semakin buncit, bobot tubuhnya tak lagi ringan. Dia harus ekstra hati-hati menjaga langkah dan keseimbangannya agar tidak terpeleset.
Maka ketika Seungcheol menggendongnya, dia merasa tersentuh. Aman dan nyaman bersandar pada kedua lengan kokoh pria itu. Bagai membawa sebongkah permata yang rentan pecah, langkahnya begitu terjaga. Perlakuan itu sukses membuat Jeonghan salah tingkah dan berusaha membuka percakapan untuk menutupi rasa malunya. "Pasti berat, kan...?"
"Tidak juga."
"Kalau kau melakukannya setiap saat, pasti merepotkan. Orang rumah juga akan melihat kita. Apa kau tidak malu?"
Seungcheol menyungging senyumnya. Menjawab lembut, "Aku tidak peduli."
Jeonghan akhirnya tidak melawan lagi. Perhatiannya beralih pada bekas darah yang sudah mengering di sudut bibir Seungcheol. Dia refleks menyentuh luka itu dengan hati-hati. "Bibirmu berdarah. Kenapa kau tadi berkelahi dengan Chan sampai terluka?"
"Karena dia melarangku menemuimu," Seungcheol mencondongkan tubuhnya dan berbisik, " Ternyata Chan lebih kuat dari dugaanku."
Jeonghan meringis. "Salahmu meremehkannya."
Tubuh Jeonghan baru diturunkan sesampainya di dalam kamar. "Mandilah duluan. Aku harus ke bawah sebentar untuk bicara dengan pengacaraku."
Seungcheol yang cukup peka sadar bahwa dirinya terus ditatap. Maka dia kembali mendekat dan tersenyum jail. "Kenapa? Mau mandi bersamaku?" godanya.
Begitu mudah ucapan itu merambatkan panas di pipi Jeonghan. Karena sudah lama tidak bertemu, dia belum terbiasa menghadapi keisengan pria itu seperti dulu. "Tidak. Aku mandi sendiri saja."
Sikap gugup Jeonghan selalu berhasil menghibur Seungcheol. Setelah Jeonghan masuk ke kamar mandi, barulah dia beranjak turun ke lantai dasar, menemui keempat orang yang sedang berdiri di teras rumah. "Semua sudah beres?" tanyanya pada mereka tanpa berbasa-basi.
Pengacaranya mengangguk. "Sudah. Tuan Jisoo juga sudah merekamnya. Nanti saya akan hubungi anda setelah tiba di Seoul."
Pria itu berpamitan pada semua orang sebelum masuk ke dalam sedan yang sudah menunggunya. Setelah mobil itu melaju pergi, Seungcheol menengok ke samping, melihat raut wajah Chan yang masam. Bibirnya mengerucut dan kedua alisnya menekuk tajam, tampak sangat lucu sampai Seungcheol tak tahan menegurnya. "Chan, kau masih marah padaku?"
Seperti cipratan minyak panas yang tersentuh air, Chan tiba-tiba meledak, "Beraninya kau bertanya! Tentu saja! Kau memanfaatkanku untuk mengambil rekaman itu! Kenapa tidak bilang saja dari kemarin?!"
"Maaf. Karena kau tak pandai bersandiwara, makanya kami sengaja tidak memberitahumu."
"'Kami'? Oh, jadi maksudnya Kak Wonwoo juga bersekongkol?" Chan memandang keduanya geram, lalu mengerang kesal. "Argh, aku benci kalian berdua!"
Chan masuk ke dalam rumah sambil menghentakkan kaki keras-keras. Menyaksikan betapa emosinya pemuda itu, Seungcheol mulai merasa bersalah. "Gawat. Dia sepertinya benar-benar marah padaku."
"Biarkan saja. Nanti juga reda sendiri," timpal Wonwoo enteng.
Seungcheol mengangguk dan menepuk pundak Wonwoo. Senyum manisnya mengembang lebar. "Terima kasih, kau sudah banyak membantuku. Kuharap setelah ini kau tidak keberatan melihatku bermesraan dengan Jeonghan selama berada di sini."
Sepertinya sejak tiba di rumah itu, Seungcheol sering sekali tersenyum. Choi Seungcheol yang dulu terkenal dingin, tidak bersahabat, dan irit suara seperti menjelma menjadi sosok yang berbeda. Tentu saja Wonwoo tahu siapa penyebabnya, sehingga demi menjaga senyum manis itu untuk tetap tersungging, dia memaklumi segala permintaan pria itu dan membalas datar, "Tidak masalah. Sebagai gantinya, tanggung semua biaya pengobatan para pengawalku yang kau hajar sampai babak belur."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Next Winter
Romance"Akan kubayar seluruh utangmu, dan kau hanya perlu melakukan satu hal: menjadi pendamping hidupku." Jeonghan tahu hidupnya menyedihkan. Yatim piatu, terlilit utang, dan harus menebus biaya operasi sang adik yang tak sedikit jumlahnya. Sementara Seun...
