Chapter 37: Family

3.9K 330 25
                                        

Kritis.

Itu kata yang berputar di kepala Jeonghan seperti kaset rusak.

Kata itu sempat terucap dari mulut dokter. Melihat bagaimana Seungcheol buru-buru dilarikan ke ruang operasi dan para tim medis bertindak gesit sudah cukup menjadi bukti bahwa pria itu memang dalam kondisi gawat.

Tentu saja gawat. Jeonghan tak mungkin lupa bagaimana tubuh Seungcheol membujur kaku di tengah badai salju. Seluruh permukaan kulitnya memucat akibat hawa dingin dan mengalami pendarahan. Entah apa yang terjadi pada Seungcheol jika Wonwoo tidak datang dan melarikannya ke rumah sakit.

Kini dia hanya bisa duduk menanti di lorong rumah sakit seorang diri. Bekas darah menempel di sekitar pergelangan tangan dan lengannya, namun dia tak merasa risi sedikitpun. Dia duduk sedikit meringkuk untuk menghangatkan tubuhnya yang selama puluhan menit terpapar udara dingin. Kini sebuah mantel melingkar di tubuhnya untuk memberi kehangatan.

Wonwoo tiba dengan membawa kantong plastik. Dia baru saja kembali dari kafetaria. Dia yang meminjamkan Jeonghan mantel dan membawa Seungcheol ke rumah sakit terdekat. Wonwoo bercerita bahwa ketika dia pulang, rumahnya penuh dengan kekacauan. Setelah Chan sadar, dia langsung bergegas menyusul Seokmin yang mengirimnya chat untuk meminta pertolongan. Dia segera pergi ke lokasi yang dikirim Seokmin hanya untuk mendapati Seungcheol dan Jeonghan meringkuk di tengah badai salju. Beruntung kehadirannya tepat waktu dan dia menjadi penyelamat bagi kedua orang itu.

Wonwoo mendekati Jeonghan dan menyodorkan kantong plastik yang dibawanya. Dari sekilas pandang, Jeonghan tahu kantong itu berisi makanan. Maka dia segera menggeleng dan menolak, "Aku tidak lapar."

Meski menerima penolakan, Wonwoo tidak kunjung menarik uluran tangannya dan bersikeras, "Bukan untukmu. Tapi untuk bayi di dalam perutmu. Makanlah."

Jeonghan tak dapat berargumen lagi. Yang Wonwoo katakan benar, dia tidak boleh egois dan harus memikirkan kandungannya. Maka diambilnya bungkus makanan itu, tak punya pilihan selain melahap roti di dalamnya.

Sementara Jeonghan mengisi perutnya, Wonwoo duduk di sampingnya dan berkata, "Chan sedang dalam perjalanan kemari. Setelah dia tiba, kau bisa pulang dan beristirahat."

"Aku tidak mau pulang."

Wonwoo menghela nafas. Tidak menyangka bahwa Jeonghan adalah pria yang cukup keras kepala. "Sekali lagi, ini bukan untukmu. Tapi untuk bayi di dalam perutmu."

Seberapapun gigihnya, jika sudah menyinggung bayi di dalam perut, maka tiada lagi perlawanan yang akan Jeonghan berikan. Namun meski membayangkan kondisi Ceri, Jeonghan tak bisa mengabaikan Seungcheol yang masih mempertaruhkan hidupnya. Jika dia pulang dan beristirahat, lalu tiba-tiba kondisi Seungcheol memburuk, apa dia tidak akan menyesal selamanya?

Tahu bahwa pikiran Jeonghan sedang bergulat, Wonwoo berkata, "Dia akan selamat. Kak Seungcheol tidak selemah itu."

Jeonghan meremas bungkus roti di tangannya. "Aku tahu dia akan selamat. Dan begitu dia membuka mata, aku akan berada di sampingnya."

Susah sekali membujuk seseorang berhati baja. Rupanya begitulah kondisi hati Jeonghan sekarang. Wonwoo memilih untuk tidak bicara apapun lagi dan duduk diam di sisinya.

Namun tak sampai lima menit kemudian, sosok lain datang menghampiri mereka.

Wonwoo yang pertama kali melihat kehadirannya langsung bangkit menyapa, "Seokmin."

Mendengar nama itu, Jeonghan yang baru selesai menelan potongan roti terakhirnya segera menoleh. Penampilan Seokmin tampak sedikit berantakan. Rambutnya seperti tak disisir, kancing kemejanya terlepas sebagian, dan guratan letih memadati wajahnya. Dia terlihat ringkih dan tak ceria seperti biasa.

The Next WinterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang