Chapter 24: Realization

3.9K 406 30
                                        

Choi Dojin memang bukan pria biasa. Menemukan keberadaan Jeonghan mungkin seperti mencari uang kertas di antara tumpukan koin baginya, mudah dan tak menantang. Namun siapa sangka pria itu akan memberikan kejutan secepat ini? Di saat Jeonghan baru saja kembali ke Daegu dan hanya tersisa beberapa ratus meter lagi sebelum mobil yang ditumpanginya mencapai tujuan.

"Ayah Seungcheol...ada di sana?" Jeonghan memastikan bahwa pendengarannya baik-baik saja. Dan jawaban yang Chan berikan memberinya keyakinan. "Ya, dia datang ke sini setelah sekian lama. Sekarang dia ada di ruang tamu bersama Kak Wonwoo. Aku tidak tahu mereka membicarakan apa."

Jeonghan melirik ke luar jendela. Dari kejauhan, dia bisa melihat samar bangunan menjulang yang ditujunya. Di rumah itu ada Choi Dojin, pria yang sangat ingin dia hindari. Tidak mungkin dia melanjutkan perjalanan untuk menemui ancaman terbesar hidupnya itu.

"Chan, aku tidak akan ke sana sekarang. Tapi bisakah aku mendengar percakapan mereka?"

Menurutnya, Choi Dojin punya alasan besar mengunjungi rumah itu. Seungcheol pernah bilang bahwa sang ayah tidak akan bertindak macam-macam pada keluarga sang almarhum istri. Mungkin karena dia menghargai hubungan darah di antara anak-anaknya. Namun jika demikian, untuk apa dia datang bertamu setelah sekian lama jika bukan karena ingin menemui Jeonghan?

Awalnya Chan merasa ragu, namun akhirnya dia bersedia mengabulkan permintaan Jeonghan. Diam-diam dia membawa ponselnya yang masih menyala turun menuju ruang tamu. Baru menuruni beberapa anak tangga, tamu yang duduk di sofa sudah menyadari kehadirannya dan langsung menyapa, "Chan, sudah lama tidak bertemu."

Suara tenang dan berat itu masih sama seperti ingatan Chan. Suara yang selalu membuatnya merasa segan dan terintimidasi. "Apa kabar, paman? Tumben sekali datang kemari," balas Chan dengan senyum yang dibuat-buat.

Chan duduk di samping Wonwoo sambil memerhatikan Choi Dojin. Pria paruh baya itu duduk dengan satu kaki terangkat dan kedua tangannya yang merentang di atas sofa. Gayanya tidak pernah berubah, angkuh dan percaya diri. "Paman tadinya ingin mengusir seekor tikus yang kabarnya berkeliaran di sini. Tapi kakakmu bilang tidak ada tikus di rumah ini."

Tidak sulit bagi Chan untuk mengerti siapa 'tikus' yang dimaksud Dojin. Dia langsung tertawa kering. "Tentu saja tidak ada! Rumah kami selalu bersih dari tikus dan serangga. Ya kan, kak?"

Wonwoo yang diajak bicara hanya terdiam memandangi pria yang duduk di seberangnya. Melihat sikap itu, Chan tahu bahwa sang kakak sedang teramat serius. Terbukti dari ucapannya kemudian, "Seandainya ada pun, itu bukan urusan paman. Ini adalah rumah kami."

Seketika keheningan bernaung. Merasa terhibur dengan percakapan itu, Dojin tergelak. "Chan, paman tahu kakakmu berbeda denganmu. Kau lebih penurut, bukan?"

Chan mengerjap dan tampak kebingungan. "Erm...tidak juga. Terkadang aku suka membangkang..."

Kali ini Dojin mengubah posisi duduknya. Kedua tangannya dia letakkan di atas dengkul, dan kedua mata gelapnya memicing. "Kalian tentu tahu bahwa Seungcheol bertunangan dengan Jung Ahra, anak perempuan presdir Tokio Company."

Tentu saja mereka tahu. Namun sandiwara masih harus berlanjut, sehingga Chan membuka lebar kedua mata dan mulutnya dengan sengaja. "O-oh ya? Aku baru tahu soal itu..."

Dojin terkekeh. Dia tampak tidak peduli kedua anak muda di depannya kerap bersandiwara. Dia justru meladeni mereka. "Ya, tapi ada seekor tikus yang senang mengusik kehidupan Seungcheol dan mengganggu hubungan mereka. Seungcheol malah membela tikus itu dan melawan paman. Padahal tikus itu tidak layak untuknya, tidak punya status, kedudukan, ataupun harta. Ibarat tikus comberan yang masuk ke rumah seseorang dan berharap ingin menjadi hewan peliharaan."

The Next WinterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang