Chapter 13: New life

5.9K 542 25
                                        

"Tuan muda, anda diundang makan malam oleh paman anda bersama investor barunya."

Seungcheol memalingkan wajahnya ketika mendengar ucapan sang sekretaris. Pria itu memegang buku agenda hitam yang selalu dibawanya ke manapun, menandakan ada banyaknya jadwal yang siap menanti.

"Bilang padanya aku sudah ada janji. Besok pagi ada meeting?"

"Tidak ada. Tapi besok ada conference call dengan cabang Makau. Setelah itu ada jadwal makan siang dan acara golf bersama Edward Kim dan para petinggi lainnya."

"Gantikan aku dengan Direktur Shinyoung atau Direktur Heejin untuk menghadiri acara golf itu."

Jisoo sempat melambatkan langkahnya, lalu buru-buru menyamai langkahnya dengan sang atasan. "Tapi mereka berharap anda yang akan hadir. Kali yang lalu anda juga menolak undangan itu. Tidakkah sebaiknya anda pergi?"

"Biar saja. Tidak ada keperluan mendesak untuk menghadiri acara itu. Lagipula mereka hanya membuang waktu dengan menggoda caddy golf dan bermain bersama gundik mereka."

Tidak ada lagi usaha dari Jisoo untuk meyakinkan sang bos. Karena itu dia melempar pertanyaan lain. "Apa anda jadi makan malam di luar hari ini?"

Pertanyaan itu yang akhirnya mengubah ekpresi datar Seungcheol. Bibirnya otomatis mengembang. "Ya, tolong reservasi meja di tempat biasa. Aku akan pulang dulu ke rumah."

Setelah percakapan itu berakhir, mereka akhirnya berpisah jalan. Jisoo hanya bisa menghela nafas mengamati Seungcheol masuk ke dalam mobil ferrari-nya di parkiran. Dia membuka ponsel untuk menjalankan tugasnya ketika seorang bodyguard lain datang mendekat, "Belakangan sepertinya suasana hati tuan muda sedang sangat baik, tuan Jisoo."

Jisoo termenung mendengar pendapat itu. Dia lalu mengangkat ponselnya dan tersenyum lemah. "Ya. Berkat seseorang."

=======

Jam menunjuk pukul 17.35 ketika Jeonghan sibuk membereskan barang-barangnya. Dia membuka celemek kerjanya, mengganti baju dan celananya, lalu memasukkan semua barang dari dalam lokernya ke dalam tas. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, dia segera berseru, "Aku pulang duluan. Sampai jumpa semuanya!"

Namun niatnya itu terhambat ketika Minghao, sang rekan kerja berseru, "Topimu ketinggalan, kak."

Jeonghan menengok ke belakang, lalu berputar arah untuk mengambil topinya yang tercantol di gantungan dinding. "Hampir saja lupa. Terima kasih, Hao!"

"Kau selalu terburu-buru pulang belakangan ini. Apa kau mendapat pekerjaan baru?"

Jeonghan yang sedang memasang topinya itu mengerjap, lalu menutupi perasaan gelisahnya dengan tersenyum kikuk. "Ah tidak, aku hanya ada keperluan di rumah."

Tiba-tiba pintu di dekatnya terbuka, dan seorang rekan kerja lain tergesa-gesa masuk ke dalam ruangan. Nyaris saja mereka bertabrakan. "Oh, maaf kak!"

Seketika Jeonghan membeku di tempat. Bau amis yang menguar dari tubuh pria itu membuatnya merasa mual dan pusing. Dia spontan memegangi mulutnya. Dia mendengar Minghao menyapa pria itu, juga mendengar si pria berkata, "Tadi aku baru saja mengangkut kiriman ikan dan daging. Bajuku sampai basah begini."

Jeonghan akhirnya pulang setelah rasa mualnya reda. Dia berjalan kaki menyusuri trotoar di mana sepanjangnya berderet pepohonan penuh bunga yang baru mekar. Jeonghan mempercepat langkahnya ketika melihat arlojinya sudah menunjuk pukul enam kurang. Dia mulai berlari, bahkan meninggalkan bodyguard yang mengikutinya sejak pagi tadi jauh di belakang.

Ketika sampai di rumah, Jeonghan menemukan kehadiran pria yang sudah menunggunya di ruang tamu. Pria bermantel abu itu menyambut kedatangannya dengan senyuman hangat. "Kau sudah pulang."

The Next WinterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang