Chapter 3: One Night

7K 674 36
                                        

Yoon Jeonghan, kau pasti sudah gila.

Kepala Jeonghan tak henti-hentinya mengulang ucapan itu. Satu jam yang lalu, dia masih berbaring nyaman di atas ranjangnya. Namun kini kedua kakinya berpijak di depan pintu apartemen mahal seorang pria yang akan membayarnya untuk bermalam. Dia tak mungkin menginjakkan kakinya di tempat elit itu jika bukan karena terdesak. Beberapa kali dia menggemeratakkan gigi memikirkan keputusannya. Namun seberapa keraspun berpikir, tekadnya sudah terbentuk sekeras baja.

Jeonghan putuskan untuk menekan bel di samping pintu. Tak sampai satu menit pintu pun terbuka, menampakkan pria yang Jeonghan sudah hafal benar rupanya belakangan. Dia cukup terpana memandangi pria yang menyambutnya sedang mengeringkan rambut dalam balutan bathrobe. Dada bidangnya yang mulus tak ayal terekspos. Seketika itu juga wajahnya merona merah.

"Masuklah." Seungcheol menyingkap pintu lebih lebar. Dengan hati-hati, Jeonghan melangkah masuk. Kedua matanya tak bisa tak menjelajah isi apartemen itu. Lantai dan dinding marmernya saja tak selevel dengan tembok semen apartemen mungil miliknya. Meski tak terbiasa mendatangi kediaman semewah itu, dia berusaha bersikap tenang agar tidak terlihat norak.

Seungcheol menuntun Jeonghan ke sebuah kamar berukuran tiga kali lebih besar dari kamarnya. Tak usah dijelaskan bagaimana penampakan ruangan itu. Dia merasa seperti sedang berada di sebuah kamar kerajaan Eropa.

"Mandilah dulu. Kau masih memakai baju yang sama seperti saat tadi kita bertemu," ucap Seungcheol seraya menyodorkan sehelai handuk. "Pakailah piyama yang tersedia di kamar mandi."

Jeonghan menurut dan membawa handuk yang diberikan Seungcheol ke dalam kamar mandi. Di sana, dia lagi-lagi terpesona menyaksikan eloknya isi ruangan itu. Selain chandelier emas, ada pula jacuzzi dan televisi di dalamnya, seperti yang sering dilihatnya di kamar mandi para konglomerat dalam drama. Semuanya tampak sangat mahal, sehingga dia tak bisa tak memikirkan eksistensinya di tempat semacam itu.

Apa yang dia lakukan di kamar mandi seorang pria kaya raya? Rasanya seperti tak punya harga diri. Dia tak akan sanggup menceritakan hal ini kepada siapapun, bahkan kepada Jihoon yang hanya diberitahu bahwa kakaknya itu akan menginap di rumah teman.

Jeonghan membasuh dirinya cukup lama. Dia sejujurnya belum siap hati melaksanakan pekerjaannya malam itu. Setelah mengenakan piyama yang tersedia, dia membuka pintu dengan hati-hati, berusaha mengintip isi kamar tidur Seungcheol. Ternyata pria itu sudah duduk berbaring di atas ranjang king size-nya sambil sibuk mengutak-atik ponsel.

Melihat pintu kamar mandinya terbuka, Seungcheol tersenyum dan meletakkan ponselnya ke atas meja di sisi ranjang. "Sudah selesai? Kemarilah."

Saat itu Jeonghan merasa seperti sedang melakukan tindakan tak bermoral. Jantungnya berdegup kencang sambil melangkah mendekat. Tenang, Jeonghan, kau hanya perlu menemaninya tidur, bukan bercinta dengannya!

"Lampu akan kunyalakan. Tidak apa-apa?" tanya Seungcheol ketika Jeonghan sudah berbaring di sampingnya.

"Kau selalu tidur menyalakan lampu?"

Seungcheol mengangguk. "Sudah terbiasa sejak kecil."

"Kalau kau ingin bisa tidur, tidakkah sebaiknya mematikan lampu? Kudengar tidur dengan lampu menyala tidak baik untuk kesehatan. Mungkin penyebabmu kurang tidur adalah karena kamarmu terang-benderang," ujar Jeonghan, dengan hati-hati menyatakan pendapatnya.

Seungcheol tampak memikirkan usul itu, hingga pada akhirnya dia setuju dan hanya menyisakan nyala lampu di atas meja.

Mereka berbaring nyaman di balik balutan selimut tebal yang hangat. Jeonghan merasa harus memulai percakapan di tengah keheningan suasana itu. "Apa kau pernah coba minum susu hangat sebelum tidur? Kudengar bisa membuatmu tidur lebih nyenyak."

The Next WinterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang