"Setelah gue diusir, sekarang lo mau sok baik sama gue, gitu? Segala nganterin gue ke bawah. Biasanya juga lo biarin gue nyelonong gitu aja. Sumpah deh, Na, lo aneh banget. Lo beneran nggak apa-apa, kan? Kabel otak lo nggak ada yang korslet kan gara-gara ditinggal kawin Levin?"
Seperti kelebihan energi, Maura terus saja berkicau. Kali ini punggung tangannya sudah berada di kening Aruna, mencoba memastikan bahwa saat ini sahabatnya itu tidak sedang 'korslet'.
"Ck! Apaan sih." Aruna menepis tangan Maura yang berada di dahinya. "Overthinking deh lo. Gue cuma mau ke minimarket, ya sekalian jalan aja. Ngapain nganterin lo? Kerajinan." Wanita itu berdalih. Padahal nyatanya, tujuan Aruna turun ke lantai bawah adalah untuk 'menjemput' Sean yang entah sedang berada di mana.
"Lo baru aja balik dari supermarket, Darling. Mau cari apaan lagi?"
Aruna tak lagi menanggapi pertanyaan Maura. Jujur saja, dia lelah mencari penjelasan yang masuk akal atas semua tingkahnya yang tak masuk akal. Kali ini, ia akan membebaskan Maura dan seluruh asumsinya.
Sesampainya di lobi, Aruna sibuk mematrolikan pandangan. Mulai dari area resepsionis hingga ruang tunggu. Namun hasilnya nihil. Sosok yang wanita itu cari tak dapat ia temukan. Pergi ke mana bocah itu?
"Minimarket ke sana. Lo ngapain ngikutin gue sampe lobi?" Maura membuyarkan pandangan Aruna dengan kalimat pedasnya.
Aruna baru akan menimpali Maura dengan alasan jilid sekiannya, namun, sebuah pemandangan yang terlihat dari dinding kaca berhasil membuat matanya mendelik sempurna.
Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat Sean sedang diapit oleh dua security, digiring menuju pos satpam yang terdapat di depan gedung apartemen.
"Lho? Pakk? Stop stop!" Aruna refleks berseru. Sadar seruannya tak akan berarti apa-apa selain menggemparkan seluruh lobi, wanita itu lantas berlari menuju keluar gedung secepat kilat. "Pak! Anak saya mau dibawa ke mana?!"
Maura mematung di tempatnya berdiri. Rautnya terlihat frustrasi. Namun detik berikutnya, ia memilih untuk berlari mengejar Aruna. "HAH? ANAK?"
***
"Pak!! Anak saya mau dibawa ke mana?!" Aruna mengulangi pertanyaannya setelah gadis itu berada di luar gedung. Napasnya terdengar tak beraturan, efek berevolusi menjadi atlet lari dadakan.
Dua orang security yang tengah mengapit Sean lantas menghentikan langkah. Keduanya menatap Aruna dari ujung kepala hingga ujung kaki. Salah satunya kemudian membisikkan sesuatu dengan rekannya. Sesuatu mencurigakan, namun tak dapat Aruna dengar.
"Ini anak Mbak?" Seorang security dengan kumis lebat bertanya ragu.
Dan voila. Pertanyaan tersebut lantas berhasil menyadarkan Aruna bahwa ia baru saja salah bicara.
'Ya kenapa juga barusan gue bilang anak?!' rutuknya dalam hati.
Nasi sudah menjadi bubur. Kalau ia terdengar tidak konsisten, kedua security di hadapannya ini pasti akan lebih curiga, kan? Maka, Aruna menyahut, "Iya, ini anak saya, Pak. Bapak-bapak kenal saya, kan? Familier kan sama muka saya?"
Kedua security tersebut melepaskan cengkeramannya pada lengan Sean. Aruna pun cepat-cepat menarik lengan baju Sean agar cowok itu mendekat ke arahnya.
"Maaf, Mbak. Kami nggak tau. Habisnya anak Mbak mencurigakan sih. Ditanya keperluannya apa, KTP-nya mana, cari siapa, semua nggak bisa dijawab. Mana udah berjam-jam cuma mondar-mandir di lobi. Maaf-maaf nih, Mbak, bikin resah satu lobi." Kali ini, ganti security bertubuh cungkring yang menjelaskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sugar Auntie
RomanceOpen Pre-Order | PART MASIH LENGKAP!! "Minta uang." Aruna nyaris tersedak saat mendengar permintaan Sean barusan. Anak ini... apa tidak pernah belajar yang namanya basa-basi? "Hah? Kamu pikir saya ini bapak moyang kamu apa? Seenaknya aja minta uang...
