Lalice Shanetta Carolie dan Jeykey Gaharu, dua manusia yang tak pernah akur jika dipertemukan. Pasti ada saja lemparan kata-kata dari kedua bibir yang saling berdusta itu. Satunya galak dan sering menyentak, sementara satunya lagi sombong dan tak ma...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Bang, lo kenal sama dia?" tanya Lalice sambil menunjuk Jeykey yang ada di sebelah abangnya.
Rafka mengangguk. "Iya," dia langsung melirik Jeykey.
"Lah, jadi lo udah kenal sama adik gu-"
Rafka langsung mengatupkan bibirnya saat hendak melanjutkan ucapannya, sebab melihat dua mata tajam yang tak lain adalah milik Jeykey.
"Ih apaan sih kok jadi liat-liatan gitu,"
"Eum enggak. Duduk dulu, duduk sini." Rafka menarik tangan adiknya menyuruhnya duduk. Namun Lalice menolak mentah-mentah.
"Gue balik duluan Raf." Jeykey berdiri seraya membenarkan jaketnya. Dia seperti tidak memedulikan kakak beradik itu.
Rafka menatap pergerakan Jeykey. "Lah, kan belum selesai ngomong kita,"
"Next time."
"Eh tunggu Jey!" panggil Rafka saat Jeykey sudah ambil 2 langkah untuk pergi. Yang di panggil langsung menoleh dan menaikkan satu alisnya. "Sini-sini." sambung Rafka.
Dengan malas Jeykey balik lagi ke adik dan kakak itu.
"Lo mau langsung balik kan?" tanya Rafka, Jeykey pun mengangguk.
"Pas lah. lo mau balik kan?" tanya Rafka ke Lalice. Bukanya menjawab, Lalice sedikit menyipitkan matanya.
"Dih malah diem. Mau pulang kan lu?" Lalice menganggukkan kepalanya kecil.
"Ya udah nih Jey titip adek gue sampe rumah."
Sumpah demi apa?! Dengan mudahnya Rafka melontarkan ucapan tersebut yang sudah pasti mereka berdua menolak.
"Apaan deh bang. Kalo lo mau pulang malem ya udah. Gue bisa kok pulang sendiri." Lalice menatap Rafka dengan penuh amarah. Ini ga baik buat dirinya juga sesuatu yang ada di dalam dirinya.
"Dengerin dulu. Gue mau balik maleman, karena mau main ke tempat lain. Nah gue pinjem motor lu. Emang lu mau ikut main sama gue?"
Lalice diam tak membalas. Ia langsung duduk dengan cepat juga kesal yang bersamaan.
"Udah sono, mendung tuh kehujanan tau rasa lu."
"Jey bantuin gue dong. Ayo kita seret bareng-bareng nih anak." kata Rafka ke Jeykey yang hanya menonton perdebatan ini dari awal. Dasar abang ngga ada akhlak.
Lalice berdiri dari duduknya. "Sinting nih anak berdua. Ayo lah, terpaksa." Lalice menaruh kunci motornya di meja, sebelum meninggalkan tempat itu.
"Lumayan kan Jey?" Rafka menaik turunkan alisnya.
Jeykey memutar bola matanya lengah, "Ga gitu juga caranya."
Rafka terkekeh. "Hati-hati!" teriak Rafka saat Jeykey mulai menyusul Lalice.
_____
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Turun-turun,"
"Iya-iya sabar."
Sesuai yang Rafka bilang bahwa malam ini cuaca mendung. Dan baru beberapa menit menuju rumah Lalice, hujan sudah mengguyur kota setempat dengan deras.
Akhirnya Jeykey dan Lalice berhenti pada salah satu halte yang sudah ada beberapa manusia ikut berteduh di sana.
"Ck, hujan ga tepat banget sih." Lalice terus mendumel dan berdecak sambil membersihkan pakaiannya yang basah.
Ia menyesali dirinya yang tidak memilih pulang dari tadi. Kalau saja dirinya sudah pulang dari tadi, pasti sekarang ia sedang rebahan dengan menikmati sejuknya cuaca malam ini diatas ranjangnya.
Srek.
"Eh? Ngap-"
"Ssstt." Jeykey memakaikan jaketnya ke tubuh cewek yang kini berada di sampingnya tepat. Hawa yang dingin seperti saat ini seolah mampu membekukan tubuh Lalice disaat itu juga.
"Dingin kan?" kata Jeykey. Lalice mendongak secara spontan. Betapa kagetnya dia di saat mata Jeykey ikut menatapnya lekat. Ia langsung menundukkan pandangan.
Rasa aneh ini akan muncul, ketika ada perlakuan asing yang cowok itu tampakkan kepadanya langsung.
Beberapa detik kemudian, Jeykey meninggalkannya tanpa pamit atau bicara dengannya sepatah kata pun, entah dia mau kemana.
"Mau kemana?" teriak Lalice dengan nada berbeda yang tak didengarkan oleh Jeykey.
Ternyata, cowok itu masuk ke dalam market yang dibuka 24 jam di deretan halte. Lalice mengejarnya dengan langkah tertatih memasuki market.
Pas disaat Lalice membuka pintu kaca market ia melihat Jeykey berdiri di depan mesin coffee. Ya, cowok itu sedang membuat hot coffee. Lalice berjalan pelan ke arah cowok itu.
Disaat ia berhenti, sewaktu itu juga Jeykey menoleh. Dan segelas hot coffee disodorkan pada Lalice.
"Ha? Itu kan punya lu?" Lalice menatap coffee dan Jeykey bergantian.
"Ambil,"
OMG! Sangat dingin nadanya namun ada kesan perhatian didalamnya.
"Buatan lo?" tanya Lalice hati-hati.
"Hm, kenapa? Ga mau?"
"E-engga gitu elah, santai kali."
"Udah minum, dingin cuacanya." titah Jeykey.
Lalice mengambilnya dengan keraguan. Lalu ia meminumnya. "Khm, M-makasih."
•••••
Sepii yaa:)
AN : aku suka bacain komen kalian yang unik dan itu buat aku happy, itu juga bisa jadi semangatku utk update, thanks fams💓🙏✨