Lalice Shanetta Carolie dan Jeykey Gaharu, dua manusia yang tak pernah akur jika dipertemukan. Pasti ada saja lemparan kata-kata dari kedua bibir yang saling berdusta itu. Satunya galak dan sering menyentak, sementara satunya lagi sombong dan tak ma...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Voment!
Pagi hari dengan cuaca yang sangat sejuk, Lalice duduk di kursi taman rumahnya. Ia sedang bersiap untuk olahraga mandiri di rumah.
Entah dorongan dari mana pagi ini ia sedang ingin ber-olahraga. Padahal biasanya pagi buta seperti ini dirinya masih berada dalam balik selimut.
"Tumben nih," tegur Razka yang baru saja keluar dari rumah. Cowok itu berdiri di ambang pintu.
Lalice menghentikan aktivitasnya dan menoleh malas, ke arah Razka. Namun ia memberhentikan tatapannya ketika melihat penampilan abangnya pagi buta begini.
"Pagi-pagi mau kemana lu? Minggat?" tanya Lalice seraya mengalihkan pandangnya ke arah lain. Yang penting tidak melihat wajah abangnya.
"Ga ada adabnye banget lu sama gue."
"Pagi-pagi dah rapi, kayak tukang kredit." gumam Lalice terdengar. Sebenarnya sih itu sebuah sindiran.
"Heh! Gue dah ganteng begini malah dikatain tukang kredit!"
Lalice menaruh sarung tangan tinjunya, "Mau kemana sih lu emang?"
Razka menyisir rambutnya ke belakang, dengan sedikit bergaya. Setelahnya ia berdeham. "Ngapel."
"Ow-"
"Eh-eh tumben nih anak-anakku tercinta akur. Seneng deh bunda liatnya!" tiba-tiba Stefani datang dari dalam rumah dengan senyum merekah. Dan sebuah nampan yang berisi 2 gelas teh manis hangat.
Lalice dan Razka saling tatapan lalu mereka menatap bundanya. "Loh ini abang mau kemana ha? Tumben amat pagi gini udah rapih." tanya Stefani pada Razka seraya menaruh dua gelas tersebut di meja.
"Ekhem, mama pengen tau banget apa mau tau aja nih??" Razka menaikkan kedua alisnya.
"B aja." wajah Razka yang awalnya cerah kini menjadi mendung. Sungguh nyelekit perkataan bundanya.
"Parah amat mah." Lalice menertawakan Razka dalam diam.
Lalice duduk berbarengan dengan mamanya. Razka mendekati kedua perempuan tersebut. Lalu dia meminum salah satu teh yang di bawa oleh Stefani.
"Pyuhh, huek!" Razka menyemburkan teh tersebut ke rerumputan halaman rumahnya. Ia langsung menaruh teh tersebut.
"Ma, ini teh apa air laut sih? Asin banget deh." sementara yang ditanyakan menyengir tak berdosa.
"Berarti itu tadi yang dibuat mba Titi bang," jawabnya. Mba Titi adalah pembantu di rumah mereka. "Mba Titi masih ngantuk tadi, terus salah masukin garam, eh untung bunda liat, jadi cuma di masukin 2 sendok makan doang."