42] Belum Siap

4.3K 718 82
                                        

Lorong rumah sakit terlihat sepi, karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Lorong rumah sakit terlihat sepi, karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Mereka membawa Lalice ke rumah sakit terdekat. Dan mereka pun sudah melapor ke polisi, perihal kejadian ini.

"Hiks.. Licee..."

Kini lorong tersebut, didominasi oleh suara tangis anggota Lalvane. Terutama Eunha. Mereka masih syok berat dengan kejadian ini. Benar-benar di luar kepala.

"Udah-udah, kita doain semoga semuanya baik-baik aja.."

Yuju adalah penyemangat bagi mereka untuk saat-saat seperti ini. Mungkin dia terlihat tegar di antara yang lainnya, tapi nyatanya sama saja. Cuma memang dia tipe yang memendam.

"Kalian tau sendiri, gue paling ngga bisa liat darah banyak.. Dan tadi gue nyaksiin sendiri tubuh sahabat gue hampir darah semua..." ucap Eunha dengan nada bergetar.

"Gue juga liat motornya ancur gitu, lemes badan gue.."

Mereka mengangguki ucapan Eunha. Memang, motor Lalice benar-benar hancur terutama bagian depan.
Dalam pikiran mereka juga penuh tebakan tentang kejadian ini. Bagaimana bisa, gitu.

Belum ada yang mengabari pihak keluarga Lalice. Sama sekali tidak terpikirkan oleh mereka, untuk sekedar memegang ponsel saja. Mungkin akan segera mereka hubungi.

Di sebelah Lalvane, Jeyracks sedang menenangkan sang ketua. Jeykey tak berbicara sepatah kata pun jika itu tak begitu penting. Dia menunduk dengan memegang kepalanya kuat.

"Minum dulu, minum." Mingyu memberikan satu botol mineral pada Jeykey. Namun cowok itu menggeleng, tanda menolak.

"Sedikit aja, Jey." Marfel membujuknya. Seenggaknya, agar cowok itu bisa sedikit rileks akibat terkejutan ini.

Jeykey pasrah, teman-temannya memaksa. Ia meraih minum itu, lalu menenggaknya hanya sedikit, membuat Jeyracks menghela nafas berat.

"Jeykey."

Sontak semuanya mendongak. Dan menatap bertanya pada cewek yang berdiri di depan mereka. Jaehyun mengerutkan alisnya, saat Rose maju ke depan Jeykey.

"Jawab gue jujur." tekan Rose masih dengan sisa tangisnya. Dia menatap Jeykey tak bersahabat. Jeykey tak mendongak sama sekali. Ia pusing berat.

"Jangan-jangan... Ini semua rencana lo, kan?? Lo jadiin Lalice sebagai pacar, itu cuma permainan lo doang. Padahal lo mau buat sahabat gue berakhir begini, iya kan?!"

"Jawab guee!!" Rose menggoyangkan bahu Jeykey dengan penuh kekesalan.

"Sayang, kamu kenapa sih??" Jaehyun membawa tubuh Rose mundur dari hadapan Jeykey. Ia takut Jeykey membalas kasar. Tapi nyatanya tidak.

"Gue nyesel udah pernah bantuin lo dapetin sahabat gue, brengsek!!"

"Rose, cukup!" Yuju menghampiri sahabatnya yang sedang tidak beres. Ia menarik paksa Rose kembali ke tempat semula.

Cover The Taste || ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang