Hari libur bukanlah hari yang mengasikkan dimata Aletha terlebih misteri di tangannya belum di pecahkan. Ibunya pandai memecahkan teka-teki, masa dirinya tidak sama sekali memiliki bakat seperti ibunya. Aletha tau persis permasalahan ini adalah masalah keluarganya yang tak mungkin ia tunjukkan kepada siapapun. Gadis itu memutuskan pergi sendirian menuju Diagon Alley.
Menuju sebuah toko antik yang menjual banyak benda benda aneh Aletha menemui seorang pria yang sering disebut sebut sebagai seorang ahli tafsir barang dan kegunaannya. "Permisi sir.. aku berniat menjual cincin ini"
Basa basi Aletha agar tak dicurigai si pemilik toko. "Coba ku lihat"
Ia menelaah cincin tersebut dengan presisi, "Darimana kau dapatkan cincin ini nak?"
"Dari ibuku sir, memangnya ada apa dengan cincin itu?"
"Cincin ini sudah mengikat jiwa seseorang yang masih hidup. Aku tak mau orang itu mati, jadi aku kembalikan" pria itu benar benar mengembalikan barang tersebut. "Apa maksudmu sir, aku tak mengerti"
"Kembalikan cincin ini kepada ibumu nak, pastikan ia memakainya kembali dan jangan di lepas sampai akhir hayatnya" terang pria itu berusaha mengusirnya. "Tolong sir jelaskan padaku, sihir apa yang ada di dalam cincin ini? Aku hanya ingin menjualnya untuk biaya ibuku berobat karena sakit"
"Sihir kuno nak, ibumu sudah terikat dengan cincin ini dengan seseorang yang menjadi cinta pertamanya. Dan yang melakukan itu bukan mereka berdua" jelas sang pria karena iba melihat gadis itu berpasrah diri.
"Lalu siapa yang melalukan itu?"
"Mereka yang dekat" pria itu memberikan sedikit jawaban atas teka teki yang terjadi. "Aletha!!"
Jantungnya serasa berhenti berdetak, ia tertangkap sang ibu sedang pergi berkeliaran sendirian. "Bagaimana kau ada disini? Apa ayahmu tau?"
Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya. "Apa yang mommy lakukan di sini?"
"Mengatasi beberapa benda sitaan yang perlu dipastikan lebih dulu sebelum dibawa ke Gringotts" balas Elinor dengan santai. "Bersama uncle Karl?"
"Iya sayang" Elinor mengusap pundak putrinya. "Kau mau ikut? Kau akan mommy antar pulang setelahnya.."
Aletha mengangguk mengikuti apa yang ibunya arahkan. Ikut ke bank sihir dan melihat banyaknya harta yang ibunya punyai. Ia tercengang karena semua itu karena hasil kerja jeri payah ibunya sendiri.
Elinor terbatuk tanpa sengaja, ia menutup mulutnya dengan tangan. Ia melihat darah segar keluar dari mulutnya. Karl melihatnya sendiri, ia langsung memberikan saputangan miliknya untuk wanita itu dan berbisik, "Kita harus ke St. Mungo's El, kau semakin memburuk"
"Tidak perlu sir, aku baik baik saja"
Semua urusan selesai, Aletha diantar pulang oleh ibunya. Elinor menyempatkan diri menemui suaminya yang sudah tidak ia akui lagi. "Elinor.."
Wajahnya tampak pucat, lebih dari biasanya. Ia terbatuk, mulutnya bersimbah darah. Dengan cepat Elinor menghilangkan darah itu dari wajah suaminya. "Severus.. kau baik baik saja?"
Ia menggeleng, tentu saja ia tidak baik baik saja, dirinya merasakan sakit selama beberapa bulan ini dan semakin parah setiap ia mengingat wanita di hadapannya sekarang. "Kau harus berobat Severus"
"Bersamamu Elinor.." ia pasrah lagi, keduanya pergi menuju St. Mungo's, keduanya melakukan pemeriksaan hingga sang penyembuh membuka suara. "Inti sihir bapak dan ibu semakin rapuh, seperti terkena sihir pengikat yang saling dijauhkan sehingga tubuh melakukan pemberontakan yang mengakibatkan kalian berdua mengalami gejala yang sama"
"Kami tak melakukan pengikatan itu healer" Severus buka suara, ia tak terima Elinor sakit karena hal sepele ini juga sebab dirinya. "Aku tak tau pasti Mr. Snape darimana semua ini bermula, yang pasti cara terbaik untuk mengobati semua ini adalah memperbaiki keretakan yang ada. Aku yakin masing masing dari kalian tau maksudku"
"Aku akan memberikan resep untuk masing masing kalian"
•וווווווווו×
Kembali ke kediaman keduanya, Severus memaksa untuk Elinor tidak pergi meninggalkannya sendirian karena ia membutuhkan Elinor sepenuhnya, kekosongan hatinya yang tidak pernah bisa di penuhi kecuali dari sang kekasih hati yang sesungguhnya. "Elinor tetaplah di sini bersamaku.."
"Aku harus pergi Severus, kau bisa meminta Amartha tinggal bersamamu disini, aku akan kembali mengantarmu periksa kesehatan mu lagi ke St. Mungo's" Severus meraih tubuh itu dengan cepat, membuatnya terkepung pada lemari buku buku usangnya. "Jangan tinggalkan aku lagi, aku tak bisa hidup tanpamu Elinor"
"Kau sudah membuktikan padaku kau bisa hidup tanpaku bertahun tahun Severus.. kau mampu" Elinor memberontak ia berusaha semaksimal mungkin untuk terlepas dari pria itu. Severus melumat bibirnya penuh kelembutan, ia merindukan asih yang selalu wanitanya pancarkan hanya kepadanya.
"Jangan!! Jangan pernah kau berani beraninya menciumiku lagi! Kau sudah memberikan milikmu kepada wanita lain yang bukan aku! Jangan pernah memohon lagi untuk mendapatkan aku Snape, karena itu tidak mungkin akan terjadi!" Air mata itu menggenang di pelupuk matanya, ia tak ingin arti kelemahan itu menetes di hadapan pria bajingan itu lagi.
"Kau pergi lebih dulu meninggalkanku" Severus membuat langkahnya terhenti, "Ya, aku pergi lebih dulu.. tapi kau jauh pergi lebih dulu dari dalam kepalamu sebelum aku sepenuhnya pergi."
וווווו×
⚠️
Ciuman Severus membuatnya membayangkan banyak hal rancu yang ingin ia lakukan bersamanya. Mendalami lumatan itu, merasakan belaian Severus mengenai tubuhnya, meremas payudaranya bermain pada putingnya. Semua khayalan itu menggema di kepalanya.
Elinor berlari di lorong gelap kementerian, menuju toilet. Memberikan mantra perlindungan dan membuatnya menjadi kedap suara hanya pada biliknya sendiri. Elinor merasakan semua kehangatan itu hanya ada di dalam kepalanya, mendengar suara pria itu memohon kepadanya berkali kali membuatnya semakin terbuai, ia bermain sendiri.
Memejamkan matanya, meremas salah satu gundukkannya dengan jemarinya yang bergerak cepat pada inti dimana kenikmatan itu ia rasakan saat ini. Rasanya Severus sedang memberikan seluruhnya, akan cinta akan kasih, perlindungan dan perhatiannya yang hanyalah tercurah padanya. "Ahh.. yess"
Elinor mendengar suara Severus berbisik padanya, "Yes.. Elinor ehm.. fuck me!"
"Right there Severus, right there!"
"Akhh.. Severushh!" Dia mencapainya, Elinor mencapainya dengan menjamah dirinya sendiri ditengah kesendiriannya. Membuka matanya, ia hanya berhadapan dengan ruang hampa seorang diri.
Kepedihan akan kerinduannya terasa menyakitkan, "Severus.. I miss you"
TBC
Chapter tersakit si yang pernah author buat selama ini, pedih nya berasa sungguhan :"
Jeda sejenak ya
KAMU SEDANG MEMBACA
THE WAY
Fantasi" Siapa kau? " " Aku Severus Snape, suamimu sayang. " . . Sometimes added adult stories [ NOT FOR CHILD ] ⚠️ FOR 18+ 21+ Start : 18 Febuari 2021 End : -
