Lalice Shanetta Carolie dan Jeykey Gaharu, dua manusia yang tak pernah akur jika dipertemukan. Pasti ada saja lemparan kata-kata dari kedua bibir yang saling berdusta itu. Satunya galak dan sering menyentak, sementara satunya lagi sombong dan tak ma...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Weh! Jae! No 2 apaan? Jangan pura-pura budek lu!" Bambam memanggil serta menendang kursi belakang Jaehyun yang ada di depannya. Namun, Jaehyun mengabaikan dia.
"Budek beneran sih gue sumpahin." lanjut Bambam dengan nada prustasi.
"Apaan sih? Gue aja belom," jawab Jaehyun berbisik.
Bambam pun berdecak malas, Ia melihat kanan dan kirinya. Di kanan ada Eunwoo, yang sama halnya dengan dirinya, sama-sama tidak bisa mengerjakan 5 soal dari mata pelajaran matematika itu.
5 soal memang terdengar dikit, tetapi nyatanya angka 5 itu seperti beranak, hingga menjadi banyak untuk dikerjakan.
Pada akhirnya Bambam menoleh ke kiri, dimana Mingyu yang sedang berpikir keras untuk mencari jawaban sambil memainkan pulpen di tangannya.
"Ming! Kiming!"
Sang pemilik nama pun menengok, sambil mengangkat alisnya satu. "Hm?"
"Nomor 2, GC!" paksanya dengan berbisik.
Entah saking prustasinya dengan soal, Bambam sampai tidak menyadari bahwa guru yang mengajar sedang memperhatikan ke arahnya.
"Belom." jawabnya lumayan keras, sehingga beberapa murid menatap ke mereka berdua. Terutama guru yang mengajar- Pak Ridwan.
"Bagi yang tidak mengerti atau tidak paham, silakan maju untuk bertanya." ucap Pak Ridwan. Bamban dan murid satu kelasnya menatap sekilas sang guru dan mengangguk kecil. Ucapan itu seolah menyindir Bambam yang memang tidak mengerti dan ingin menyontek.
"Noh tanya sono," kata Jaehyun yang sedikit memiringkan kepalanya untuk berbicara dengan Bambam di belakangnya.
Bambam diam seraya berpikir. Tidak tahu apa yang dipikirkan cowok itu.
Tak lama kemudian berdiri dan jalan ke depan kelas menuju meja guru. Hal itu membuat seisi kelas, terutama Jeyracks bertanya-tanya.
"Pak," sapa Bambam mencoba sopan. Hatinya berucap, carmuk dikit boleh kali.
"Ya? Udah selesai kamu Bam?"
"Udah,"
"Ya, kumpulkan di sin-"
"Udah pasti belum maksudnya Pak," Bambam menyengir tak enak pada Pak Ridwan. Untung pak Ridwan ini menjadi seorang penyabar jika bertemu murid seperti Bambam.
Di tempat duduknya, Jeykey menggelengkan kepala melihat Bambam yang bikin kepala cenat-cenut.
"Temen lu," kata Jeykey ke Yugyeom di sebelahnya.
"Dih! Anak didikan lu Jey." jawab Yugyeom tak terima. Jeykey terkekeh kecil. Jangan dibayangkan nanti meleyot.
"Saya mau tanya pak." kata Bambam yang sudah melerai basa-basinya.