Chapter 16: Decision

5.1K 530 21
                                        

Sebuah ruangan penuh tembikar menjadi penampakan pertama yang Jeonghan saksikan ketika membuka mata. Duduk di sebuah sofa putih, di dalam kamar bergaya Eropa dengan tangan terikat adalah kenyataan yang menyambut kesadarannya. Dia butuh sekitar satu menit untuk memulihkan penglihatan buramnya agar mampu melihat sekeliling tempat itu dengan jelas.

Ternyata dirinya tidak sendiri. Jisoo duduk terlelap di sebelahnya dengan tangan yang juga terikat. Tampak sebercak noda darah di sudut bibirnya dan luka lebam di bawah matanya seperti habis terpukul. Pemandangan itu mengingatkan Jeonghan akan apa yang terjadi sebelum dia kehilangan kesadaran. Dan tepat ketika dia hampir membangunkan Jisoo, pintu kamar itu terbuka.

Seorang pria bertubuh perkasa seperti atlet binaraga berjalan menghampirinya. Sosok itu juga yang mengingatkan Jeonghan akan apa yang terjadi sebelum mereka berada di sana. Pria itu satu di antara para pria yang menerobos masuk ke dalam apartemennya, menjadikan Jihoon sandera, dan menyekapnya dengan obat bius. Ya, dia kini ingat semuanya.

"Tuan besar ingin anda ke ruangannya sekarang," ujar pria kekar itu tanpa berbasa-basi. Tidak sulit bagi Jeonghan menerka siapa identitas 'tuan besar' yang dimaksudnya. Siapa lagi yang akan menculiknya seperti ini jika bukan mertuanya sendiri?

Dengan ragu Jeonghan berusaha bangkit berdiri. Sebelum dia menyeret kedua kaki lemasnya, dia sempat menoleh ke arah Jisoo yang masih tertidur. Sepertinya mereka memberi dosis obat bius yang lebih besar padanya. Wajar saja, Jisoo memiliki luka di sekujur wajahnya. Mereka pasti baru sukses menaklukkan sekretaris handal suaminya itu setelah menghadapi perlawanan hebat darinya.

Jeonghan akhirnya meninggalkan kamar itu dan diantar menuju ke sebuah kamar lain. Dia sempat memerhatikan beberapa pria yang berjaga di sepanjang koridor sambil membawa senjata api yang tersarung di sabuk pinggang mereka. Tempat itu jelas adalah tempat yang berbahaya, dan dia mulai merasa gundah membayangkan apa yang akan terjadi padanya setelah ini.

Sebelum sang pengawal membuka pintu, dia sempat berseru lantang, "Beliau sudah datang, tuan."

Lalu terdengar balasan samar dari dalam ruangan, "Suruh masuk."

Baru setelah itu pintu ruangan dibuka, dan Jeonghan masuk ke dalamnya dengan langkah berat. Dia rasakan hawa yang begitu menekan ketika menginjakkan kaki di sana. Pria yang menantinya duduk di pojok ruangan, menopang sikunya pada permukaan meja. Wajahnya di luar dugaan tidaklah sangar, lebih menyerupai kaum berkelas yang berpakaian rapi dan necis. Pria itu tampak terhibur ketika menyambut kedatangan Jeonghan, pandangannya menjelajah dari ujung kaki hingga ujung kepala.

"Ternyata ini mainan Seungcheol? Manis juga."

Ucapan merendahkan itu seketika membuat kesan pertama Jeonghan terhadapnya menjadi buruk.

Jeonghan tidak bersuara. Dia hanya bergeming di posisinya dalam jarak beberapa meter dari pria itu berada. Choi Dojin lalu bertanya, "Namamu Yoon Jeonghan?"

Masih tidak ada suara yang Jeonghan keluarkan, sampai sang penanya tersenyum heran. "Dia tidak bisu, kan?"

Pengawal di dekat Jeonghan tiba-tiba mencekal lengannya, sedikit menyentaknya dengan berseru, "Hei, jawab!"

Jeonghan menelan ludah. Dia menatap sengit Choi Dojin sebelum terpaksa membuka mulutnya, "Mengapa anda menculik saya?"

Mendengar pertanyaan itu, Dojin tersenyum lebar. Namun bukannya menjawab, dia malah dengan santai berkata, "Dia bisa bicara ternyata. Tidak buruk. Wajahnya juga cukup tampan." Dan kalimat berikutnya dia tuturkan dalam gumaman, "Sayang sekali berasal dari comberan."

Sepertinya pria ini sangat suka mengejek, terbukti bahwa belum lima menit mereka berjumpa sudah dua hinaan terlontar dari mulutnya. "Jangan takut, saya hanya membawamu ke sini untuk berbincang. Karena ketika kemarin saya datang berkunjung, kau tidak ada di rumah."

The Next WinterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang